"bagaimana keadaannya?" Joon hae memasuki apartemennya tak sabar, dia berharap tempat tinggalnya ada di lantai satu saja kalau begini, bukannya di lantai paling atas. Masa bodoh dengan pemandangan kota di malam hari, dia bisa pergi ke hotel Mana saja dan menikmatinya kalau dia ingin.
"Sudah lebih baik, paling tidak suhu badannya sudah turun meski dia masih belum sadar." Nam jin suk, manajernya menjawab.
Beberapa menit yang menyiksa itu akhirnya berakhir saat lift terbuka, menunjukkan lorong apartemen yang dikenalnya. Setengah berlari, dia menuju pintu masuk ruangannya. Untuk sesaat, dia merasa begitu lega melihat plakat besi nomor apartemennya berada dalam jangkauannya. Rasanya, sudah lama sejak pertama kali sejak dia memiliki tempat ini, dia merasa bersemangat memasukinya.
Pintu terbuka, setelah Joon Hae memasukkan kode kamarnya. Tanpa menunggu manajernya membukakan pintu itu untuknya dia sudah melesat masuk, berjalan begitu saja menuju kamar utama, kamarnya.
"Ah...selamat malam tuan..." Kedatangannya disambut seorang perawat yang berdiri tampak sedikit terkejut. Joon Hae tampaknya tak repot-repot membalas sambutan itu. Bukan acuh, hanya saja kali ini bukan sikap buruknya yang jadi perhatiannya. Tapi dia, perempuan yang sekarang terbaring di atas tempat tidurnya. Dia alasan kenapa Joon Hae mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, berpikir mengganti ruangan nya, dan kehilangan fokus bekerja sejak tadi pagi. Atau lebih tepatnya sejak perempuan itu pingsan di depan matanya.
"Dia... baik-baik saja?" Tanyanya pada perawat itu tanpa benar-benar memandangnya, tatapannya masih terkunci disana.
"Dia baik-baik saja, lukanya sudah dibersihkan...mungkin butuh 2 atau 3 hari sebelum lukanya membaik. Penangannya sedikit terlambat tapi masih bisa diatasi, infeksinya tak terlalu parah." Perawat itu menjelaskan, sembari mengamati cairan infus yang terus menetes perlahan.
Dia lega, benar-benar lega. Dia tak tahu apa yang akan dilakukannya jika sesuatu yang serius terjadi padanya. Dasar perempuan bodoh! Harusnya dia berteriak minta tolong selagi dia bisa.
"Kalau begitu...aku pergi dulu. Besok aku kan kembali lagi. Permisi..." Perawat itu mengambil tasnya, menunduk singkat.
"Akan kuantar." Jin suk mengambil inisiatif, melihat Joon Hae yang masih terus terpaku menatap wanita itu.
Perawat itu melewatinya begitu saja, tampak sedikit kesal karena Joon Hae sepertinya mengacuhkannya.
Yah...Joon Hae tak peduli.
Dia memutar langkahnya, beranjak ke bagian samping tempat tidurnya. Membuatnya lebih dekat dengan sosok yang sedang tertidur itu.
Tubuh yang terbaring itu tampak lemah, keringat membuat rambutnya basah, tapi menurutnya itu bagus. Semakin dia berkeringat, suhunya akan cepat kembali normal. Joon Hae bahkan tak berani melihat luka yang menyebabkan ini semua, baginya mengetahui dia terluka saja sudah cukup mengerikan.
Joon Hae duduk di tepian kasur, menimbang-nimbang ingin menyentuh tangan lemah yang lunglai tergeletak di atas selimut yang menutupinya. Tapi tidak...dia akhirnya hanya bisa menatapnya dan itu membuat pikirannya melayang, kembali di saat pertemuan pertamanya dengan gadis itu.
Percaya cinta pada pandangan pertama? Tidak, baginya itu omong kosong. Kalau saja ada sesuatu, menurutnya itu hanya karena tertarik. Mungkin karena dia cantik atau sexy. Perasaan semacam itu.
Tapi untuk kali ini, Joon Hae akan menertawakan teorinya sendiri. Kenapa? Karena wanita itu dengan mudahnya menancap di otaknya bahkan tanpa dia harus susah payah menggunakan make up tebal dan pakaian brand ternama. Dia hanya berdiri disana dengan senyum konyolnya itu, ekspresi marahnya dan tingkah acuhnya, semua itu cukup untuk membuatnya gila.
"Dia sudah pergi..." Lapor manajernya.
Joon Hae mendongak, "baiklah...kau bisa pulang. Aku akan menunggunya."
Jin suk memandang heran kepadanya, "benarkah dia harus ada disini? Kita bisa membawanya ke hotel atau tempat lain selain rumah sakit. Aku khawatir akan ada yang tahu dia disini, kau bisa kena masalah..."sejak awal memang dia tak pernah setuju ide gila ini, memasukkan wanita asing ke apartemennya sama saja artinya dengan skandal baru.
"Aku sedang tak ingin berdebat." Katanya singkat.
Kalau sudah begini, tak ada lagi yang bisa nam jin suk lakukan. Joon Hae benar-benar mengusirnya sekarang.
"Baiklah, aku pergi. Telpon aku jika ada sesuatu."
"Hmm." Joon Hae bahkan tak mau repot-repot menatap lawan bicaranya.
Nam jin suk hanya mengangkat bahu, sudah lupa bagaimana rasanya tersinggung melihat tingkahnya. Dia hanya beranjak pergi, seperti yang diinginkan artis kebanggaannya itu.
Pintu kamarnya tertutup lalu Hening...
Beberapa menit rasa sunyi yang berkuasa, karena Joon Hae bahkan masih tak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan pingsan itu.
Karina...dia mulai menata kalimat seperti apa yang bisa membuat dia menyesal telah membuat orang selevel dirinya mengkhawatirkan orang asing yang bahkan tak tahu dari mana asalnya ini. Dia selalu profesional dalam hal apapun, tapi sejak bertemu dengannya dia kehilangan fokus dan mulai bertingkah konyol seperti remaja ingusan yang sedang tergila-gila dengan lawan jenisnya.
Mendadak, Joon Hae mulai melihat pergerakan. lamunannya menghilang cepat, teralihkan oleh Tangan lemah yang mulai bergetar pelan...dia sadar?
Matanya mulai mencari cahaya...dari bibirnya keluar suara erangan pelan. Apa dia merasa sakit?
"Bagaimana keadaanmu? Ada yang terasa sakit?" Tanyanya tak sabar, dan rupanya itu berhasil. Suaranya seakan jadi semacam kejut listrik yang hanya dalam hitungan detik mampu membuat perempuan itu membulatkan mata ke arahnya dan mulai menatap lapar pemandangan di sekitarnya. Mungkin mencari tahu tempat apa ini.
"Bagaimana...bagaimana...ah!" Dia menepuk keningnya, "aku pingsan..."
"Ya." Joon Hae menjawab datar, tentu saja dia akan menghadapi adegan ini, aku dimana-aku kenapa-bagaimana bisa aku disini, well, sudah terlalu banyak scene itu di skenario yang pernah dia baca. Jadi dia cukup bosan.
"Galih..." Nama itu yang pertama terucap, dan Joon Hae tak suka, tiba-tiba kemarahannya berubah menjadi rasa kesal.
"Kau memberitahunya?" Sambungnya lagi.
Joon Hae menatapnya tanpa ekspresi berarti, "kenapa harus?"
"Aku tiba-tiba menghilang, dia pasti panik mencari ku...aku harus menghubunginya, AAAHHH!!!" Dia berteriak, tapi Joon Hae sama sekali tak panik melihatnya, rasa kesal sudah menguasai otaknya."seharusnya kau tak banyak bergerak, mungkin penahan rasa sakitnya sudah mulai hilang." Katanya, ekspresinya mulai terkendali. Sebagian besar karena dia marah. Ya! Dia terbangun dan menyebut nama orang lain, dimana rasa terima kasihnya? Membiarkannya tidur di tempat tidurnya, di dalam apartemennya, dan tentu saja resiko yg harus diambilnya nanti karena terlalu gegabah menyelamatkannya. "kau bisa mengkhawatirkan laik-laki itu nanti...khawatirkan dirimu sendiri dulu. kelakuanmu yang sembrono setelah terluka seperti itu, kau sebenarnya bodoh atau hanya terlalu tak peduli dengan nyawamu?"
Karina mendesis, mencoba menahan rasa sakit di perutnya. "Ini semua karena kau...kalau saja malam itu aku tak bertemu dengamu mungkin aku tak akan jadi seperti ini, kurasa sejak pertama kali kita bertemu aku harusnya tahu kau hanya tempatnya masalah."
"Bukan...harusnya kau cukup pintar untuk tak pernah bekerja bersama temanmu itu, lagipula kita bisa menemukan seseorang dengan keahlian 100 kali lipat lebih baik darimu disini. hanya laki-laki itu yang membutuhkanmu...aku? tim produksi? kau hanya seperti mahasiswa magang disini, tapi anehnya kau dibayar seperti seorang profesional." kalimat itu meluncur begitu saja tak terkendali, kemarahannya karena Karina menyebutnya sumber masalah benar-benar melukai harga dirinya. kepeduliannya seakan tampak sama sekali tak berharga.
Park Joon Hae mengamati mata Karina yang mulai membulat, tampak semakin marah tapi rupanya dia mulai kehilangan kata-kata. Joon Hae menunggu tapi tak ada teriakan atau kalimat menyakitkan lain yang keluar dari mulutnya.
Kemudian tawa sinis keluar dari mulutnya, Detik berikutnya raut wajahnya mengeras. Dengan membabi buta di mulai mencabut jarum infus yang masih menancap di lengannya. Menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya dan mencoba bangkit dari tempat tidurnya dengan erangan yg membuat Joon Hae benar-benar menahan diri Untuk tetap tenang ditempatnya. Dia tahu, Karina akan Semarah ini, dia sudah menebak hal terburuk yang akan terjadi. Hanya karena dia lupa mengerem mulutnya.
Setelah dia berhasil berdiri dengan kedua kakinya, dia tersenyum menatap puas padanya
"pertama, terima kasih... well, itu seharusnya tak perlu karena kau lah penyebabnya. kedua, kalau kau memang berpikir aku tak berguna itu bukan urusanku, kau sudah menandatangani kontrak dengan paket tim produksi yang aku juga termasuk didalamnya. Ah! Kalau aku kemari karena koneksi atau kalau seperti katamu karena galih menyukaiku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikahinya.....atau jadi pacarnya saja, mungkin setelah itu baru aku bisa membalas kebaikannya. Kau memberiku ide yang bagus, bersama dengan orang berbakat sepertinya karirku akan aman." Karina menyelesaikan kalimatnya sementara tangannya menekan pelan bagian perutnya yang terluka.
Tapi begitu perempuan itu melangkah mendekati pintu kamarnya, Joon Hae teringat sesuatu.
"Kau tak bisa pergi." Perintahnya. Membuat Karina berbalik menatapnya semakin kesal.
"Lucu! Harusnya kau senang aku menghilang dari wajahmu." Balasnya pedas.
"Kau hanya akan semakin membuat masalah kalau kau keluar dari tempat ini." Joon Hae mengingatkan, kali ini nadanya semakin serius.
"Lihat saja aku." Karina tak lagi bersabar, dia mendorong pintu kamarnya dengan langkah yang tertatih, melewati ruang tengah Joon Hae yang luas.
"Damn it!" Joon Hae mengumpat dan mulai mengejarnya. Amarah yang berhasil dipancingnya membuatnya terjebak dalam kekacauan yang semakin parah.Hallo reader!!! Pertama kalinya nyapa setelah 4 ep...comment dan vote nya ditunggu ya...biar author semangat terus hehe, cuma buat yang lagi ngikutin cerita ini maaf kalau updatenya lama2... Soalnya memang situasi dan kondisi yang lumayan hectic hehe but...enjoy the story!!!

KAMU SEDANG MEMBACA
Emmergency Encountered (Completed)
RomanceHujan itu sering dikaitkan dengan hal- hal romantis tentang cinta, jatuh cinta, kenangan cinta dan ribuan cerita lainnya. sedih atau bahagia rasa itu seakan bertambah seribu kali lipat saat hujan. kenapa? sebenarnya aku juga tak tahu, hanya begitula...