tigatujuh: Hutan Lagi

908 41 2
                                    

Mereka telah kembali ke hutan. Kadang tebersit tanya di hati mereka tentang perjalanan ini. Apakah tidak ada tempat lain selain hutan? Hutan dengan pohon jati yang menjulang tinggi itu seperti sudah ditakdirkan untuk bersama mereka sejak awal.

Setelah beberapa jam menikmati masa SMA yang absurd-nya bukan main, Suara Langit datang untuk mengembalikan semuanya ke rupa asal. Wulan dengan kaus band favorit beserta celana selututnya; James dengan kaus Hatsune Miku dan rambut berantakan; Ari berkaus karakter Sihnchan; dan tidak lupa Beni, si botak yang mengenakan kaus hitam polos.

Sedang asyiknya menyusuri jalan setapak di dalam hutan, tiba-tiba tubuh Wulan melemah dan terduduk lesu di bawah pohon. Kakinya sangat lelah, badannya letih, begitu pun dengan wajahnya yang kini tampak pucat. Sebelumnya, Wulan tidak pernah drop seperti ini, bahkan ketika ia disandera Ratu Beri.

Beni yang tak sengaja menoleh ke belakang untuk mengecek keadaan pun langsung panik saat melihat Wulan bersandar di pohon. Ia menepuk pundak kedua temannya yang berada di depan, mengisyaratkan agar mereka menengok ke belakang. Keduanya terkejut, bergegas menghampiri Wulan dengan wajah panik.

"Wul, kamu kenapa?" tanya Ari cemas.

Beni berjongkok di samping tubuh kecil Wulan, menepuk pelan pipinya. "Wulan, kenapa?"

James ikut berjongkok, mengambil daun lebar untuk mengipasi teman perempuannya. "Pasti Wulan capek."

Yang dikatakan James itu sangat benar. Wulan kehabisan energi setelah terlalu lama berjalan. Ari dan Beni yang sudah peka pun meneriakkan nama Suara Langit, meminta padanya supaya Wulan dapat dipulihkan kembali.

Tuk tuk tuk

"Hai! Di sini Suara Langit yang cantik. Ada yang bisa dibantu?" tanya Sungit.

"Sungit, Wulan capek. Tolong sembuhin dia, dong. Aku nggak mau lihat Wulan kayak gini," pinta Ari.

Suara Langit yang mendengar kabar tersebut seketika terkejut. Ia tidak menyangka bahwa cewek perkasa macam Wulan bisa tumbang hanya karena kelelahan. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia pun memberikan apa yang Wulan butuhkan. Akan tetapi, pemberian Suara Langit bukan berupa nasi berikut lauk-pauk, melainkan dua buah pisang dan segelas air mineral.

Sungguh, jika Suara Langit adalah manusia yang bisa dilihat, ketiga anak itu pasti akan melemparinya dengan batu atas kekikiran itu.

Kenapa hanya pisang? Kenapa hanya air mineral ukuran gelas? Apakah satu nasi kotak terlalu mahal untuk dibayar? Lagi pula ini hanya untuk seorang siswi bertubuh mungil, bukan kuli panggul.

Ari melotot melihat makanan kecil tersebut. "Sungit, kamu yakin pis—"

"Tidak ada protes, Ari. Udah, cepetan kasih itu ke Wulan," potong Suara Langit.

Dengan begitu, Ari mengupas kulit pisang hingga tersisa daging buahnya yang segera disuapkan ke mulut Wulan. Beni yang melihat adegan tersebut menjadi sedikit murung. Terngiang di pikirannya perihal momen penembakan Wulan kepada Beni tadi. Itu benar-benar di luar dugaan, tapi ketika memperhatikan peristwa ini lama-lama, hatinya perlahan meretak.

Berbeda sikap dengan James yang terlihat cekatan mengantarkan angin-angin segar pada wajah Wulan melalui daun lebar itu. Walau cewek itu sering bertingkah menyebalkan, James juga tidak tega membiarkan Wulan tergeletak tidak bertenaga.

Doom! Doom! Doom!

Suara dentuman yang sangat keras mengguncang seluruh penjuru hutan. Tanah yang dipijak keempat remaja itu juga terasa bergetar. Mereka kontan berdiri—termasuk Wulan yang dibantu oleh Beni—memberi pandangan waspada terhadap satu sama lain. Siapa tahu suara tersebut adalah skenario selanjutnya dari Suara Langit.

Muncullah makhluk mengerikan berwarna hijau, menyibakkan pohon-pohon tinggi yang menghalangi langkahnya. Badannya sangat besar dan tinggi, bahkan melebihi tinggi pepohonan di hutan, juga terdapat sebuah benjolan kecil berwarna kuning di dahinya, tepat di antara alis-alis tebal itu.

Mata yang merah dengan kantung tebal di bawahnya menjadikan raksasa tersebut kian mengerikan. Keempat remaja itu lantas meneguk saliva masing-masing.

Ujian apa lagi ini, Suara Langit?

"Lan, kamu masih kuat lari, kan?" bisik Beni pada perempuan di sebelahnya.

Wulan menggeleng pelan. "Kakiku masih lemes, Ben."

"Naik ke punggungku, cepetan!" perintah Beni.

Ketika Wulan telah berada di punggung sambil memeluk lehernya, Beni pun menoleh ke arah Ari. "Maaf, Ri, tapi aku tahu kamu nggak akan kuat bawa Wulan," ucapnya.

"Nggak apa-apa, Ben. Yang penting Wulan bisa selamat." Ari kemudian tersenyum memandang gadisnya.

Beni mengangguk. "Mes, Ri, kita bakal lari pada hitungan ketiga," katanya memberi aba-aba. "Satu ... tiga! Lari!"

Mereka berlari secepat yang mereka bisa. James yang biasanya sangat lamban dalam hal apapun kini malah berhasil membalap Ari, sementara Beni berada di belakang bersama Wulan di punggungnya. Untungnya ia tahu bahwa Ari tidak akan sanggup membawa Wulan. Kalau tidak, momen menakjubkan ini akan terlewatkan begitu saja.

Jauh di dalam batin, Wulan sangat senang ketika Beni menaruh perhatian lebih kepadanya. Usahanya untuk menyuarakan perasaan tidak berakhir percuma, bahkan ia masih tidak dapat mengira bahwa Beni juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

×××

Oke fix
Aku Belan shipper

Cuma tokoh fiksi, sih, tapi Beni beneran cool abis

Mantap soul ✊

Gudang SekolahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang