Wulan berdiri dari tempatnya, menghadap ke arah teman lelaki berwajah frustrasi karena tempat membingungkan ini. Satu-satunya orang yang tak berekspresi adalah Beni. Si botak itu seperti baik-baik saja jika dirinya dan teman-temannya nyasar tanpa arah jalan pulang.
"Ya udah, daripada di sini terus, mending kita jalan aja. Siapa tahu ketemu orang yang kita kenal," usul Wulan.
James menggaruk rambutnya putus asa. "Percuma, Lan. Kita, kan, tadi di gudang. Kenapa tiba-tiba kita ada di sini? Buku sialan itu pasti ada jampi-jampinya yang bikin kita kayak gini."
Beni dan Ari menghela napas pasrah kemudian berdiri bersisihan dengan Wulan. "Udah, deh, Mes, ayo kita jalan aja," tutur Beni.
Beni lalu menarik satu tangan James agar anak itu juga ikut berdiri bersama mereka. Setelah banyak bedecak, James pun akhirnya menuruti mereka. Empat sekawan itu menyusuri jalanan setapak di depan mereka dengan dipimpin oleh Beni. Tidak tahu akan berakhir di mana jalan setapak tersebut, yang jelas semua hal di sekitar mereka adalah asing.
Sampailah mereka di sebuah taman hijau. Secara mendadak, kaki Beni berhenti, membuat orang yang ada di belakangnya menabrak satu sama lain. Matanya tengah memperhatikan sesuatu; anak laki-laki memakai celana kodok yang sedang disuapi makanan oleh seorang ibu muda.
Penampilan anak laki-laki itu sangat lucu. Rambutnya disisir rapi ke samping, terdapat kacamata Boboho memghiasi matanya. Ditambah lagi, sepatu bulu berbentuk kelinci berwarna pink mencolok, menambah kesan aneh pada diri anak itu.
Dagu Beni memberi isyarat pada teman-temannya untuk segera melihat apa yang ia lihat. Ketika Wulan dan Ari melihat pemandangan tersebut, mereka malah tertawa keras. Pasalnya, anak kecil itu menangis hanya karena noda bumbu meghiasi sekitaran mulutnya. Sang ibu pun dengan sigap membersihkan mulut anaknya dengan tisu.
James langsung maju ke barisan paling depan, ingin melihat apa yang sedang teman-temannya tertawakan. Matanya langsung melotot ketika yang ia lihat di hadapannya adalah sebuah aib di masa lalu; anak kecil itu adalah dirinya yang memalukan.
Waktu itu dia masih berusia 3 tahun. Berniat jalan-jalan sambil makan sore bersama mamanya di taman dan berakhir dengan adegan seperti ini. Mengenangnya membuat James kangen mama walaupun baru beberapa saat terjebak di sini.
Sebelum teman-temannya semakin menertawakan dirinya di masa lalu, lebih baik ia memperingati mereka terlebih dahulu. Ia berharap supaya tidak ada yang tahu bahwa anak cengeng bercelana kodok itu adalah dirinya.
"Eh, udah, jangan diketawain dong. Kasihan anak itu," katanya membela diri.
"Lucu tahu, Mes. Masa cuma karena bumbu dia nangis jerit-jerit gitu? Kan, nggak etis banget. Mana jiwa lakinya?" oceh Ari, menambah kadar kekesalan James.
Bocah laki-laki itu tidak bisa menahan amarahnya lagi. James langsung menarik rambut Ari yang tertata rapi. "Sekali lagi kamu bilang kayak gitu, aku jadiin bumbu pecel kamu! Mau?" kata James, sengaja digarangkan.
"Jangan-jangan, anak itu kamu, ya, James?" tanya Wulan penuh selidik.
James melepaskan tangannya dari kepala Ari. Ia menoleh, mendengar Wulan mengatakan itu semua. Hening sesaat, James pun mengangguk lemah. Kepalanya menunduk, menatap rumput-rumput di bawahnya.
"Iya, anak itu aku waktu kecil," katanya terdengar berbisik. Ia mendongak lagi untuk melihat reaksi ketiga temannya. "Kenapa, sih, kita mesti ke masa kecilku? Kurang kerjaan tahu, nggak? Ini, tuh, aib! Buku kancil itu bener-bener gila!" lanjut James.
Andai kata marah dapat membuat kepala James mengelyarkan api, maka dia akan kegosongan sekarang.
Teman-temannya membulatkan mulut mereka. Wulan mengangguk paham. Buku itu membawa dirinya dan teman-temannya ke masa lalu mereka masing-masing. Pasti setelah ini, entah masa lalu Beni atau Ari yang akan mereka lihat selanjutnya.
Mereka duduk melingkar di rumput taman, mendengarkan James yang sedang bercerita mengenai masa lalunya. Dia mengungkapkan bahwa dulu dirinya termasuk anak yang cengeng, suka mengadu kepada mama, cupu, jelek, bahkan sempat menjadi bahan bully oleh anak SMP—padahal dirinya waktu itu masih di kelas 3 SD, tidak bisa melakukan apapun, dan sifat buruk lainnya.
Namun, sekarang ia mengubah sifat dan tampilannya secara drastis. Kini ia terkesan manis dengan kata-katanya yang sadis, pintar, berani, tangguh, dan tidak mudah putus asa.
"Ternyata, bocah kayak kamu bisa di-bully, ya? Biasanya, kan, kerjaannya nge-bully orang," timpal Ari yang langsung disambut jitakan ringan oleh James.
James menarik tangan Ari, berusaha memelintirnya. "Iya, aku, kan, sukanya nge-bully kamu, sayang. Huh!" Lalu ia mengerlingkan matanya geram.
"Udah, dong, sayang, jangan mesra-mesraan di depan umum, malu tahu. Nanti aja kita cari kamar," ujar Ari, sambil mencubit dadanya.
Beni dan Wulan seperti mendapat tontonan drama romantis secara gratis. Sayang sekali mereka tidak membawa kamera. Jika iya, maka adegan di hadapan mereka akan langsung direkam kemudian diunggah ke seluruh media sosial yang mereka punya.
×××

KAMU SEDANG MEMBACA
Gudang Sekolah
Pertualangan[ COMPLETED ] "Oke, hai! Selamat datang di gudang sekolah! Tegang banget, kalian jangan takut. Panggil aku Suara Langit. Karena kalo suara perut, itu namanya kelaperan." "What!?" seru keempat bocah itu. ××× Wulan, Beni, Ari, dan James memang anak Pr...