Pasukan werewolf, Stella, dan Vanessa berhenti di salah satu pohon besar yang rindang dan tua. Mereka melihat ke belakang, menunggu kedatangan Lara, Nico, Theo, dan Scarlett.
“Lama sekali,” keluh salah satu werewolf korban gigitan Scarlett.
“Itu mereka!” seru Steve menunjuk empat orang yang berjalan menghampiri mereka dengan langkah gontai. Hanya Lara yang terlihat semangat.
“Kenapa berhenti?” tanyanya sambil mengatur napas.
“Kita sudah sampai,” ujar Steve, dia menekan sesuatu yang samar dari pohon besar. Terdengar suara decitan mesin dan tiba-tiba sebuah lubang muncul dari batang pohon membuat semacam pintu berbentuk oval. “Ladies first …”
Stella tersenyum geli dan menepuk pipi Steve pelan. “Lara, Nico, kau, dan kau … ikuti aku,” perintahnya tanpa menoleh ke belakangnya.
Lara berjalan di belakang Stella, lalu Nico, Scarlett, dan terakhir Theo masuk ke dalam lubang itu dan ternyata pohon tua tersebut adalah pintu masuk ke dalam sebuah ruangan bawah tanah. Mereka menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu yang kuat.
Scarlett terus menahan rasa mual di perutnya karena aroma werewolf yang sangat kuat menusuk hidungnya. Bagaimana tidak kuat? Di hadapan mereka kini berkumpul pada manusia yang diduganya adalah werewolf. Mereka semua menatap Stella dengan penuh tanda tanya, menuntutnya sebuah jawaban.
Menyadarinya membuat Stella maju selangkah dan memperkenalan orang-orang baru di belakangnya pada para werewolf. “Guys, dia adalah Lara Arletta—Arletta, ya. Sama denganku—dia adalah sepupu kesayanganku. Dan di sampingnya: Nico Arletto, dia juga sepupuku tapi dulu kita jarang main, ya?” Stella melirik Nico yang dibalas dengan sebuah senyuman tipis.
“Di sebelah Nico … well, kelihatan sekali siapa ya. Scarlett Allen. Aku tidak tahu siapa dia dan bagaimana caranya dia bisa berteman dengan sepupuku.” Scarlett mendengus kesal mendapati respon dari para werewolf yang saling berbisik. Tapi ada yang membuatnya bertanya-tanya, mengapa Stella tidak memberitahu tentang Violet?
“Terakhir …,” Stella melirik Theo yang berdiri tegap dan menunduk. “siapa namanya?”
“Theo Delovo, temanku sejak masih kecil.” Sahut Lara cepat yang berhasil membuat Theo mengangkat kepalanya dan memandangnya, tetapi Lara tidak tahu karena sekarang dia tersenyum pada menatap Stella yang juga tersenyum padanya.
“Oh, ya, dia Theo Delovo,” Stella menunjuk Theo dan Lara mengikuti arah gerak tangan Stella dan menangkap Theo yang masih melirik ke arahnya. Begitu menyadarinya, Theo langsung mengalihkan pandangannya dan menunduk; menepuk tanah dengan kakinya. Dia gugup.
“Well, Steve … bisakah kau antarkan Nico dan Theo ke kamarnya? Aku akan mengantarkan Lara dan tamu spesial kita.” Scarlett memutar kedua bola matanya mendengar kalimat “tamu spesial kita”, aku bahkan tidak diperlakukan dengan baik dari awal olehnya, pikirnya sebal.
Steve mengangkat alisnya. “Tentu saja,” dan dia mengisyaratkan pada Nico dan Theo agar mengikutinya.
“Ayo,” ujar Stella, dia menarik lembut tangan Lara. Lara melirik Scarlett dengan tidak enak hati.
“Kenapa bentuknya spiral?” Lara bertanya setengah berbisik pada Stella begitu mereka menuruni sebuah tangga yang berbentuk spiral.
“Untuk meminimalisir tempat,” jawab Stella tanpa menoleh ke belakangnya. “markas ini tidak terlalu besar.”
“Semakin ke bawah, ya?” Lara menepuk bibir sucinya, tidak tahu mengapa terlalu banyak hal yang ingin ditanyakannya.
Stella melirik ke belakang, memandangi Scarlett yang tengah bergelut dengan perutnya tapi dia mencoba mengabaikannya. ‘Tidak mungkin ke atas, Lara. Ini bawah tanah.”
“Aku haus,” Scarlett memegangi tenggorokannya, penampilannya lebih seram daripada para vampir, setidaknya itu yang ada di pikiran Lara. Urat-uratnya yang berwarna biru keunguan menonjol pada pelipis dan lehernya.
Lara merasa perasaannya bercampur aduk; antara kasihan, takut, dan was-was. Darah yang mengalir di tubuhnya pasti sangat menggoda Scarlett yang sekarat. Ditariknya lengan Lara oleh Stella dan terus berjalan mendahului Scarlett.
“Ini kamarmu, Scarly,” Stella membuka pintu yang terbuat dari kaca berwarna gelap dan temboknya terbuat dari beton. Scarlett melihat isi kamarnya dan mendesah lega, dia pikir akan ditempatkan di sebuah penjara bawah tanah atau sebangsanya.
“Tunggu, kau memanggilku apa?”
“Scarly?” ulang Stella tak peduli dengan tatapan tidak terima yang dilontarkan Scarlett. “Aku sengaja menempatkanmu di sini, jauh dari Lara dan dekat dengan pengawasan. Mengerti?”
Scarlett mendengus dan mengangguk kesal, tanpa senyuman yang membuat wajahnya tampak sangat menyeramkan. Scarlett masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.
“Dia kasihan,” ujar Lara mengejar langkah kaki Stella begitu Scarlett menutup pintu kamarnya.
Tidak seperti dugaannya, Stella mengangguk setuju dan berkata, “aku akan mencarikan darah untuknya.” Yang diakhiri dengan sebuah senyuman.
Stella adalah Stella, tak ada yang berubah.
“Ini kamarmu, tepat di samping kamarku.” Stella membuka pintu kamar milik Lara dengan semangat. “Oh, aku sangat merindukanmu, Larie!” dia menarik Lara lembut ke dalam pelukannya, lebih erat dari sebelumnya. “Beristirahatlah. Biasanya aku yang menginap di rumahmu,”
“Sekarang gantian,” sahut Lara.
***
“Kau yakin?” tanya wanita berambut cokelat panjang memandangi temannya yang sibuk mencari sebuah suntikan di dalam laci.
“Kita tidak mempunyai cadangan kantung darah, kan?” sahut temannya yang telah menemukan suntikannya yang masih terbungkus rapi. Dia membuka bungkusnya dan menusukannya pada lehernya. Kemudian, ditariknya ujung suntikan itu dan cairan kental berwarna merah memenuhi suntikannya.
Stella, memang Stella yang mendonorkan darahnya untuk Scarlett. Dia menekan ujung suntikan dan cairan darahnya menetes ke dalam sebuah wadah berbentuk kubus. Diulanginya terus-menerus hingga wadahnya sudah setengah terisi.
“Cukup, Stella!” Vanessa merebut paksa suntikan dari genggaman Stella. “Kau bisa kekurangan darah, kau tahu … lagipula ini sudah cukup untuk menghilangkan rasa haus vampir itu.”
Stella mengangkat kedua tangannya pasrah di sisi kepalanya dan menuruti Vanessa. Entah mengapa dia sangat bersemangat mendonorkan darahnya. “Tolong berikan wadah itu pada Scarlett,” katanya sembari memijit keningnya dan duduk di lantai. “Aku merasa lemas.”[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystique Forest
Ciencia Ficción[SUDAH DITERBITKAN] Di masa depan, teknologi semakin maju. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru yang barangkali dinilai mustahil oleh peradaban manusia terdahulu. Salah satunya adalah manusia yang dapat hidup berdampingan dengan makhluk penghisap...
