Bab 37

12.4K 1K 56
                                        

Rani kembali berguling hingga tubuhnya terlentang, masih pukul delapan, secara otomatis dia belum bisa tidur. Tetapi yang membuatnya suntuk adalah, tidak ada yang bisa dilakukan, biasa setiap malam dia akan repot dengan Melani hingga bayi itu tertidur. Merepotkan, tetapi ketika tidak ada rasanya begitu kosong.

Hanya saja, tak sampai setahun lagi, Rani akan mengurusi dua bayi, dan hal itu serta-merta membuat Rani menangkupkan sebelah telapak tangan ke atas perutnya. Bayangan repotnya mengurusi bayinya dan Melani, juga kehadiran Guntur di sana membuat perut Rani teraduk serta pipinya memanas.

Lalu, beberapa bulan lagi, perutnya akan membuncit, Rani tak punya banyak daster atau dress dia pasti memerlukan beberapa. Astaga... mengkhayalkan hal itu saja sudah membuat wajahnya semerah tomat.

Rani kembali berguling dan menggigit bantalnya gemas. Tetapi setiap khayalan menyenangkan itu, selalu disertai perasaan risau. Mamanya tak mungkin tak akan menghubungi Rani lagi, ditambah Rani sudah berjanji akan pulang dua bulan lagi. Memang, dua bulan lagi Rani yakin perutnya belum terlihat buncit, hanya saja dia belum membicarakan tentang hal ini kepada Guntur, apa Guntur akan mengizinkannya? Bagaimana jika mereka ketahuan? Hati Rani semakin cemas ketika pikirannya terpaksa beranjak ke arah sana. Mamanya pasti histeris, Abangnya juga pasti akan menentang keras.

Lama kelamaan, dada Rani mengembuskan napas sesak, dan dia kembali memosisikan tubuhnya hingga terlentang.

Jangan pikirkan. Jangan pikirkan. Perintah otak Rani, tetapi isi kepalanya tetap saja penuh akan berbagai kemungkinan terburuk.

Mata Rani langsung mengarah ke pintu saat terdengar decitan daun pintu. Rani serta-merta memeluk guling di sebelahnya dan berpura tertidur.

Malam ini dia ingin sedikit jual mahal, dia masih menyisakan sedikit rasa kecewa atas tindakan Guntur tadi pagi. Pemikiran itu lantas membuat senyum Rani tersungging. Dia jadi penasaran apa yang akan Guntur lakukan kalau Rani cuek? Apakah ini terkesan memanfaatkan? Biarkan saja, dia ingin Guntur memperhatikannya tanpa perlu Rani berusaha lebih.

Rani masih menunggu dengan mata memejam rapat-rapat, takut kalau-kalau secara tak sadar dia malah membuka mata dan mengintip ke belakang. Akan tetapi, berselang beberapa menit tetap tak ada pergerakan. Bahkan tak ada ranjang yang bergoyang.

Apa yang dilakukan Guntur sebenarnya? Kenapa pria itu diam saja? Atau jangan-jangan yang masuk tadi bukan Guntur??

Dingin merambati ke tengkuk Rani, seketika matanya terbuka, dan menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa. Bahkan pintu sudah tertutup rapat.

Rani langsung bergidik, dan bulu kuduknya semakin meremang. Serta-merta Rani beranjak turun dan keluar dari kamar.

Guntur ikut tersentak mendapati Rani yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.

"Ada apa?" tanya Guntur khawatir.

"Tadi Abang ada masuk ke kamar??"

"Iya."

"Astaga! Abang ngapain sih? Nakut-nakutin aja."

"Memangnya aku ngapain?" tanya Guntur heran. Dia hanya masuk sebentar untuk mengecek Rani.

"Ya Abang ngapain tiba-tiba masuk terus keluar lagi nggak ada suaranya?"

"Aku kira kamu sudah tidur, jadi aku keluar pelan-pelan."

Napas Rani mengembus dengan bibir mengerucut. "Ya terus kenapa Abang keluar lagi? Kenapa nggak langsung tidur aja?" ups! Astagaa... padahal Rani sudah berjanji akan jual mahal malam ini.

"Ya karena aku belum mau tidur."

Wajah Rani langsung berubah datar, dengan kesal dia kembali ke kamar.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang