Part 55 ( Cemburu Kecil )

82 5 0
                                        


Rumah kembali tenang setelah Mikail tertidur pulas di kamarnya. Nafas kecilnya terdengar teratur, membuat Salma menutup pintu kamar perlahan agar tak mengganggu tidur si kecil.
Di dapur, Salma mulai menyiapkan makan siang sederhana. Ia bergerak pelan, sesekali melirik jam dinding.

Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tampak lelah tapi damai.
Pisau baru saja menyentuh talenan ketika dua lengan kuat tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Salma terkejut kecil.
"Mas..."
Ridho menyandarkan dagunya di bahu Salma, memeluknya dari belakang dengan erat tapi lembut. Nafasnya hangat, suaranya rendah.
"Capek ya, sayang?"
Salma menggeleng pelan, tapi tubuhnya justru melemah di dalam pelukan itu. "Sedikit."

Ridho mengeratkan pelukannya, seolah ingin memindahkan seluruh lelah Salma ke tubuhnya sendiri. Tangannya bertaut di perut Salma, ibu jarinya mengusap pelan, menenangkan.
"Kamu hebat," bisik Ridho. "Dari pagi ngurus Mikail, masih sempat masak."
Salma tersenyum kecil. "Mas juga. Ayah siaga."
Ridho tertawa pelan, lalu mengecup sisi kepala Salma. Tidak terburu-buru, tidak berisik. Hanya sentuhan yang penuh makna.

Dekat Tanpa Kata
Ridho tidak melepaskan pelukan itu. Ia tetap di sana, memeluk Salma seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Salma memejamkan mata sesaat, menikmati kehangatan yang jarang ia sadari betapa ia butuhkan.
"Mas," Salma berbisik, "aku senang."
Ridho menunduk sedikit, bibirnya mendekati telinga Salma. "Kenapa?"
"Karena sekarang... rumah rasanya lengkap."
Ridho terdiam. Pelukannya menguat, napasnya sedikit tertahan. Ia mengecup leher Salma pelan, bukan dengan nafsu yang tergesa, tapi dengan rindu yang tertahan lama.
"Aku juga," jawabnya lirih. "Pulang ke sini selalu bikin Mas merasa utuh."
Salma memutar tubuhnya perlahan, kini menghadap Ridho. Jarak mereka sangat dekat. Ridho mengangkat tangannya, merapikan anak rambut Salma yang jatuh ke pipi.

Tatapan mereka bertaut lama, penuh perasaan yang tak perlu dijelaskan. Ridho menunduk, mengecup kening Salma, lalu hidung, lalu berhenti sejenak,memberi waktu, memberi ruang.
Salma tersenyum tipis, jemarinya mencengkeram kaus Ridho.
Keintiman yang Tenang
Ridho memeluk Salma lagi, kali ini wajah Salma bersandar di dadanya. Detak jantung Ridho terasa jelas, menenangkan.
"Mas di sini," ucap Ridho pelan. "Selalu."
Salma mengangguk kecil, tangannya melingkar di punggung Ridho. Tidak ada janji besar, tidak ada kata manis berlebihan. Hanya kehadiran yang nyata.

Di dapur kecil itu, di antara aroma masakan dan keheningan siang, cinta mereka terasa paling jujur-dewasa, hangat, dan dalam.
Dan bagi Salma, pelukan itu sudah lebih dari cukup.

___

Makan siang itu sederhana. Tidak ada menu istimewa, hanya masakan rumahan yang hangat. Nasi putih, sayur bening, dan lauk kesukaan Ridho. Salma menata semuanya di meja makan kecil dekat jendela.
Ridho menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Salma. Sebelum mulai makan, ia menatap piringnya sebentar lalu tersenyum.
"Masakan Mama selalu bikin Mas lupa capek."
Salma tertawa kecil. "Baru juga duduk udah gombal."
"Bukan gombal. Fakta," jawab Ridho sambil mulai makan.

Salma ikut menyendok nasi, matanya mengamati Ridho yang makan dengan lahap. Ada rasa puas kecil melihat itu.
"Mas masih pegal?" tanya Salma pelan.
"Sedikit," jawab Ridho jujur. "Tapi jauh lebih mendingan. Apalagi makan bareng kamu gini."
Salma menggeleng kecil, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Obrolan Ringan

Mereka makan sambil berbincang pelan, menjaga suasana tetap tenang agar tidak membangunkan Mikail.
"Mas tau nggak," kata Salma tiba-tiba, "sekarang aku suka momen-momen kayak gini."
Ridho menatapnya. "Kenapa?"
"Soalnya rasanya... normal. Damai. Nggak ribet."
Ridho tersenyum. "Mas juga. Dulu mikir bahagia itu harus besar-besaran. Sekarang ternyata cukup makan siang bareng istri."
Salma berhenti makan sebentar. "Mas makin romantis sejak jadi ayah."
Ridho tertawa kecil. "Atau Mas baru sadar caranya."

S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang