Mungkin Lara akan selamat dari hukuman gantung jika Mrs. Arletta tidak memeluknya--sebagai ucapan selamat karena Lara baru saja menyelesaikan tes pusakanya.
Alhasil, ibunya tahu pakaian Lara basah (Lara sudah mencoba mengeringkannya tetapi tetap saja tidak ada yang bisa ditutupinya dari kepekaan seorang ibu).
"Katakan dengan jujur, kau dari mana?" tanya Mr. Arletto tegas, keluarga Lara sedang berada di meja makan. Namun bukan untuk makan malam, melainkan melakukan persidangan kasus Lara--hal yang sudah lazim dilakukan keluarga Arletto begitu ada yang melakukan kesalahan.
Tahu begitu aku tidak akan memberi tahu mereka tentang pusakaku, pikir Lara penuh sesal. Ini sama saja seperti menguliti tubuh sendiri di depan ratusan vampir gelandangan.
"Hujan dan aku tidak membawa payung," alibi Lara, dia berjuang mati-matian mencari cara untuk terlihat meyakinkan.
Namun, usahanya sia-sia. Kedua orangtuanya jeli, sedangkan Nico hanya diam memandangi nasib kakaknya yang malang dan ceroboh.
"Jangan berbohong, Lara Arletta! Cuaca cerah di seluruh Buitenville." Mr. Arletto menatap tajam ke arah Lara yang membuat Lara membuang arah matanya ke sembarang arah, yang pasti bukan ke mata kedua orangtuanya.
"Mungkin ada seorang pengendali cuaca seperti Nico lainnya yang membuat hujan kecil dan secara kebetulan aku berada di sana." Lara tetap menyangkal omongan ayahnya yang sebenarnya memang fakta.
"Lara, dua kebohongan secara berturut-turut akan membuat hukumannya lebih berat."
Napas Lara tercekat, dia sudah tidak dapat menahan air matanya; dia menangis. Lara menyadari tindakan bodohnya yang seharusnya tidak pernah dia lakukan.
"Aku berselancar di Pantai Stellian dan aku sempat tenggelam, tetapi aku bisa bernapas dan berenang dengan cepat ke permukaan, lalu mencari daratan," jawab Lara jujur dengan sedikit pembelaan. "Aku hanya ingin mencoba pusakaku, tidak lebih."
Mrs. Arletta memeluk Mr. Arletto dan menangis, melihatnya membuat tangis Lara semakin menjadi. Dia menyesal telah membuat kedua orangtuanya kecewa.
Lara melirik Nico, tetapi Nico hanya menatap Lara nanar. Dalam kasus ini, Nico tahu Lara yang bersalah.
"Kau tahu Pantai Stellian terkenal dengan ombaknya yang besar?"
Lara mengangguk sambil terisak, tangisnya tidak bisa berhenti. Dia menutupi wajahnya dan tertunduk malu.
"Ayah tahu kau bisa bernapas di dalam air dan berenang dengan baik, itu sangat mengangumkan dan Ayah bangga padamu," ujar Mr. Arletto dengan tenang, tetapi Lara tahu setelah itu Ayahnya akan berkata sesuatu yang terdengar menyakitkan.
Tiga, dua, satu!
"Tetapi apa yang kaulakukan itu sangat berbahaya dan mengancam nyawamu sendiri. Kau masih harus banyak belajar bagaimana cara mengendalikan pusakamu dan kau baru pemula, Lara. Bagaimana pun juga alam lebih besar darimu," lanjut Mr. Arletto dengan panjang dan lebar, seperti rumus luas persegi panjang.
Dan Lara menyadari itu benar, dia salah. Lara tahu dirinya bersalah, salah besar.
Kesalahan yang fatal.
"Kau tahu kenapa pantai itu dinamakan Stellian?" tanya Mr. Arletto tenang, nada suaranya tidak setinggi sebelumnya.
Lara menggeleng pelan, tangisnya mulai berhenti. Namun, dia belum berani mengangkat kepalanya menatap ayahnya.
"Karena mereka berpikir itu adalah bentuk penghormatan untuk Stella Atletta yang meninggal akibat tenggelam di sana." bukan Lara saja yang terkejut, Nico juga ikut terkejut mendengar pernyataan ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystique Forest
Ficção Científica[SUDAH DITERBITKAN] Di masa depan, teknologi semakin maju. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru yang barangkali dinilai mustahil oleh peradaban manusia terdahulu. Salah satunya adalah manusia yang dapat hidup berdampingan dengan makhluk penghisap...
