#35 Falling

21.6K 2.7K 20
                                        

Steve memberi arahan pada pasukannya untuk membuat barisan yang rapi. Para werewolf termasuk dirinya berdiri mengelilingi Lara, Nico, Theo, Stella, Vanessa, dan bahkan Scarlett sebagai pelindung, jaga-jaga bila ada serangan mendadak.

Mereka berjalan menuju ke mana dedaunan mengarah; utara, seraya terus berjaga-jaga adanya serangan musuh. Karena menurut kabar yang beredar, tidak ada yang berhasil keluar setelah memasuki kawasan Mystique Forest. Termasuk para vampir penjaga keaamanan.

Alih-alih menyiapkan senapannya, Lara terus meneliti setiap tumbuhan yang ada di sekitarnya. Rasanya seperti dia juga ikut tertarik magnet yang secara magis menarik dedaunan layaknya gravitasi.

Sesekali dia melirik Theo yang berjalan di sebelah depan kanannya. Di tangannya, sudah siap sebuah panah yang dibawanya dari gudang senjata pribadi milik Scarlett.

Semakin mereka berjalan jauh, semakin kuat pula magnet yang rasanya menarik tubuh Lara agar terus mendekat. Entah hanya aku saja atau semuanya juga merasakan hal yang sama? Pikirnya, berusaha menahan agar langkah kakinya tidak mendahului yang lainnya.

Setelah berjalan lumayan lama, tidak hanya Lara, yang lainnya juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka melihat sebuah tebing yang tinggi menjulang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

Mereka terpana bukan karena tebingnya yang menjulang tinggi, melainkan sinar-sinar merah yang muncul dari balik semak-semak

"Siapkan senjata kalian!" perintah Steve dari depan. "Berjalanlah dengan santai dan tetap dalam barisan."

Steve memang sesosok pemimpin yang patut disegani. Buktinya, selama dia dipilih sebagai pemimpin pasukan werewolf oleh Madam Ellie, tidak pernah ada kasus pemberontakan dari para werewolf yang menentangnya. Apapun keputusan yang dipilih Steve merupakan hasil diskusinya dengan pasukannya.

Langkah mereka benar-benar terhenti beberapa meter dari tebing tersebut. Semuanya berkecamuk pada pikiran mereka masing-masing. Lara sendiri teringat akan latihan pusakanya saat dia harus memanjat sebuah bendungan besar.

Muncul sosok Grant di dalam benaknya. Seandainya Grant ada di sini, dia pasti bangga dengan anak didiknya yang satu ini, pikir Lara. Rasanya dia benar-benar ingin memberitahu Grant bahwa di hadapannya kini menjulang sebuah tebing yang tinggi dan ada rasa tertantang di dalam dirinya. Adrenalinnya terasa berpacu hebat.

"Sinar itu ... franklina!" Scarlett yang indera penglihatannya lebih baik menunjuk ke arah puncak tebing.

"Kita membutuhkan tal--"

"Tidak." Lara menyela ucapan Steve, dia maju selangkah menghadap tebing. "Aku bisa memanjatnya. Grant bilang kemampuanku adalah berlari dan memanjat." Dia melirik Theo yang kini menatapnya. Dari semua orang di sini, hanya Theo yang mengenal Grant.

"Maksudmu?" Stella berjalan mendekati Lara, dia tidak mau Lara mengambil risiko sendiri.

"Lihat saja." Lara tidak punya waktu untuk menjelaskannya, dia tidak ingin membuang-buang waktu. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi di Buitenville saat ini, bukan? pikirnya.

Steve memberikan serum dari Mr. Arletto pada Lara. Meski merasa masih ragu, dia harus mempercayainya. Lara lah yang menyelamatkan markas yang hampir terbakar.

Lara menggengam serum itu erat. Sebuah akar muncul dari saku celananya dan mengikat kencang serum itu sehingga tidak akan terjatuh. Melihat hal yang ganjil itu, beberapa werewolf saling berbisik. Terbesit pujian di balik bisikannya.

Lara menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian mulai memanjat tebing yang tingkat kemiringannya hampir menyentuh angka 90°. Dia mengikatkan tubunya pada akar pohon sebagai tali pengaman.

"Semuanya tetap berjaga!" Steve kembali memberi perintah. Perasaannya tidak enak sejak Hugo datang memberitahu bahwa mereka sudah sampai di Mystique Forest.

Lara terus meraih satu per satu akar pohon atau batu sebagai pegangan sekaligus tempat kakinya bertumpu. Bunga franklina menggantung di tebing lumayan tinggi. Lara bahkan belum sampai ke setengahnya.

Lara menggigit bibir bawahnya. Ini pertama kalinya dia memanjat tebing tinggi di kehidupan nyatanya dan bagaimana pun juga Lara adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Dia mencoba terlihat biasa saja untuk meyakinkan yang lainnya meski tubuhnya bergetar hebat saat ini.

Keringat dingin bercucuran dari tangannya. Telapak tangan Lara memerah karena menggenggam akar pohon atau batu dengan terlalu kencang.

Tiba-tiba, Lara merasa seperti dejá vú. Dia teringat kala Grant menyuruhnya membayangkan apa yang dia inginkan di sebuah taman yang melintang luas. Saat itu, dia membayangkan sebuah bunga raksasa yang membawanya terbang.

Lara tersenyum penuh arti. Dikerahkannya kedua tangannya ke atas sehingga terlepas dari tebing dan membuatnya tubuhnya terjatuh.

"LARA!" Stella menjerit frustasi.

Sebuah akar pohon muncul dari bawah tanah dan menangkap tubuh Lara sebelum dirinya menghantam daratan.

Terdengar suara helaan napas lega yang keluar dari setiap mulut yang melihat kejadiannya, termasuk Theo. Dasar nekat! umpatnya dalam hati. Sebagian dari dirinya masih peduli pada Lara.

Akar pohon itu meliliti tubuh Lara dan membantunya mencapai bunga franklina dengan mudah. Lara menoleh ke bawah, pada pasukannya menatapnya harap-harap cemas. Termasuk Theo.

Dengan bertumpu pada akar pohon yang meliliti tubuhnya, Lara meraih bunga franklina berukuran raksasa yang menggantung di tebing.

"Bunga ini," gumam Lara pada dirinya sendiri, menatap bunga franklina penuh kebencian. "Telah memakan banyak korban secara tidak langsung."

Diambilnya botol serum yang menggantung di saku celananya. Saat hendak menyuntikkan serumnya pada akar franklina seperti yang diperintahkan Mr. Arletto, tubuhnya terlepas dari lilitan akar pohon yang menjadi tumpuannya. Dalam sekejap, tubuh Lara terbanting cukup kencang ke tanah dengan posisi miring ke kanan.

"NO!"

"LARA"

Bukan hanya Stella yang menjerit, melainkan Vanessa, Scarlett, Nico, dan yang lainnya juga. Mereka segera menghampiri tubuh Lara dengan khawatir.

Sedangkan botol serumnya terhemas ke sembarang arah namun berhasil ditangkap oleh Theo.

Dengan mata yang terpejam karena menahan rasa sakit yang menjalar, Lara merasakan tulang rusuknya patah, dia juga merasa nyeri di bagian paha dan bahu kanannya. Lara tidak yakin dirinya bisa berjalan lagi setelah ini.

"Lara."

"Lara, kau tak apa?"

"Buka matamu, Lara!"

Lara dapat mendengar suara-suara yang menyebut namanya itu dan dia yakin yang terakhir itu adalah suara Nico. Lara membuka kelompak matanya perlahan, mulutnya berdesis, "Aduh." Dan "Aw." Secara spontan. "Bahu dan kakiku, Stella," lirihnya.

"Terasa panas, bukan?"

Semuanya sontak menoleh ke sumber suara dan tersentak melihat siapa yang berdiri dengan dua sosok wanita asing di sisi kanan dan kirinya.[]

Mystique ForestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang