PART 14
Kadang kau harus meneladani matahari,
Ia cinta pada bumi, tapi mengerti.
Mendekat pada sang kekasih hati,
Justru membinasakan.
Pukul 07.00
Di SMA 36 JAKARTA
Maxim menggenggam sepucuk surat yang diterimanya dari Pinka, dibacanya dengan hati-hati surat tersebut. Dinda tidak masuk sekolah dengan alasan sakit, membuatnya khawatir terlebih lagi sejak tadi pagi handphonenya tidak bisa dihubungi. Ada apa sebenarnya dengan gadisnya itu. Dia melirik Rizky enggan, dia ingin bertanya padanya mengenai Dinda, tapi entah kenapa dia tak mau.
“Kalo mau ngomong, ngomong aja Max.” Rizky membuka percakapan, menyadari Maxim menatapnya dengan dahi berkerut.
“Dinda gak masuk, katanya sakit.”
Deg. Sakit? Hati Rizky berkecamuk. Apa itu karena pernyataannya tadi malam, apa gadis itu benar-benar sakit karena dirinya dan perasaannya. Sesalah itukah sebuah perasaan yang bahkan muncul tanpa bisa dipilih untuk siapa akan berlabuh? Dia menelan ludahnya.
“Oya? Gue juga baru tau dari lo.”
Maxim tak meneruskan pembicaraan itu, sebenarnya dari awal dia malas mengobrol dari Rizky, kalau bukan karena rasa khawatirnya dia hanya akan diam. Entah dari kapan perasaan tak nyaman tumbuh pada dirinya terhadap Rizky. Kehadirannya terasa begitu mengusik.
***
Pukul 09.00
Di rumah Dinda
Si Gadis yang dikhawatirkan oleh dua orang pria ini justru duduk melamun dibalkon kamarnya yang menghadap langsung ke balkon kamar Rizky, dia jadi teringat malam itu, ketika dia menelpon maxim dia beradu pandangan dengan Rizky yang berdiri dibalkonnya. Haaah, Kenapa nginget orang itu lagi?
Dia merasa pikirannya kacau, sekacau perasaannya yang tiba-tiba saja terbelah dua dan sama rata. Benaknya berkecamuk, tak ingin meninggalkan dan menyakiti Maxim, tapi juga sulit melepaskan perasaan yang baru tumbuh pada Rizky. Gila kan? Egois kan? Dia tahu, dan sadar diri.
TING TONG TING TONG!!!
“Siapa sih?”
Dengan jalan yang malas-malasan akhirnya Dinda turun untuk membukakan pintu bagi tamunya yang dia sendiri tidak tahu. Ibunya dan pembantunya sedang pergi berbelanja, tinggalah dia sendiri dirumahnya, jadi dia harus bertanggung jawab dirumah selama mereka pergi.
TING TONG TING TONG!!!
“Ia bentar…”
Dinda membukakan pintu, alisnya berkerut ketika melihat seseorang memakai helm berdiri didepan rumahnya, pakaiannya terlihat begitu casual. “Mau cari siapa?” Tanya Dinda heran.
“Ada kiriman…”
Lelaki berhelm itu menyerahkan sebuah kotak sedang yang dimaksudnya dengan kiriman. Dengan sangat hati-hati Dinda membuka kotaknya, senyum manis tersimpul ketika melihat isinya, setangkai mawar merah kesukaannya dengan secarik kertas yang tertempel bertuliskan “I LOVE YOU”. Ulah siapa ini?
“Dari siapa? Perasaan saya ga mesen bunga?”
“Dari aku buat kamu.” Ucapnya sambil membuka helmnya. Maxim tersenyum dengan sangat charming, Lelaki tampan dengan dengan wajah perpaduan Indonesia dan Prancis muncul dari persembunyiannya yang menggunakan helm. Lelaki ini tak pernah gagal membuat Dinda jatuh hati, berulang kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
"JATUH HATI"
FanfictionDunia mereka selalu berkutat antara keduanya. Perlahan berubah ketika sosok baru muncul ditengah cerita. Dinda bertemu dengan sosok baru bernama Rizky. Tak ada pertemuan tanpa sebuah keributan. Mereka lupa bahwa batas benci dan cinta sangat tipis. ...
