Theo nyaris saja menjatuhkan botol serumnya begitu melihat siapa yang baru saja berbicara. "Natasha?"
Natasha diapit oleh dua wanita asing yang tersenyum sinis pertanda tidak baik. Natasha dan sekutunya, pikir Theo. Diliriknya Lara yang masih terbaring lemah.
"Kepikir kau sudah mati." Suara Stella terdengar seperti orang yang tercekik. Dia melirik Vanessa--meminta penjelasan--tapi Vanessa hanya menggeleng lemah.
"Terkejut?" Natasha mengangkat kedua alis matanya, "aku juga." Kemudian dia tertawa dan menoleh pada kedua rekannya bergantian. "Greta dan Claire Lerona, mereka yang menghidupkanku kembali."
"Hei, Theo." Natasha menatap kakaknya. "Kau tidak ingin kehilanganku untuk kedua kalinya, 'kan? Kematianku membuatmu dihantui rasa bersalah. Bukannya kita tidak boleh terjatuh ke dalam lubang yang sama?"
Theo mengangguk setuju yang berhasil mengundang tatapan campuran antara terkejut, kecewa, dan marah dari Nico, Steve, Stella, Scarlett, Vanessa, dan yang lainnya. Mereka tidak menyangka Theo akan berubah pikiran dan berpihak pada Natasha.
"Ada apa?" tanya Lara, dia mencoba bangkit. Namun, Vanessa terus menahannya agar Lara tidak melihat apa yang terjadi. Dalam hati, Vanessa bersyukur Lara tidak menyadarinya. Tidak dalam kondisi seperti ini.
Theo berjalan dengan santai ke samping wanita berambut pirang panjang yang dikunci kuda, Greta Lerona. Natasha tersenyum penuh kemenangan.
Para werewolf maju membelakangi Lara, Nico, dan Vanessa. Scarlett berdiri di samping Hugo dan mulai menampakan sisi ke-vampiran-nya. Sedangkan Stella berdiri di antara Steve dan Scarlett. Kalau memang perlu, dia akan mengunakan pusakanya yang mematikan.
"Nico, ada apa? Di mana Theo?"
Nico menggeleng lemah. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengendalikan cuaca. Natasha memiliki pusaka api. Jika hujan turun, maka api tidak akan berguna, pikir Nico. Sementara itu, pusaka Lara adalah mengendalikan air. Mungkin hujan dapat membuatnya lebih baik.
Nico memejamkan matanya dan mengendalikan konsetrasinya penuh. Perlahan tapi pasti, hujan mulai turun membasahi Mystique Forest. Lara tersenyum samar, dia tahu apa yang adiknya lakukan.
Natasha mengadahkan kepalanya dengan marah, seolah langit baru saja membuat suatu kesalahan yang fatal padanya. "Di mana Lara sialan itu?!" Natasha berteriak kencang, sengaja agar Lara dapat mendengarnya. Dia pikir Lara bersembunyi di suatu tempat.
"Dia ada di baliknya," bisik Theo dengan pelan, tetapi masih bisa ditangkap oleh kedua telinga Natasha. Entah monster apa yang berhasil merasuki tubuh Theo sehingga dia memberitahu keberadaan Lara. Namun, sisi baiknya tidak mengizinkannya memberitahu Natasha bahwa Lara setengah sekarat.
Natasha tersenyum simpul, dia senang bukan baik kakaknya sudah kembali dan membantunya dalam menjalankan misi orangtua mereka. "Keluar kau, Nona Arletta!"
Mendengar namanya baru saja disebut, Lara, yang berhasil mengumpulkan tenaganya mencoba bangkit. "Itu seperti suara Natasha?" Nico dan Vanessa mencoba menahannya, tetapi Lara segera menepisnya.
"Aku di sini." Muncul sesosok gadis dengan penampilan yang lusuh dari balik pundak Steve. "Natasha?"
Stella ingin mengumpat saat itu juga ketika Lara dengam aksi nekatnya berani maju paling depan, langkahnya terseret-seret. Stella menatap Natasha garang dan penuh rasa kebencian.
Suara petir bergemuruh di atas langit Mystique Forest yang membuat Lara hampir saja berjongkok karena traumanya. Namun, dia berhasil mengontrol rasa traumanya.
Ditatapnya orang-orang di hadapannya satu per satu. Mulai dari gadis berambut brunette yang memiringkan kepalanya ke sebalah kanan, Natasha yang entah bagaimana bisa hidup kembali, gadis asing lagi dengan rambut pirang dan tatto yang menghiasi kulitnya, dan kemudian ... "Theo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystique Forest
Fiksi Ilmiah[SUDAH DITERBITKAN] Di masa depan, teknologi semakin maju. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru yang barangkali dinilai mustahil oleh peradaban manusia terdahulu. Salah satunya adalah manusia yang dapat hidup berdampingan dengan makhluk penghisap...
