#19 The Theory

27.6K 3.2K 55
                                        

Duduk satu meja dengan Theo adalah pilihan yang salah, begitu yang ada di benak Lara. Kendati membaca buku yang direkomendasikan oleh Grant dengan serius, Lara dapat merasakan tatapan Theo dari balik bulu matanya.

Dan aku harus memahami semua isi buku ini, pikir Lara. Dia menutup bukunya kasar dan berdiri yang berhasil membuat Theo sedikit tersentak.

Ayo, katakanlah sesuatu!

"Natasha mencarimu dan sesuai amanatnya; jika aku bertemu denganmu, aku harus memberitahunya,"

Theo menahan lengan Lara dengan cepat.

Lara yang hanyalah seorang manusia merasakan tubuhnya membeku....

....dan, mata mereka pun saling beradu.

"Tolong, jangan beritahu keluargaku tentang kebaradaanku," Theo menatap Lara dengan putus asa, yang membuat Lara tidak tega dan bingung di saat yang bersamaan.

"Tapi Nat--"

"Aku sedang ada masalah keluarga, Lara," Theo melepaskan lengan Lara dan melemparkan arah pandangnya ke bawah sambil terpejam. Lara hanya membeku melihatnya, bingung harus mengatakan apa lagi.

"Aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong katakan kau berjanji tidak akan memberitahu Natasha, kumohon,"

Lara menganggukkan kepalanya begitu saja dan bilang, "Aku berjanji." dan menurutnya, masalah yang dimiliki keluarga Delovo itu sangat rumit. Bahkan, Theo memutuskan untuk pergi.

Yang terpenting baginya adalah Theo baik-baik saja.

Kemudian, Lara melenggang pergi meninggalkan Theo dengan perasaan yang bercampur aduk, sedangkan Theo menatap setiap langkah yang Lara ambil.

***

"Coba kau tarik air itu keluar gelas!" perintah Mr. Arletto kepada Lara yang sedang berlatih di halaman belakang rumah mereka.

Lara menghela napas panjang dan mencoba untuk fokus--pikirannya masih terpaku pada Theo--dia menatap gelas yang berada di hadapannya dan melakukan gerakan tangan seolah-olah dia mengangat air menggunakan tangannya.

Airnya mulai terangkat dan senyum Lara pun mengembang, tetapi baru sampai bibir gelas, airnya jatuh kembali.

"Ayah, ini sulit," keluh Lara seraya memijit pelipisnya, frustasi. Lara melirik Mr. Arletto yang sedang fokus melakukan apa yang Lara coba lakukan: mengangkat air.

Lara memperhatikan ayahnya dan gelas secara bergantian. Air dalam gelas perlahan-lahan terangkat melewati bibir gelas, melayang ke udara, dan membentuk tulisan "don't give up!".

Oke, apakah aku sedang bermimpi melihat air melayang? Pikir Lara. Dia memandang airnya yang kembali ke dalam gelas.

"Giliranmu, Lara. Coba lagi, oke? Santai saja,"

Lara mengangguk dan menarik napas. Kali ini harus berhasil. Dia melakukannya lagi dan sudah lumayan berhasil, air itu naik secara perlahan, lalu jatuh lagi.

Lara tidak berkata apapun atau sekadar mengumpat saja. Dia kembali fokus dengan pikirannya. Lara mengangkat air lagi hingga melayang ke udara, membuat air itu terpecah menjadi dua bagian, tiga bagian, hingga menjadi titik-titik embun.

Setelah itu, menyatukannya kembali dengan cepat sehingga membuat dirinya dan Mr. Arletto basah terkena semburan air.

Bukannya marah, Mr. Arletto tertawa dan bertepuk tangan. "Itu sangat keren, Lara!" dia mengambil selang dan mengalirkan airnya. "Lakukan apa saja!"

"Apa saja?"

Lara menggigit bibir bawahnya dan memikirkan apa yang harus dilakukannya dari air yang terus mengalir itu.

Dan, Lara mendapatkan ide gila yang dia sendiri tidak tahu apakah akan bekerja atau tidak. Lihat saja. "Ayah, bisakah kau mengarahkan selang itu ke atas?"

"Maksudmu seperti air mancur?"

Lara mengangguk sambil tersenyum penuh imajinasi.

Mr. Arletto melakukan apa yang dipinta Lara. Lara membiarkan arah air itu ke atas dan kembali jatuh ke tanah karena tarikan gaya gravitasi. Kemudian, dia membuat air itu mengalir semakin deras dan dalam sekejap, Lara menghentikan air dengan tenang.

Dan...

...berhasil.

Mr. Arletto dan Lara tidak menyangka akan apa yang terjadi di hadapan mereka. Air yang keluar dari selang berhenti mengalir dan diam di udara.

"Lara, kau--"

Lara mengangkat bahu tidak tahu dan mematikan keran air. "Ayah, apakah kau tidak keberatan untuk berlari ke dalam rumah agar tidak terkena semburan air lagi?"

Tanpa berpikir panjang, Mr. Arletto dan Lara berlari memasuki rumahnya sambil tertawa dan halaman rumah mereka menjadi basah seperti sudah hujan akibat ulah mereka.

"Kita berhasil?"

"Kita berhasil."

***

"Oh, serius?" Lara duduk di samping Nico setelah berlatih pusaka bersama ayahnya. "Pembunuhan misterius lagi?"

"Kali ini terjadi di perumahan kita sektor J." Mrs. Arletto menanggapi dengan cemas.

Lara mengingat-ingat alamat rumahnya di sektor apa. Ah, sektor A! Pikirnya. Letaknya memang jauh, namun itu terjadi di perumahan mereka--tempat yang dianggap paling aman dari serangan vampir.

"Banyak yang mengira kali ini adalah ulah manusia, tetapi tidak ada sisah darah di tubuh korban," Nico bersuara setelah lama membisu menyimak berita di layar televisi mereka. "tapi apakah mungkin ada vampir yang berani melanggar peraturan--hmm, memasuki perumahan manusia?"

Tidak ada yang menjawab. Semuanya kalut pada pikiran masing-masing. Sudah tak terhitung berapa korban pembunuhan misterius yang terjadi di Buitenville akhir-akhir ini.

Tidak ada darah dan bekas gigitan yang membuat orang-orang ragu apakah vampir yang melakukan semua ini.

Lara mengingat surat dari Scarlett yang mengatakan bahwa para vampir bersumpah tidak melajukannya, bahkan mereka bersedia membantu mencari siapa pelakunya. Lara yakin Scarlett berkata jujur.

Detektif gabungan manusia dan vampir telah melaporkan bahwa tidak ditemukan bercak darah setetes pun di TKP atau pakaian korban, bekas gigitan yang memungkinkan vampir adalah pelukunya, dan juga bekas tusukan atau tembakan jika memang pelakunya adalah manusia.

Lalu, siapa? Tidak mungkin, 'kan jika darahnya lenyap begitu saja?[]

Mystique ForestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang