#2 Nico's Legacy

49K 5.1K 154
                                        

Hari ini adalah hari diadakannya tes pusaka bagi setiap remaja berusia tujuh belas tahun di Buitenville. Entah apa yang membuat Lara lebih takut; mimpi buruknya tadi malam tentang hutan gelap yang menyeramkan atau ketakutannya pada hasil tes pusaka itu sendiri.

Ayahnya memiliki pusaka air yang artinya dapat mengendalikan air dan ibunya memiliki pusaka mengendalikan listrik yang tentu saja sangat berbahaya—untuk orang yang dikehendakinya.

Walaupun baru berusia lima belas tahun, adiknya, Nico, pusakanya sudah terlihat; mengendalikan cuaca. Sedangkan Lara yang sudah berusia tujuh belas belum tahu pusaka apa yang dimilikinya.

"Aku takut," keluh Lara pada kedua orangtuanya saat sarapan. "Aku takut jika ternyata aku tidak memiliki pusaka."

"Tenang, Sayang." Mrs. Arletta mengusap pelan puncak kepala Lara. "Waktu Ibu seusiamu, Ibu juga belum mengetahui apa pusaka milik Ibu. Itu hal yang wajar, kok. Kau akan mengetahuinya seiring berjalanannya waktu. Lagipula itu fungsi mengapa tes pusaka diadakan."

Lara mengambil ransel dan sepatu roda-tanpa-rodanya, yang menimbulkan sebuah tanda tanya bagi Mr. Arletto. "Lara, kau tidak ingin berangkat sekolah bersama Ayah?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri." Lara memakai sepatunya. "Sampai bertemu di sekolah." Dia membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kaca transparan.

Rumah di Buitenville pada umumnya sama; berbentuk kubus dengan banyak kaca sebagai dindingnya yang terbuat dari kaca yang tebal sehingga kuat dan tidak mudah pecah.

"Oh, sial," umpat Lara begitu melihat cuaca yang mulai menunjukkan titik-titik salju yang turun dari langit.

Cuaca di Buitenville memang tidak tentu; tidak mengenal adanya musim. Kemarin panas, hari ini dingin hingga bersalju. Mungkin besoknya panas lagi hingga matahari terasa beberapa centimeter dari puncak kepala.

Dari seberang jalan, Theo keluar dari rumahnya dan hanya mengenakan jaket tipis dan celana panjang jins. Dia sempat melirik Lara sekilas lalu langsung menunduk dan berjalan menyusuri trotoar.

Mungkin mobilnya rusak, pikir Lara.

Di belakang Theo, Natasha berjalan menyusulnya dan terlihat kesal, dia mengenakan jaket tebal hingga berlapis-lapis. Sangat berbeda dengan Theo.

"Oh, Theo mulai gila," gumam Lara saat salju mulai turun. Dia memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya.

"Ada apa?" Semua orang melihat Lara seperti baru melihat alien yang tersesat dan masuk ke sembarang rumah.

"Hujan salju secara mendadak." Lara melepaskan sepatu roda-tanpa-rodanya dan menggantinya dengan sepatu khusus musim dingin yang hangat. Dia juga mengambil jaket tebal berwarna hitam di kamarnya.

"Jadi kau ikut dengan Ayah?"

Lata menganggukkan kepalanya dan mengenakan jaketnya. Maafkan aku yang harus meninggalkanmu wahai sepatu kesayanganku, ucap Lara dalam hati kepada sepasang sepatunya yang tergeletak di lantai.

Ayahnya Lara adalah guru sejarah di sekolahnya yang cukup disegani oleh hampir semua warga sekolah. Tetapi Lara tidak pernah bertindak seperti dia adalah orang yang spesial karena anak guru. Saking cueknya, hanya sebagian kecil dari warga sekolah yang mengetahui jika Lara adalah anak dari Mr. Arletto, itu pun karena nama belakangnya.

"Nico, bukan kau, kan, yang melakukan semua ini?" tanya Mr. Arletto dengan tegas saat sudah berada di dalam mobil menuju Buitenville School.

Nico mengangkat bahunya tak peduli yang membuat Lara kesal—dia jadi teringat dengan pusakanya yang belum muncul hingga detik ini juga.

"Dengar," kata Mr. Arletta masih sengan suara yang tegas ditambah serius. "Kau tidak bisa mengubah cuaca dengan sesuka hatimu. Banyak orang yang terganggu dengan perubahan cuaca yang sangat drastis, contohnya adalah kakakmu."

Lara berdeham keras yang langsung disambut dengan tatapan tajam Nico.

Lara berdeham keras yang langsung disambut dengan tatapan tajam Nico

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ada banyak orang di luar sana yang dapat mengendalikan cuaca, Ayah." Nico berusaha keras untuk membela diri atas tuduhan yang tidak diperbuatnya.

Mr. Arletto menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nico. Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang dapat mengendalikan cuaca dan kau adalah salah satunya yang memiliki potensi terkuat."

Lara merasa tersindir secara halus mendengar perkataan ayahnya sendiri. Nico saja yang masih kecil sudah memiliki pusaka yang langka dan kuat, kau kapan? Kau payah, Lara!

"Oke, tapi aku bersumpah bukan aku yang melakukannya. Aku masih harus belajar mengendalikan cuaca dan salju—" Nico berhenti sejenak; mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan proses belajarnya mengendalikan cuaca. "... salju itu sangat sulit, lebih berat dari angin tornado atau mungkin badai katrina."

Lara teringat saat dirinya berulang tahun kedua belas, dia membayangkan akan memiliki hari ulang tahun yang indah, tetapi semuanya hancur karena Nico secara tidak sengaja membuat badai katrina di sekitar perumahannya yang membuat teman-teman Lara batal menghadiri acara ulang tahunnya.

Semua orang tidak menyalahkan Nico yang baru berusia sepuluh tahun saat itu, dia masih terlalu kecil untuk disalahkan atas pusaka dalam dirinya. Hanya Lara yang kesal, kecewa, dan marah pada Nico.

Bahkan Lara berteriak, "Kau adalah pembuat musibah! Pencipta bencana alam!" pada Nico yang langsung membuatnya dibentak ayahnya dan dihukum untuk tidak keluar kamar selama hari ulang tahunnya.

Bayangkan ketika kau berulang tahun, lalu kau malah terkena hukuman karena kesal dengan adikmu yang telah mengacaukan hari ulang tahunmu, itu menyebalkan sekali! Pikir Lara, dia masih mengingat dengan jelas peristiwa terburuk di sepanjang hidupnya.

Namun, bagaimana pun juga Nico tetaplah adik kandung Lara, dia telah berkali-kali membantu Lara dengan pusakanya.

Seperti saat Lara berpura-pura sakit flu karena malas bersekolah—dia belum mengerjakan tugas membuat filosofi yang amat sangat dibencinya. Karena Nico tahu kebenarannya, dia membuat hujan lebat yang disertai petir.

Lara sangat mahir berpura-pura sakit flu. Ditambah dengan hujan, ibunya tidak akan mengizinkannya pergi ke sekolah.

"Jadi kau tidak membuat hujan salju?" Lara melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyamai langkah kaki Nico. Nico menggeleng pelan. "Lalu, siapa? Atau memang karena alam?"

"Aku tidak tahu, seperti ada yang mengendalikannya, tetapi bukan aku—aku telah bersumpah tadi—dan aku merasakan ada yang berbeda dari saljunya," ungak Nico.

"Jadi itu bukan karena faktor alam semata?" Lara memastikan.

Nico menghela napas. "Bukan, aku yakin ada yang mengendalikannya," kata Nico, Lara percaya dengan nada yakinnya. "Sudahlah, sana pergi! Kau harus tes pusaka, 'kan?"

Lara terkejut ketika Nico tiba-tiba memeluknya dan baru Lara sadari jika tinggi Nico sudah mencapai telinganya. Tinggi sekali dia, pikir Lara.

"Aku yakin kau memiliki pusaka yang lebih hebat dariku." Nico tersenyum tulus. "Sekaligus yang paling keren di seluruh alam semesta. Aku menyayangimu, Kakak."

Nico melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya pada Lara yang hanya berdiam diri di tempat.

Baru kali ini dia memanggilku "kakak", pikir Lara. Dan itu terdengar aneh. Tidak, tapi sangat aneh. Lalu dia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat tes pusaka.[]

Mystique ForestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang