#11 Fantasy Dimention

31.7K 3.8K 19
                                        

Sebelum menemui Scarlett sepulang sekolah, Lara harus berlatih pusaka dahulu bersama Grant di ruang dimensi seperti biasa.

Lara memasuki ruangan Grant seraya membawa jaket tebal yang membuat Grant penasaran. "Untuk apa kau membawa jaket tebal? Cuaca hari ini diprediksi berawan dan tidak berpotensi turun salju," ujarnya dengan suara seperti menahan tawa.

"Untuk berjaga-jaga karena aku ini tipe orang yang mudah mimisan atau demam ketika cuaca dingin," alibi Lara--lebih ke menahan malu. "Sebagai antisipasi jika tiba-tiba hujan salju atau suhu udara menurun."

"Sedia jaket sebelum turun salju," tambahnya seraya menaruh jaket dan tasnya di atas sofa.

Grant tertawa terbahak-bahak yang membuat kedua ujung matanya sedikit berkerut. "Berarti kau harus berjaga-jaga juga jika mimisan di depan vampir." Dan Lara merasa tersindir karena hal itu memang terjadi padanya beberapa hari yang lalu. "Maka dari itu kau harus melatih pusakamu agar bisa mengalahkan para vampir."

Lara teringat dengan tujuan utamanya datang ke ruang dimensi: berlatih pusaka. Dia memasuki ruang dimensi yang gelap gulita dan Lara merasa sudah terbiasa meskipun baru memasuki ruangan ini sebanyak tiga kali (termasuk yang sekarang).

"Bayangkan hal yang paling kausukai--yang berhubungan dengan pusakamu." Suara Grant terdengar di ruang dimensi dan Lara tidak terkejut lagi.

Lara menutup matanya dan membayangkam hal yang ia sukai; hal yang membuatnya senang.

Saat Lara membuka matanya, dia tersenyum melihat hamparan bunga yang luas dan tak berujung. Terdengar pula suara gemericik air dari sungai yang mengalir di tengah hamparan bunga.

"Lakukan apapun yang kau inginkan, seperti menari di tengah taman bunga, mungkin?"

Lara menggeleng keras dan memasang wajah jijik, dia tidak ingin menari di tengah taman bunga karena terdengar memalukan dan dia tak pandai menari.

"Gerakkan tanganmu untuk mengendalikan pusakamu, bayangkan saja sedang mengambar atau melukis."

Lara menggerakkan kedua tangannya dan dia sedikit terkejut ketika hamparan bunga itu mengikuti arah gerak tangannya. Tidak sesulit yang kubayangkan, pikirnya.

"Apakah kau tidak memiliki mimpi yang tinggi? Seperti terbang?"

Terbang? Lara tidak mengerti apa maksud Grant. Maksudmu, seperti tumbuhan-tumbuhan ini mengangkat tubuhku? Pikir Lara.

Dan betapa terkejutnya Lara ketika tubuhnya melayang--bukan melayang seperti benar-benar melayang, melainkan segala jenis tumbuhan meliliti tubuh Lara tanpa membuatnya sakit, lalu mengangkat tubuhnya menjauhi daratan.

Lara menggerakan tangannya seperti gerakan menari dan membentuk sebuah jaring yang terbuat dari anyaman tumbuhan. Tumbuhan yang melilit tubuh Lara dengan perlahan melepaskan Lara dan membiarkannya jatuh. Jaring tumbuhan itu menangkap tubuh Lara dan dia berbaring di atasnya sambil tertawa.

Lara bangkit dan duduk di atas jaringnya. Sebuah dandelion raksasa muncul dari dalam tanah tumbuh menjulang tinggi. Lara merangkak ke sisi jaring dan melompat ke bawah yang langsung disambut lilitan tumbuhan lagi.

Lara menggerakkan tangannya mengarah ke dandelion dan lilitan tumbuhan itu langsung bergerak mendekati dandelion. Lara menarik nafas panjang dan menghembuskannya tepat ke arah dandelion raksasa dengan sekuat tenaga. Dandelion itu pecah dan terbang tak tentu arah menghiasi udara.

Hujan dandelion jauh lebih baik dibandingkan hujan salju. Duh, tentu saja.

Masih dengan keadaan melayang, Lara memandang ke sekelilingnya. Sejauh mata memandang, Lara dapat melihat betapa indahnya hamparan bunga dan sungai yang berliku membelah hamparan bunga.

Aku bisa mengendalikan air juga, kan? Pikir Lara. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan sungai itu?

Dengan perlahan, Lara terlepas dari lilitan tumbuhan dan kakinya menapak di atas rumput. Dia berjalan ke arah sungai dengan perasaan yang bercampur aduk; penasaran sekaligus takut jika pusaka airnya tidak berfungsi. Konyol memang.

Telunjuk kanan Lara bergerak memutar ke arah sungai dan sebuah pusaran air yang kecil muncul di atas permukaan sungai. Lara tersenyum melihat keberhasilannya mengendalikan pusaka, namun senyumannya surut saat ia teringat dengan badai katrina dan Lara langsung menghentikan pusaran air.

Wajahnya pucat, tapi tidak sepucat saat berada di tengah badai salju.

"Pernahkah kau membayangkan bisa mengangkat air ke udara?"

Mengangkat air ke udara? Apa maksudnya? Lara menepuk dagunya dengan telunjuknya; berpikir bagaimana caranya mengangkat air. Tapi--hei, aku hanya butuh membayangkannya saja!

Lara mengangkat kedua tangannya ke atas secara perlahan dan dia sedikit terkejut karena tidak berjalan seperti dugaannya; tidak terjadi apapun pada sungainya.

Mengangkat air lebih berat daripada mengangkat tumbuhan. Lara terus mencoba dan mencoba namun tidak terjadi apa-apa hingga dirinya hampir menangis.

Hamparan bunga, sungai, air terjun, semuanya hilang dan hanya kegelapan yang berada di sekeliling Lara. Suara pintu terbuka sedikit mengejutkan Lara yang masih bingung akan apa yang terjadi.

"Latihannya sampai di sini dulu, jangan memaksa dirimu sendiri." Grant memegangi bahu Lara dan menuntunnya ke luar ruang dimensi.

Lara duduk di sofa berwarna hitam dan meminum air hangat seperti biasanya. "Aku bingung ... kenapa mengangkat air lebih susah daripada tumbuhan?" tanyanya dengan suara yang bergetar.

"Itu wajar," kata Grant. "Tidak semua manusia memiliki pusaka dan hanya sebagian kecil manusia yang memiliki lebih dari satu pusaka. Kau spesial."

Kau spesial.

Mendengarnya membuat suasana hati Lara sedikit membaik.

"Kau masih memiliki banyak waktu untuk berlatih pusaka, Lara Arletta. Jangan mudah putus asa dan yang terpenting adalah bersabar," kata Grant bijak dengan tatapan yang sejuk.

Lara mengangguk menyadari kebiasannya yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada dirinya atau orang lain. Dan, bersabar adalah salah satu hal yang sulit Lara lakukan.

"Kau belum tahu kemampuanmu, ya?" Grant duduk di samping Lara.

"Belum."

Grant menunjukkan kemampuan Lara saat tes pusaka kedua dari layar tab-nya.

"Berlari dan memanjat?"

"Dengan cepat," koreksi Grant sambil tersenyum.

Lara ikut tersenyum sambil menggeleng tidak percaya. Lara teringat dengan jelas bagaimana dia berlari berkencang mungkin saat dikejar seekor serigala dan juga saat dia memanjat tebing dengan akar pohon sebagai tali pembantu.

Ini semua terasa masuk akal, pikir Lara senang.

"Kau memiliki bakat yang luar biasa, Lara. Saranku, kau harus sering berlatih; boleh sendiri atau bersamaku. Kau juga harus menahan diri untuk bersabar. Semua butuh proses, kan?"

Lara mengangguk dan tersenyum malu. "Terima kasih, Grant. Aku beruntung memiliki pelatih pusaka sepertimu." Dan dia teringat pada Theo yang juga dilatih oleh Grant.[]


- Kenza J👣

Mystique ForestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang