29: Keliru Tembak

885 37 0
                                    

Raja Sua menganggap dengan disanderanya Wulan oleh Ratu Beri, serta kemunculan Suara Langit, membawa Kerajaannya pada kedamaian. Kini mereka bisa hidup tenang tanpa harus memikirkan caranya mengusir Ratu pembuat onar itu. Lantas, sebagai bentuk terima kasih dan permintaan maaf segenap Kerajaan Huha, Wulan dan kawan-kawannya diperbolehkan tinggal sejenak di dalam istana.

Sekarang Wulan sedang berada di atas kasur milik Bulan, sedang menikmati tangan lembut Bulan pada rambutnya. Sang Putri ingin sekali mengutak-atik rambut kembarannya. Wulan, sih, tidak keberatan, bahkan ia sangat senang. Tangan Bulan sama lembutnya dengan tangan mama.

Membuatnya teringat akan masa TK-nya bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu Wulan tidak bisa diam kalau mama mengucir rambut panjangnya. Ada saja gangguannya, bahkan saking kesalnya mama terhadap kelakuan bocah kecil itu, ia mengikat Wulan di atas kursi agar tidak kabur.

Wulan pun tersenyum geli mengingat kejadian itu. Seiring pertumbuhannya, kelakuan menyebalkan tersebut malah terkesan konyol jika dikenang.

Bulan pun berdiri setelah rambut Wulan tertata rapi menjadi sebuah kepangan yang menjuntai hingga ke punggungnya. Ia kemudian mengambil sesuatu yang berada di lemari besar, kembali kepada Wulan sembari menyerahkan sesuatu itu.

"Wulan, ini pakaianmu. Maaf jika aku belum sempat mengembalikannya," ucap Bulan diiringi senyumnya.

Wulan menerimanya dengan riang hati, memeluknya erat sehingga menguarkan aroma mawar setiap ia melakukan pergerakan. "Ini udah dicuci! Wangi pula!" serunya girang, "makasih, ya, Bulan!"

Bulan membungkuk sekejap lalu memandang lagi ke arah Wulan. "Wulan, apakah kamu ingin makan pisang? Aku akan mengambilkannya untukmu," tawarnya.

"Boleh." Wulan kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berseru, "Yang banyak, ya!"

Bulan mengangguk, beranjak dari ruangannya menuju ruang makan tempat para makanan berkumpul. Gadis itu sangat menyukai pisang. Setiap melihat pisang, maka ia akan ingat tentang monyet yang beberapa tahun lalu pernah ia temukan di dalam hutan. Tubuh monyet itu sangat kurus dan kecil sehingga untuk menggapai jantung pisang pun ia tidak sampai.

Kaki gadis manis itu sudah memasuki ruang makan, tampaklah satu sisir pisang kuning di atas meja. Segera ia mengambilnya dan bergegas kembali ke tempat Wulan berada. Namun, ketika ia berbalik, tubuh seseorang menghalangi langkahnya.

"Beni, ada apa?" tanya Bulan gugup.

Beni menggaruk tengkuknya tak kalah gugup. "Lan, kamu mau ikut aku, nggak?" tanyanya ragu.

"Mau. Ke mana?"

Tanpa menjawab, Beni langsung melangkah, diikuti oleh Bulan sembari menikmati pisang-pisangnya. Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di atap istana yang menyuguhkan pemandangan indah bagi kedua pasang mata. Langit sore berwarna jingga, hutan hijau belantara, orang-orang desa yang saling menyapa. Tadinya pikiran Bulan sudah merambat ke hal yang aneh, tapi setelah tiba di tempat ini, kepalanya kembali jernih.

Kedua anak muda itu pun duduk di dinding pembatas yang kebetulan mudah untuk dicapai. "Lan," panggil Beni grogi.

Bulan lekas menoleh. "Apa?"

Lelaki itu menghela napasnya banyak-banyak, menyiapkan kata-kata yang hendak ia sampaikan kepada perempuan di sampingnya. "Lan, aku mau bilang ini ke kamu, tapi kamu jangan marah setelah tahu semuanya," ujar Beni.

Bulan mengelus tengkuknya. "Kamu mau bicara apa?"

"Lan, sebenarnya aku suka kamu. Aku tahu, Ari juga suka kamu, tapi ya ... pokoknya gitu, deh. Aku nggak mengharap kamu bisa bales perasaan ini. Karena seperti yang kamu bilang, anak SMP nggak seharusnya bicara cinta." Usai mengutarakan seluruh unek-uneknya, Beni mengembus napas lega.

Bulan mengerjap berkali-kali. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada Beni. Meskipun ia tahu bahwa Beni mengungkapkan perasaannya kepada orang yang salah, tapi Bulan tidak ingin mengacaukan saat-saat melegakan dalam hidup anak di sebelahnya.

Menyatakan perasaan itu susah.

Pangeran Gordon pun hampir pingsan saking gugupnya meminta Bulan untuk menikah dengannya. Tentu hal tersebut juga berlaku bagi Beni.

Anak berkepala plontos itu memang menyukai Wulan dari awal pertemuan, tepatnya pada saat ia menunjukkan lesung pipinya setelah berjabat tangan dengan gadis kecil itu. Namun, karena Ari telah lebih dulu mengumumkan bahwa ia akan mendekati Wulan, Beni mundur secara perlahan.

"Oh, jadi Beni suka sama Bulan?" Seseorang mendadak bersuara. "Sumpah, Ben, ini sweet banget! Andaikan Josh Dun nembak aku di rooftop, pasti bakal romantis!"

Ucapan tersebut menyebabkan badan Beni membeku. Terlihat sesosok perempuan bergaun putih tengah berdiri di ujung atap sambil makan apel. Ia melupakan satu hal tentang satu teman perempuannya, yakni Wulan dan Bulan memakai pakaian yang sama! Jika perempuan berkepang di ujung atap tersebut memiliki gaya bicara yang terdengar blakblakan, maka Beni sudah dapat menduga bahwa di sebelahnya kini adalah orang lain.

"Wulan?" tanya Beni sangsi.

"Iya?"

Tuh, kan!

Yang menjawab pertanyaan Beni adalah perempuan di ujung atap.

×××

Kalian nggak bingung, kan, sama tokoh Wulan dan Bulan?

Nggak, kan?

Gudang SekolahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang