*ALI POV*
..Malam hari..
Aku menunggu nunggu kabar dari Marsha namun hasilnya nihil. Seminggu belakangan ini Marsha tak pernah menghubungi ku lagi. Aku selalu menghubungi nya, namun nomornya selalu tidak aktif. Sekali aktif nya nomor handphone dia gk pernah angkat telvon ku.
Tiba tiba aku teringat sosok prilly. Prilly mana ya? Kok dari tadi gk keluar keluar? Apa dia masih marah karena ulah ku tadi pagi? Duuuh... Aku jadi cemas cemas basah nih?
Aku selalu bicara sendiri di ruang tamu sambil membolak balik HP ku. Ingin sekali aku mengetuk pintunya. Kalau dia kenapa kenapa gimana? Aduuhh prilly... Keluar dong.
Karena tingkat kecemasan ku sudah memuncak, aku langsung meniti anak tangga satu persatu hingga sampai ke ambang pintu kamar prilly. Lama sekali aku berdiri disana. Aku takut, dengan adanya aku di depan kamarnya prilly semakin marah.
Aku mencoba untuk mengetuk pelan pintu kamar prilly. Hingga ketukan pintu yang ke empat, prilly baru memanggil nama ku Dengan sangat pelan. Aku semakin khawatir.
"Prill...."
"..."
"prilly..."
"Prilly..."
" Prill..."
"Aliii.." Panggil prilly pelan tetapi aku masih mendengarkannya.
"Iyaa.. Ini gue. Lu gpp kan? Kenapa gk keluar dari tadi?"
"..."
"Prill...aku masuk yaaa"
Aku membuka pintu kamar prilly dengan pelan dan kembali menutupnya. Betapa kagetnya saat melihat prilly yang terbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang sudah memucat. Bukan hanya itu, aku juga melihat prilly menggigil.
"Ya Allah.. Prill.."
"Ali....." Dia memanggil nama ku pelan, namun ada tetesan air yang sudah mengalir di ujung matanya.
"Iyaa..lu kenapa? Jangan nangis" ucapku cemas menepis air matanya dengan sayang.
Dia menggenggam tangan ku. Terasa sekali tangan nya yang dingin dan gemetar.
"Ya Allah, sekarang kita ke rumah sakit ya" aku mengelus pelan pipinya.
Ntah hal apa yang membuat ku terpukul melihatnya lemah tak berdaya seperti ini. Aku lebih suka prilly yang selalu cerewet, yang selalu marahi aku, yang selalu tingkahnya membuat aku gemes. Tapi hari ini tingkahnya membuat aku ikut melemah tak berdaya. Ingin sekali aku menangis. Aku sebagai laki laki di rumah ini tidak bisa menjaga satu orang gadis ku yang satu atap dengan ku. Aku tak mengerti dengan perasaan ku, mungkin ini hanya sebatas sahabat.
Dengan cepat aku menggendong tubuh mungilnya. Kulitnya menyentuh kulitku. Di dalam taxi, prilly terus menggigil. Tubuh prilly saat ini dingin dingin panas. Aku sungguh cemas.
"Alii.." Dia memanggil dengan sangat pelan.
"Ya, sebentar ya? Kita dijalan mau Kerumah sakit" balas ku pelan sambil mengelus pelan pipinya.
Saat ini posisi prilly masih di atas tubuhku. Seperti anak bayi yang sedang di gendong ibunya.
"Ali.... Di..dingin.." Ucap nya sekali lagi dengan gugup dan penuh menggigil.
"Dingin?"
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Dengan cepat aku mengeratkan pelukan ku, menempelkan pipi ku dengan pipinya. Aku mencium lehernya yang sungguh panas sekali. Dia mendekap tubuhku dengan begitu erat. Ingin sekali aku menangis melihat kondisinya saat ini. Aku terus mengelus punggungnya. Ya Allah nyaman sekali di saat seperti ini. Aku merasa hatiku gemetaran saat memeluk prilly. Mungkin hatiku merasa gugup. Tetapi aku mencoba menetralkan nya semaksimal mungkin.
Begitu sampai di rumah sakit. Aku langsung berteriak memanggil suster, perawat dan dokter untuk segera menangani wanita yang saat ini masih dalam dekapan ku. Aku tak henti hentinya bicara agar prilly secepatnya di sembuhkan dengan bahasa internasional ku.
Untung saja penanganan kesehatan di New York ini tidak selelet di Indonesia. Aku menunggunya di luar. Tak hentinya aku mondar-mandir di depan pintu ruang prilly dengan jemari ku yang selalu ku gigit. Aku sungguh cemas. Aku bingung. Apa aku hubungi saja orang tuanya disana? Tapi ntar, orang tuanya pasti sangat cemas.
Satu orang perawat keluar dari ruangan itu dan menghampiriku.
"Your wife is currently Suddenly unconscious. but we've handled it well"
Ucap perawat itu. Aku sedikit mengernyitkan kening mulus ku saat ia bilang prilly istriku. Tapi aku tidak ambil pusing.
"What? He was unconscious? until when he like this?" Balas ku lagi lagi aku sangat mencemaskan nya.
"yes, it's likely your wife will soon unconscious. You calm down"
Ucap perawat itu dengan senyum sambil memukul pelan lengan ku.
"okay okay, what I can get in now?"
"yes, you are allowed in to visit your wife. wife is so pretty" ucapnya memuji prilly dan kembali tersenyum.
"Oh okay !! So thanks.. Thank you"
Ucapku tersenyum.
"Yeah.." Dan dia langsung meninggalkan ku.
Aku langsung masuk kedalam ruang prilly dirawat. Disana masih ada dokter yang masih memperbaiki infus prilly. Prilly terbaring lemah dengan mata yang tertutup. Aku begitu terpukul. Aku menghampiri prilly dan langsung menggenggam tangan mungilnya. Dokter itu tersenyum dan langsung meninggalkan ku.
"Thanks dok"
"Yes.." Balas nya tersenyum dan keluar dari ruang ini.
Dalam genggaman kanan ku, dengan cepat tangan kiriku mengelus pipinya dengan sayang. Tidak tahu kenapa air mata ku tiba Tiba keluar dan meneteskan lengan mulus prilly. Dengan cepat aku menghusapnya.
STAI LEGGENDO
Makes love things beautiful
RomancePertemuan yang menyebalkan membuat hati Ali bremouli Dan Prilly queen semakin hari semakin menimbulkan rasa yang sulit di tentukan. Apakah ini cinta? Ingin tahu cerita lebih lanjut? Cammon gays.. Hanya di Alprillvers_story cerita ini berlansung !!
