#22 Pick Your Weapon!

26.8K 3.1K 23
                                        

Siapa namamu?" tepat saat Scarlett hendak membuka mulutnya, Theo langsung berbicara, "Siapapun itu, nanti kau berjalan seperti biasa melewati para vampir itu, lalu Lara dan aku akan mengikutimu dari belakang."


"Berjalan di belakangku?" Scarlett membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah para vampir yang sedang berdiri di pinggir jalan dan menggeleng tidak percaya. "Kau gila, huh?"

Saat Scarlett kembali menoleh ke tempat Theo dan Lara berdiri, dia sedikit tersentak. Mereka ke mana? Pikir Scarlett menerawang. Oke, kalau begitu. Dia memutar bola matanya. "Jadi ... jadi kau bisa menghilang? Oke, terserah!"

Scarlett melangkahkan kedua kakinya, berjalan biasa melewati para vampir seperti yang diperintahkan Theo. Scarlett juga sudah mengenal beberapa vampir yang dilewatinya.

Apartement Scarlett berada di blok 5 lantai 4, paling atas.

"Tidak ada lift di sini," mungkin bagi vampir di sekitarnya berpikir bahwa Scarlett hanya berbicara sendiri, tetapi dia bermaksud memberitahu Lara dan Theo yang kasat mata.

Scarlett tidak merasa lelah sedikit pun menaiki puluhan tangga menuju ke kamarnya yang terletak di lantai 4. Dia berjalan santai membuka pintunya. "Satu lantai untuk satu kamar. Memang luas." ujarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan membiarkannya terbuka agar Lara dan Theo yang-tidak-terlihat bisa masuk. Scarlett penasaran apakah mereka dapat menembus atau tidak. "Kalau kalian ingin bertanya kenapa aku memilih lantai atas, kalian akan tahu sendiri."

"Ugh, sebaiknya kalian cepat muncul," Scarlett menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. "aku merasa seperti orang gila."

Scarlett membalikkan tubuhnya dan mendapati Lara yang sudah duduk manis di atas sofa, sedangkan Theo berdiri membelakanginya; menghadap ke jendela.

"Hei, bagaimana kalian bisa masuk?" nada suara Scarlett terdengar sarkastik. "Ingat misi kita? Kita harus bergegas sebelum Buitenville dihancurkan oleh kekuatan hitam!"

"Kekuatan hitam?" Theo menyenderkan punggungnya pada tembok seraya melipat kedua tangannya di dada.

"Hmm ... aku tidak cukup yakin dengan pemberian nama kekuatan hitam," Scarlett melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu dari salah satu ruangan di apartemennya. "Sini, akan kutunjukan sesuatu!"

Lara dan Theo berjalan berdampingan ke arah Scarlett dan sempat saling melirik, mereka menunggu Scarlett yang sedang membuka pintu dengan kodenya.

Pintu terbuka. Scarlett masuk terlebih dahulu, disusul Lara, kemudian Theo. Lara memandang takjub akan apa yang dilihatnya di dinding ruangan ini, sedangkan Theo hanya bersender di pintu masuk dan melipat kedua tangannya (lagi) seraya memukul-mukul lantai dengan kaki kanannya.

"Ruangan ini memang kubuat khusus senjata, bisa dibilang gudang senjata. Aku sudah memodifikasi semua senjatanya agar bisa membunuh vampir yang-anti-peluru-biasa." kata Scarlett dengan nada bangga. "Sekarang, pilih senjataa kalian!"

"Senjata?" hanya Lara yang bereaksi terkejut, Theo sudah memilih senjatanya. Sebuah panah seperti yang dimiliki Gretel.

Scarlett memiringkan wajahnya ke kiri dengan alis yang terangkat pada Theo; sedang menimbang-nimbang. "Pilihan yang bagus. Senjata itu dapat mengeluarkan anak panah yang berbeda-beda, sesuai keinginanmu."

"Ehm, tapi kau juga harus memiliki skill yang bagus. Lebih baik membaca buku panduannya," tambah Scarlett dan melemparkan sebuah buku pada yang dia ambil dari sebuah rak buku pada Theo. "Lara, bagaimana denganmu?"

"Memangnya harus?" tanya Lara, suaranya sangat kecil, nyaris seperti bisikan. Tetapi pendengaran Scarlett yang tajam dapat mendengar nada keengganan yang tersirat dari suara Lara.

"Ya!" kata Scarlett gemas. "Kau tidak bisa terus menggunakan pusakamu karena itu sangat menguras tenagamu. Misalnya, kau berhadapan dengan manusia jahat--pencuri atau perampok--kau tidak perlu menggunakan pusakamu untuk mengalahkan mereka, kan?"

"Itu hanya membuang-buang tenaga," sahut Theo, matanya fokus pada buku panduannya.

Lara membisu, dia kalah telak dan mengangguk pasrah. Dia tahu pusakanya untuk melawan monster-monster aneh yang kemungkinan besar bisa mengalahkannya.

Lara berjalan menyusuri ruang senjata milik Scarlett. "Dari mana kau mendapatkan semua ini, Scarlett?"

"Apa?" Scarlett yang sedang memasukkan senjatanya ke sebuah ransel besar sedikir terkejut mendengar pertanyaan Lara. "Oh, aku menabung dari hasil kerjaku di Bloody Foody Cafe. Hanya membutuhkan waktu berkisar delapan puluh tahun untuk mengumpulkan semua ini. Tidak lama." katanya santai, tidak peduli dengan Lara yang sudah melongo tidak percaya.

Delapan puluh tahun dan dia pikir itu tak lama? Pikir Lara tidak percaya. Oh, iya, dia kan vampir.

"Sudah dapat belum? Waktu kita hanya sedikit."

"Memangnya kita tidak membawa semuanya? Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut suci Lara. Scarlett menatap Lara dengan tajam seperti oh-yang-benar-saja. Lara menyadari jika memang gila membawa semua senjata yang terpampang rapi di ruangan ini.

Pandangan Lara tertuju pada sebuah senapan dengan dua mulut peluru. "Bagaimana dengan yang ini?"

Scarlett mengamati senapan yang ditunjuk Lara. "Silakan. Lumayan bagus juga," katanya, dia masih menilai. "Bisa menembak sebanyak dua kali secara bersamaan dari jarak yang cukup jauh. Itu juga ringan."

Lara tersenyum bahagia begitu mendengar kata "ringan". Dia mengambil senapan senapan itu dari pengaitnya dengan sangat hati-hati (yang malah terkesan lama).

"Apakah ada buku panduannya?"

Scarlett menggeleng sambil tertawa dan menggendong ransel berisi senjata. Lara merasa ngeri melihat ransel senjata yang bertengger si kedua bahu Scarlett. Dia takut salah satu senjata itu melukai Scarlett atau semacamnya.

"LV-24 tidak memiliki buku panduan, kau hanya membutuhkan mental yang kuat ketika menembakannya." ujar Scarlett. "Sudah semua? Kita harus segera berangkat." Dia membuka pintu ruang senjata, Theo dan Lara mengekorinya.

Saat Scarlett selesai mengunci pintu ruang senjata, Lara dengan percaya dirinya melangkahkan kakinya ke pintu apartement Scarlett. "Kau mau ke mana, Lara?"

"Ke luar. Kita akan pergi, kan?"

"Kau mau berjalan dengan cara menghilang lagi?" Scarlett menggeleng tidak percaya. Dia terlalu polos, pikirnya. "Ikuti aku!"

Mereka bertiga menaiki tangga yang menuju ke loteng apartment Scarlett dan sebuah pesawat tempur sudah terparkir di atap apartment.

Lara memandang takjub dan tidak percaya untuk kesekian kalinya. Theo? Act like a cool man as always.

Scarlett membuka pintu pesawatnya dan memberi isyarat agar Theo dan Lara mengikutinya.

Scarlett duduk di kursi pilot, menaruh ransel berisi senjata di sampingnya, dan menyalakan mesin pesawat. Theo dan Lara di kursi penumpang yang saling berhadapan. Terdapat empat kursi penumpang. Pintu tertutup otomatis yang membuat Lara sedikit terkejut.

Suara mesin pesawat yang menyala terdengar bising. Pesawat mulai terbang dengan perlahan.

"Kita mau ke mana?" Scarlett bersuara dengan cukup kencang agar Theo dan Lara dapat mendengarnya.

Theo menatap Scarlett tak percaya. "Kau belum tahu tujuan kita pergi?"

"Ke rumahku," kata Lara cepat sebelum terjadi perang mulut antara Theo dan Scarlett. "Aku ingin bertemu dengan keluargaku, mungkin mereka miliki saran yang baik untuk kita. Tidak apa-apa, kan?"

Scarlett mengangguk dan menarik pedal pesawat. "Sebenarnya aku tahu kita harus ke mana. Sebuah hutan di sebelah utara Buitenville."[]

Mystique ForestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang