Part 53 ( Kemenangan)

101 6 0
                                        

Pagi itu stadion Gelora Bung Tomo sudah ramai. Suara drum, terompet, dan yel-yel suporter mengisi udara. Warna hijau dan putih bercampur, menciptakan lautan manusia yang penuh semangat.

Ridho berjalan menuju ruang ganti, napasnya teratur, meski sedikit deg-degan. Seragam Persebaya terasa pas di tubuhnya, sepatu dikencangkan dengan rapi.
Di ruang ganti, rekan-rekannya mulai bersiap. Bruno Moreira mendekatinya dengan senyum lebar.
"Ah, Ridho! Lama nggak liat kamu main di sini. Siap bikin chaos di lini belakang, ya?"

Ridho tersenyum tipis. "Masih sama, Bruno. Fokus pertahanan."
Ernando menepuk punggung Ridho sambil bercanda, "Jangan bikin striker Persija santai. Mereka jangan sampai lolos!"
Ridho tertawa pelan. "Tenang, Mas. Ayah center back tangguh, ingat?"
Semua tertawa kecil, suasana sedikit mencair, meski ketegangan tetap terasa.
Pemanasan dan Fokus
Ridho melakukan pemanasan ringan. Setiap gerakan dikontrol, pahanya masih terasa tegang, tapi adrenaline mulai mengalir. Pelatih menghampirinya.
"Ridho, inget instruksi tim medis. Jangan paksakan tekel kalau terasa sakit," kata pelatih.
Ridho mengangguk. "Siap, Coach. Mas akan main cerdas, bukan gegabah."
Suara wasit terdengar, pemain mulai masuk ke lapangan. Sorakan suporter makin keras. Ridho berdiri di posisi center back, matanya fokus ke lawan, tubuh siap membaca setiap pergerakan.

Kick-off
Peluit panjang berbunyi. Laga dimulai. Persebaya menguasai bola beberapa menit pertama, tapi Persija mulai menekan. Ridho bergerak lincah di lini belakang, memotong umpan, menutup ruang, dan sesekali memberi arahan pada rekan setim.
Bruno berteriak dari sayap,
"Ridho! Tutup sisi kanan, ada ruang!"
Ridho menoleh, menyesuaikan posisi, menghadang striker Persija yang mencoba masuk kotak penalti. Satu tekel bersih membuat bola kembali ke arah gelandang Persebaya.
Setiap kali striker lawan mendekat, Ridho sigap. Paha masih terasa kaku, tapi fokusnya tidak tergoyahkan.
Bruno Moreira mendekat, memberi kode dengan gestur tangan. Ridho tanggap, mengatur lini belakang dengan tenang.

Setengah Waktu Pertama
Sorak stadion makin menggila. Beberapa peluang berhasil digagalkan Ridho. Pelatih memberi isyarat, Ridho menyadari batas kemampuan pahanya. Ia sedikit menurunkan tempo gerak, tetap menjaga ketat setiap pemain lawan yang berbahaya.

Di pinggir lapangan, suporter meneriakkan nama Ridho, "Ri-dho! Ri-dho! Ri-dho!"
Ridho tersenyum tipis, mengangkat kepala, memberi salam kecil. Semangat itu terasa membakar motivasi, membuatnya lupa sedikit rasa sakit di pahanya.

__

Menit ke-65, skor masih 0-0. Persebaya menahan serangan Persija dengan disiplin, tapi tekanan lawan makin intens. Ridho berdiri tegak di lini belakang, matanya tajam, membaca setiap gerakan striker lawan.
Ernando berteriak dari Gawang, "Ridho! Tutup ruang tengah! Jangan kasih celah!"
Ridho bergerak cepat, menutup sisi yang hampir ditembus striker Persija. Dengan tekel bersih, ia memotong bola, mengirimkan umpan pendek ke gelandang.
Bruno Moreira menepuk punggungnya sambil tertawa kecil, "Nah itu baru center back tangguh, Ridho!"
Ridho tersenyum tipis tapi matanya tetap fokus. Paha kanannya masih terasa ketarik, tapi adrenaline dan sorak suporter membuatnya bertahan.
Serangan Berbahaya

Persija berhasil menguasai bola di kotak penalti Persebaya. Striker lawan menembus lini belakang. Ridho mengambil posisi, menutup sudut.
"Jangan biarin dia tembak, Ridho!" teriak pelatih dari pinggir lapangan.
Ridho mengatur napas, lalu dengan sigap melakukan clearance. Bola melambung tinggi ke udara dan diterima gelandang Persebaya. Sorakan stadion meledak.
Bruno menepuk bahunya, "Mantap, Ridho! Itu baru nama center back!"
Ridho tersenyum tipis, lalu menepuk dada sendiri. "Masih harus fokus, belum selesai."

Momen Penentuan
Menit ke-82, Persija melakukan serangan balik cepat. Ridho membaca jalannya dengan insting, maju sedikit untuk memotong bola di garis tengah. Ia berhasil merebut bola dan melepaskan umpan panjang ke sayap, memulai serangan balik Persebaya.
Ernando berlari mengikuti bola, siap mengeksekusi peluang. Ridho kembali ke posisi, memastikan lini belakang aman.

Peluit wasit sesaat berbunyi untuk foul di tengah lapangan. Ridho menunduk, menarik napas. Paha masih terasa kaku, tapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan.

Sorak Suporter yang Menguatkan
Stadion penuh warna hijau dan putih. Suara drum dan yel-yel membuat Ridho merasakan energi berbeda. Setiap kali ia berhasil menutup ruang, melakukan tekel bersih, atau mengatur lini belakang, sorak semakin keras.
Bruno berteriak sambil menunjuk ke Ridho, "Lihat tuh! Ridho center back tangguh kita!"

Ridho tersenyum, menatap tribun. Di sana, ada Salma dan Mikail yang menonton dari VIP box. Bayi itu masih digendong Salma, terlihat tenang.
Ridho menepuk dada pelan, berkata lirih, "Ayah masih kuat. Demi kalian."
Sorak suporter seakan menjadi energi tambahan. Ridho tahu, menit-menit terakhir ini sangat krusial. Satu kesalahan kecil bisa merubah hasil laga.

Menit-menit terakhir laga. Skor masih 0-0, dan Persija semakin menekan. Ridho berdiri di lini belakang, napasnya teratur tapi penuh fokus. Paha kanannya masih terasa agak kaku, tapi semua rasa sakit terkalahkan oleh tekad.
Malik Risaldi berlari dari sisi sayap, menembus pertahanan lawan, tapi Ridho sudah membaca jalur serangan. Ketika striker Persija mencoba menembus kotak penalti, Ridho maju cepat. Dengan timing sempurna, ia melakukan tekel bersih, memotong bola dan mengamankan pertahanan.

Sorak stadion meledak. Bruno Moreira menepuk pundaknya, berteriak, "Itu dia, Ridho! Center back tangguh kita!"
Ridho tersenyum tipis, menepuk dada sendiri. "Masih harus fokus, belum selesai," gumamnya.

Serangan Balik Penentu
Setelah tekel itu, Ridho segera mengirim umpan panjang ke sayap kanan. Bola diterima Malik yang langsung menembus pertahanan Persija. Dalam hitungan detik, peluang emas tercipta.
Ridho kembali ke posisi, memastikan lini belakang aman. Peluit wasit bersahutan, setiap gerakan menjadi kunci.

Whistle Akhir
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Laga usai, Persebaya menang tipis 1-0. Ridho menarik napas lega, menatap rekan-rekannya yang mulai berlari ke tengah lapangan.

Bruno Moreira menepuk punggungnya sambil tertawa, "Mantap, Ridho! Ayah di belakang, aman semuanya!"
Ridho tersenyum, melihat tribun penuh suporter yang meneriakkan namanya. Ia menatap ke arah VIP box dan melihat Salma menggendong Mikail, tersenyum bangga.

Dengan langkah hati-hati, Ridho berjalan ke tengah lapangan, mengangkat Mikail di pelukannya. Sorak suporter pecah, kamera menangkap momen itu dari berbagai sudut.

Sambutan Hangat Rekan-rekan
Beberapa pemain Persebaya menghampirinya. Malik Risaldi tersenyum lebar. "Ayo Ridho, ini kemenangan kita semua!"

Bruno Moreira menepuk punggungnya lagi. "Kamu luar biasa hari ini, Ridho!"
Ridho membalas senyum hangat itu, sambil menatap Mikail yang tertidur pulas di dadanya. "Ayah cuma bantu kalian di belakang, Nak," gumamnya lembut.

Suara drum, yel-yel suporter, dan lagu Song for Pride terdengar menggemuruh di stadion. Semua pemain bergabung, menyanyikan lagu itu bersama, menciptakan momen kebersamaan yang emosional.
Ridho menatap Salma, lalu berkata lirih, "Terima kasih sudah selalu ada, sayang."
Salma hanya tersenyum hangat, menepuk tangannya. Malam itu, Ridho tahu kemenangan bukan hanya soal laga, tapi juga tentang keluarga, rekan, dan cinta yang selalu menyertai langkahnya.

Kalo ada kata-kata yang membingungkan atau alur yang kurang nyambung bilang ya guys, soalnya aku ngetiknya sambil ngantuk😁😁❤️

S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang