Part 43 ( Kembali Pulang )

224 7 2
                                        

Pagi itu, suasana rumah orangtua Ridho di Surabaya terasa begitu hangat. Udara lembut menyusup dari jendela besar ruang tamu, membawa aroma kopi dan roti yang baru saja dipanggang oleh Mama Ridho.
Salma tampak duduk di kursi rotan, menggendong kecilnya, Mikail Sagha Biru Alaska, yang tengah terlelap di pelukannya.

Ridho baru saja turun dari lantai atas, mengenakan kaos putih dan celana santai. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia berjalan pelan menghampiri Salma dan anaknya, lalu menatap keduanya dengan penuh cinta.

> “Sayang, sudah sarapan?” tanya Ridho lembut, duduk di samping istrinya.

Salma menggeleng pelan sambil tersenyum.

> “Belum, Mas. Lagi nungguin Mikail bangun dulu. Nanti bareng aja, ya.”

Ridho tersenyum, menatap bayi kecilnya dengan kagum.

> “Masih gak nyangka ya, Sayang... sekarang kita udah punya Mikail. Dulu kita cuma bisa ngobrol soal masa depan, sekarang malah udah di sini.”

Salma tersenyum hangat, matanya sedikit berkaca.

> “Iya, Mas. Tuhan baik banget sama kita.”

Mama Ridho keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh panas.

> “Nah, kalian berdua ini, dari tadi mesra aja. Nih, minum dulu. Teh hangat biar gak masuk angin.”

Ridho dan Salma sama-sama mengucap terima kasih. Mama duduk di kursi seberang mereka sambil menatap cucunya dengan tatapan penuh kasih.

> “Mikail mirip banget sama kamu waktu kecil, Do,” ujar Mama sambil tertawa kecil.
“Lihat pipinya, tuh. Sama persis.”

Ridho ikut tertawa, sementara Salma menatap mereka dengan bahagia.

> “Iya, Ma. Tapi matanya kayak Salma,” sahut Ridho sambil melirik istrinya.

Mama mengangguk.

> “Iya, bener juga. Matanya teduh banget. Semoga nanti besar jadi anak yang sabar dan bijak, kayak bapaknya.”

Suasana menjadi tenang dan penuh kehangatan. Tak ada lagi tegang, tak ada lagi jarak. Semua luka yang sempat ada seolah benar-benar sembuh di bawah atap rumah ini.
Ridho merasa damai — seperti akhirnya pulang setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Dari ruang tengah, terdengar suara tawa renyah — Althaf, adik Ridho yang baru berusia sembilan tahun, sedang bermain mobil-mobilan sambil sesekali menggoda Mikail.

> “Mas Edho, Mikail kok tidur terus sih? Adek pengin main sama dia,” keluh Althaf sambil manyun.
“Nanti kalau udah gede, bisa main bola bareng, ya,” jawab Ridho sambil mengusap rambut adiknya.

Salma menatap mereka sambil tersenyum kecil. Memandang kedekatan Ridho dan Althaf membuat hatinya terasa hangat. Ia tahu keluarga ini tulus menerimanya.

Setelah sarapan, suasana menjadi lebih tenang. Mikail tertidur di pelukan Mama, sementara Althaf sibuk menonton kartun di ruang tamu.
Ridho menatap Salma sekilas — memberi isyarat.
Salma mengangguk pelan. Ini saatnya.

Ridho duduk di depan kedua orangtuanya dengan wajah sedikit tegang.

> “Ma, Pa… ada yang pengin Ridho dan Salma sampaikan.”

Papa Ridho yang sedang membaca koran menurunkan kacamatanya.

> “Apa, Dho? Kok serius amat mukanya?”

Salma duduk di samping Ridho, menunduk sebentar sebelum akhirnya ikut bicara.

> “Kami berdua… berencana untuk kembali ke rumah kami, Ma, Pa. Rumah yang di dekat stadion itu. Kami rasa sudah waktunya untuk mulai hidup mandiri lagi.”

S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang