ara membuka pintu ruang latihan dengan keras dan membuat Grant sedikit tersentak. "LARA! Kau ini kenapa?!"
Lara memasang wajah panik dan menghiraukan pertanyaan Grant. "Grant, aku ingin menanyakan sesuatu," ujarnya dengan intonasi yang cepat.
Grant mengerutkan dahi seolah berkata, "Oke, apa?"
"Kau melatih Theodore Delovo, 'kan?"
Grant mengangguk. "Hmm..." gumamnya dengan tatapan bingung.
"Kau apakan dia sehingga pelipisnya berdarah?" kedua mata Lara melotot dan menunjukan sikap tidak terima.
Namun, Grant meresponnya dengan tenang. "Itu hal yang biasa dalam proses latihan pusaka, Lara." dia tersenyum samar. "Kau juga mungkin akan berdarah nanti--tergantung bagaimana medan latihanmu." lanjutnya.
Lalu, Lara berpikir mengapa dirinya sendiri tidak basah saat tenggelam di tes pusaka pertama dan kedua? Mengapa darahnya nyata?
"Beberapa hal terjadi dengan sangat kuat hingga ke dunia nyata." kata Grant seolah mendengar pertanyaan dalam benak Lara.
Lara mencoba memecahkan sebuah teori tentang pusaka: sebenarnya, untuk apa pusaka itu? Dari mana datangnya?
"Grant,"
Grant yang tengah sibuk merangkai suatu kabel pada komputernya menoleh pada Lara, kedua alisnya terangkat.
"Apakah kau tahu untuk apa pusaka itu dan dari mana datangnya?" Lara menggigit bibir bawahnya, gugup akan respon dari Grant.
Grant melepaskan kabel-kabel dari genggamannya dan menggeleng ragu. "Aku juga tidak tahu. Tapi, mungkin untuk menjaga diri kita sendiri dan melindungi umat manusia. Lalu, dari mana asalnya ... banyak yang bilang dari nenek moyang kita dan--"
"Secara turun menurun?" potong Lara (baca: kebiasannya) dengan cepat. Dia telah mengetahui jawaban itu dan dia ingin mengetahui fakta yang sebenarnya. Bukan gosip yang beredar di tengah masyarakat.
"Kurasa, sebaiknya kita memulai latihannya." ujar Grant yang disambut sorotan tajam milik Lara. Dia tahu Grant mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Tetapi, Lara tidak bisa berkutik. Dia memasuki ruangan dimensi hitam dan semuanya berjalan seperti biasa.
Lara muncul di sebuah hutan dengan pohon pinus yang lebat. Di mana aku? Pikirnya kalut. Lara berjalan perlahan menelusuri hutan pinus ini dan dia berjaga-jaga jika ada sesuatu yang akan datang.
Seperti serigala, mungkin?
Lara berjalan dengan sangat hati-hati hingga tidak terdengar suara langkah kakinya. Dia takut tersandung dan pelipisnya berdarah seperti Theo.
Terdengar berlebihan memang.
Langkah kaki Lara berhenti, dia menelan ludahnya dan berusaha untuk tidak panik saat mendengar suara erangan yang berasal dari entah-dari-mana.
Lara menggerakkan kedua tangannya dan akar pohon muncul dari dalam tanah.
"Berfungsi," katanya pelan pada dirinya sendiri nyaris seperti berbisik.
Kemudian, akar pohon itu kembali ke dalam tanah. Lara terus berjalan dengan hati-hati dan memasang mata dan telinganya penuh waspada. Saat ini, dia harus peka pada indera penglihatan dan pendengarannya.
Langkahnya terhenti kembali saat dia mendengar sebuah erangan misterius (lagi) dari balik salah satu pohon pinus. Tidak, dari atas pohonnya!
Lara tersentak ketika sebuah atau seorang atau seekor makhluk yang sepertinya terbuat dari akar, batang, dan daun pohon muncul di hadapannya sambil berdesis tajam ke arahnya dan Lara hanya memandang sesosok makhluk itu dengan tatapan jijik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystique Forest
Ciencia Ficción[SUDAH DITERBITKAN] Di masa depan, teknologi semakin maju. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru yang barangkali dinilai mustahil oleh peradaban manusia terdahulu. Salah satunya adalah manusia yang dapat hidup berdampingan dengan makhluk penghisap...
