Cia pov
Aku memutuskan pergi ke kantin karena aku ingin membeli jus untuk menetralisir panas yang ada di tubuhku. Setelah itu aku berjalan menuju taman dan duduk di bawah pohon rindang. Semilir angin menerpa badanku menciptakan sensasi segar untuknya. Aku meminum jus jeruk yang tadi aku beli guna menambah sensasi segar di badanku.
Aku melihat area sekitar yang dipenuhi oleh murid yang sedang berlatih atau sekedar duduk dan mengobrol. Tidak lama kemudian aku mendengar suara seseorang yang tadi membuatku kesal.
"Cia!". Teriaknya.
Aku menoleh sebentar setelah itu mengalihkan pandanganku.
"Sayang kok di sini?". Tanyanya setelah duduk di hadapanku, tapi sedikit menyamping.
"Soalnya gak di sana!". Sewotku.
Ia duduk santai dengan kaki diluruskan dan tangan kirinya menjadi tumpuan di belakang badan, sedangkan tangan kanannya menaikan baju atas untuk mengusap keringat yang ada di wajahnya. Kemudian ia mengulangi lagi hal yang membuatku kesal tadi. Tanpa rasa bersalah ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengibaskan bajunya sehingga terlihatlah perut seksinya itu.
"Teroosss.. teross aja kek gituuu!! Sekalian dibuka aja bajunya! Heran banget merasa gak berdosa sama sekali. Seneng pamer gitu? Seneng diliatin cegil-cegil yang kegatelan? Iyaa!!". Omelku.
"Hehe.."
"Nyengir lagi!". Kesalku.
Bisa-bisanya ia seperti itu disaat pacarnya sedang kesal seperti ini.
"Kenapa sih sayang marah-marah mulu?". Tanyanya.
"Serius masih tanya?". Tanyaku tidak percaya.
Rasanya malas sekali aku berbicara dengan orang ini. Lebih baik aku pergi dari sini.
"Eh.. sayang..". Ujarnya sambil menahan tanganku saat aku akan berdiri.
"Males aku tuh ngomong sama kamu. Pacarnya marah malah dibercandain"
"Maaf-maaf. Sini aja sama aku. Aku capek kalau harus jalan". Keluhnya.
"Maaf ya. Aku tau aku salah. Aku gak bermaksud buat pamer badan. Tadi gerah banget yang". Jelasnya.
"Aku tau kamu kegerahan, tapi gak usah dibuka gitu bajunya. Gak denger apa itu cegil semakin menggatal!". Kesalku.
"Iya maaf ya. Janji gak gitu lagi". Ujarnya.
"Hmm"
"Maafin ya.."
"Iya"
"Gak ikhlas maafinnya". Gumamnya, tapi masih bisa kudengar.
"Iya aku maafin. Tapi awas aja kalau sampai kamu gitu lagi!"
"Makasih sayang". Ujarnya seraya tersenyum manis.
"Kamu basah banget yang. Bawa baju ganti gak?". Ujarku sambil mengusap keningnya.
"Bawa, ada di tas. Ntar temenin aku ganti baju ya". Pintanya.
"Iya aku temenin. Mau sekarang?"
"Nggak nanti aja. Aku masih capek". Ujarnya.
"Mau ini gak? sisa aku. Aku cuma beli satu". Tawarku sambil memberinya jus jeruk yang baru saja aku minum sedikit.
"Mau. Boleh aku habisin?"
"Boleh sayang"
"Makasih sayang"
Ia meminumnya tanpa menggunakan sedotan dan tak butuh waktu lama di gelas itu hanya menyisakan es batu saja.
"Nanti aku beliin ya"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Happiness
General FictionSequel Choice of My Heart dan My Enemy is My Love.
