Bab 36

11.4K 1K 36
                                        

"Ran... Rani..."

Dahi Rani mengernyit mendengar suara-suara yang terdengar begitu jauh.

"Coba kasih lagi, Bang."

Kening Rani bertambah berkerut saat bau aneh menusuk indera penciumannya.

Perlahan Rani membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Guntur yang tampak sangat cemas. Dia menatap Guntur sedikit lebih lama tanpa mengerjap, pembicaraan terakhir mereka berkumpul di kepalanya, dan Rani sangat tidak suka jika dia kembali kepikiran soal itu. Dia ingin melihat Guntur di sini setiap harinya tanpa ada rasa cemas dan keraguan, bisakah?

"Bangun, Bang?" itu pasti celetukan Ika.

Rani menoleh lemah. Melihat wajah Ika, sepertinya lebih baik Rani berpura-pura pingsan saja.

"Kasih minum, Bang."

Rani tak mempunyai daya apa pun untuk menjawab, dan dengan sukarela tubuhnya agak diangkat dan dua buah bantal disanggahkan ke punggung Rani. Rani diam, dengan pandangan yang lama kelamaan mulai fokus.

"Minum?" tanya Guntur dengan nada begitu pelan. Rani hanya diam, tapi pria itu tetap menyodorkan gelas ke Rani, dan Rani meminum beberapa teguk.

"Aku buatin teh panas ya?" celetukan itu kembali datang dari Ika.

Rani hanya melirik dan Ika sudah menghilang dari balik pintu kamar.

Tak lama Guntur pun bangkit. Rani yang masih lemah, hanya membeliakkan matanya, saat Guntur bergerak cepat keluar dari kamar.

Mau ke mana mereka?? pertanyaan itu menggedor hati Rani, namun sulit keluar dari mulutnya.

Ish... aku yang baru saja pingsan kenapa mereka malah keluar barengan? Apa yang mau mereka lakukan? Apa mereka berduaan?? Bola mata Rani berpendar was-was.

Wajah Rani percampuran pucat dan cemas. Saat akhirnya Guntur kembali masuk lebih duluan dari Ika, Rani langsung menghela napas lega.

Guntur kembali duduk di kursi meja rias dengan sebuah piring di tangannya. Tak lama Ika pun datang dengan segelas teh.

Ika masih berdiri di sana, membuat Rani sebal, dan hanya melirik malas.

"Diminum dulu Kak tehnya," ucap Ika.

"Ika, kamu jaga kedai saja," balas Guntur memecah hening, yang langsung disyukuri Rani.

"Iya Bang," sahut Ika dengan nada lemah lembut, yang langsung membuat Rani memutar bola mata.

Entah karena pengaruh hormon atau tidak, setiap melihat Ika, Rani bawaannya kesal saja.

Guntur lalu menyodorkan gelas teh buatan Ika tadi.

Rani hanya mencicip sedikit dan langsung memundurkan kepalanya.

"Kemanisan..." gerutu Rani. Apa Ika berniat membuat kadar gulanya naik??

Guntur langsung mengambil air mineral yang selalu tersedia di kamar Rani, dan menuangnya ke dalam gelas, hingga airnya sangat penuh.

Rani dengan sangat terpaksa kembali menerima sodoran Guntur ke mulutnya, saat kembali mencicipi. "Udah nggak panas lagi..."

Guntur menghela napasnya panjang. "Ya sudah makan saja dulu."

Guntur langsung mengambil piring yang tadi dibawanya. Rani menatap semakin kecut, isi piring itu pucat sekali, hanya ada bubur dan telur ceplok.

Guntur mengangsurkan sendok ke mulut Rani. Namun, Rani diam saja. "Pasti nggak enak," gumam Rani.

"Dimakan dulu, baru komentar."

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang