Dua remaja SMP sedang mengendap-endap, dipimpin oleh seorang perempuan berpakaian serba hitam, naik ke sebuah tingkap kecil di dinding sebuah bangunan kokoh. Mereka saling berpegang pada ujung kaus masing-masing, berusaha agar tidak jauh dan menimbulkan suara.
Setibanya mereka menapak tembikar dingin, tiga pasang mata itu mengedar pandang. Dilihatnya sebuah meja pendek yang lebar, banyak makanan berjajar di sana, termasuk buah-buahan segar menggoda mata.
"Bul, ini rumah siapa?" tanya James bingung karena sedari mereka berjalan sampai ke sini Bulan tidak mengatakan apapun.
"Ini adalah istana Kerajaan Huha. Teman kalian yang tidak berambut mungkin telah dipenjara di istana ini."
"Bulan, ini boleh dimakan, nggak?" tanya Ari sembari memegang satu sisir pisang kuning.
Bulan menoles sekejap lalu menggeleng keras. "Ari, kita di sini untuk menyelamatkan temanmu. Kita bisa makan saat teman kalian telah berada di sini bersama kita."
Ari menghela napas kasar. Perutnya sudah berbunyi kencang, ingin segera mendapat asupan makanan. Setidaknya pisang itu bisa mengganjal rasa lapar Ari.
Mereka kemudian keluar dari ruang makan, bola mata ketiganya bergerak waspada, takut-takut ada penjaga yang mengetahui keberadaan penyusup di istana kehormatan ini. Langkah mereka terus maju hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu besi.
Kening James berkerut. "Ini apa, Bul? Brankas?" tanyanya.
Bulan menoleh. "Apa itu brankas?"
Mulut James terbuka, tapi ada suara lain yang langsung menyahut. "Mes, jangan buang-buang waktu, deh. Aku udah kelaparan, bego!" hardik Ari lalu beralih pada Bulan. "Udah, Bul, cepetan buka pintu ini. Di dalem ada Beni sama Wulan, kan?"
Bulan menyengir polos, mengatakan bahwa ia tidak tahu pasti apakah teman-teman mereka berada di penjara besi ini. Semoga saja perasaannya benar. Karena sepengetahuannya, di istana ini terdapat beberapa unit penjara. Penjara terbesar berada di bawah tanah; lalu ada pula ukuran sedang yang terletak di bagian belakang istana, dan terakhir terletak di hadapan mereka sekarang. Sangat kecil, sempit, juga gelap. Biasanya penjara ini dikhususkan untuk orang-orang yang berupaya melenyapkan sang Putri.
Bulan mendorong pelan pintu tersebut sehingga terbuka. Giliran Ari kini yang berjalan di depan, sementara James beserta Bulan membuntut di belakangnya. Lorong yang mereka lewati sangat panjang, hanya ada secercah cahaya di ujung, memimpin langkah Ari agar tidak tersesat.
Ketika kaki telah berada di depan cahaya, mata mereka terbelalak mendapati kaki Beni tergantung di udara, tangannya terikat tali tambang, dan kepalanya tertunduk lemah.
James yang ketakutan pun segera memeluk kaki Beni dramatis. "Botak, kenapa kamu bisa gini? Botak, bangun, dong! Botak, jangan tinggalin kita! Kalau nggak ada kamu, aku sama siapa pas Ari pacaran?" tanyanya histeris.
"Apaan, sih, Mes? Aku cuma merem, bukan mati." Balasan tersebut membuat James merona lalu melepas lingkaran tangannya dari kedua kaki Beni.
"Aku meminta maaf kepada kalian. Karena keteledoran prajurit Huha, kalian harus jadi korban, terutama Beni. Tolong, maafkan saya," ucap Bulan seraya membungkukkan badan beberapa saat.
"Dia Wulan atau Bulan?" tanya Beni memandang wajah ayu Bulan dengan penuh perhatian.
Bulan malah membungkuk. "Aku adalah Putri Bulan. Sekali lagi, aku mohon maaf kepada kalian."
"Nggak apa-apa, Lan." Beni menyimpulkan senyum, membuat lesung pipinya timbul. "Ri, Mes, lepasin talinya, dong," pintanya kepada dua bocah yang sekarang malah kebingungan.
Bagaimana melepaskan tali di udara itu? Beni terlalu tinggi di udara. Ari tidak mampu untuk menggapainya. Melihat ekspresi bingung dari dua laki-laki itu, Bulan pun menepuk pundak James pelan. Ketika James telah menaruh perhatian padanya, Bulan menunjuk punggung Ari dan James secara bergantian lalu berhenti ke dirinya sendiri.
"Maksudmu, kita gendong-gendongan, gitu?" tanya James yang dibalas anggukan oleh Bulan.
"Tuh, Bulan aja pinter!" tukas Beni di atas sana.
Mereka pun melaksanakan ide Bulan yang sangat cemerlang dengan Ari berada di posisi paling bawah, James di tengah, dan Bulan di posisi atas. Saat wajah kembaran Wulan itu tepat di hadapannya, Beni menyunggingkan senyum lagi. Menurutnya, ini adalah pemandang terindah di dunia, lebih menakjubkan daripada wisata alam.
"Beni, apakah kamu yakin dengan ideku? Pasalnya, jika tali telah terlepas, kamu akan jatuh tanpa aba-aba. Apakah itu tidak sakit?"
Bulan dan Wulan memang tidak sedarah ataupun satu orang tua. Namun, satu kebiasaan yang dapat Beni kutip dari keduanya adalah mereka selalu meragukan dan menyalahkan diri sendiri atas kesalahan tidak konkret.
Beni sangat tahu jika ia akan jatuh, tapi ia sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Tidak akan terjadi apapun kepada tubuh jangkung Beni.
"Santai aja, Lan. Kalau masalah jatuh, aku udah ahli, kok!" balasnya ceria.
Seperti apa yang Beni utarakan tadi, ia jatuh berlutut layaknya tokoh superhero baru mendarat di tempat kejadian perkara. James melompat senang, langsung mendekap Beni sangat erat seakan tidak ingin berpisah. Disusul oleh Ari yang kini menarik Bulan supaya larut dalam kegembiraan ini.
Beni telah kembali!
Sumber jawaban telah kembali ke dalam pelukan masing-masing. Tidak akan ada yang namanya kesengsaraan ketika pekan ulangan menghadang.
Usai berpeluk-pelukan, mereka melepas tangan, bersamaan dengan itu Ari pun bertanya, "Terus, Wulan di mana, Ben?"
Beni memutar bola matanya, mengingat beberapa saat yang lalu ketika Wulan hampir mengunjunginya. "Tadi dia ke sini, tapi langsung pergi gara-gara ditungguin Pangeran Gordon." Perhatiannya beralih pada Bulan kemudian. "Emang Pangeran Gordon itu siapa?"
Alih-alih menjawab, Bulan berkata, "Aku akan menjelaskan nanti. Yang terpenting sekarang adalah kita harus pergi dari sini."
Tanpa mendapat jawaban pasti, mereka pun mengendap-endap menuju ruang makan. Melalui tingkap di ruang makan itulah mereka dapat masuk dan keluar. Sesampainya ketiga anak lelaki itu di sana, mata mereka kembali tergugah oleh makanan di meja. Rasanya tangan-tangan itu ingin sekali mengantongi beberapa macam makanan untuk dinikmati dalam perjalanan.
Bulan juga memikirkan hal yang sama dengan mereka bertiga. Oleh karena itu, ketika Ari meminta izin untuk yang kedua kalinya, Bulan mengangguk setuju. Mereka mengambil pisang, ketan, wajik, dan beberapa lembar ikan asin lalu disimpan dalam kantong celana masing-masing. Sajian penutup berupa es dawet pun tidak ketinggalan, tapi mereka menikmatinya secara langsung dari kuali besar, saling bergantian menggayung air manis berwarna cokelat itu.
Namun, saat asyik minum, mereka berempat mendengar derap langkah seseorang mendekati ruangan ini. Bulan menengok teman-teman barunya yang berhenti melakukan kegiatan.
"Itu pasti prajurit. Kita harus pergi!" bisiknya.
James mengembalikan centong air pada kuali dawet kemudian menyusul teman-temannya yang sudah turun lebih dulu.
"Mes, ayo cepet turun!" bisik Ari tidak sabaran di luar tingkap.
James mendengus kesal. "Bentar, Ari. Buru-buru banget, sih!"
×××
Hello!
Ini udah diperbaiki
Terima kasih sudah membaca :)

KAMU SEDANG MEMBACA
Gudang Sekolah
Adventure[ COMPLETED ] "Oke, hai! Selamat datang di gudang sekolah! Tegang banget, kalian jangan takut. Panggil aku Suara Langit. Karena kalo suara perut, itu namanya kelaperan." "What!?" seru keempat bocah itu. ××× Wulan, Beni, Ari, dan James memang anak Pr...