Part 13

19 2 0
                                    

Aku menatap sekaleng soda yang sudah terbuka dihadapanku dengan masih gemetar. begitu aku tahu pintuku terbuka meski lampu di dalamnya masih padam. sungguh, aku pikir jantungku baru saja menghilang dari tubuhku. ketakutanku cepat merayap ke seluruh urat-urat syarafku membuatnya mati rasa, hingga selama beberapa detik aku hanya bisa mematung di tempatku berdiri.

Aku paling tidak suka gelap, jadi aku bahkan tak mampu mendorong tubuhku untuk bergerak masuk ke dalam flat ku dan memeriksanya. Semua bayangan mengerikan sudah berlomba-lomba memenuhi otakku, dan tak ada satupun yang bisa jadi pilihan bagus. Jadi kuputuskan berlari ke depan gedung dan menghubungi satu-satunya orang yang bisa kuingat saat itu.

Siapa yang sebenarnya sedang kuhadapi? Fans gilanya? Atau aku hanya lupa menutup pintu kemarin? Haha itu konyol. Bagaimanapun tak berharga nya barang di dalam ruanganku, aku masih peduli untuk menjaganya.

"Karina!" Suara teriakan itu membuatku menoleh dan entah kenapa perasaan lega yang amat sangat mendadak kurasakan begitu mendengar suaranya.

"Joon Hae-shi!" Aku berdiri dari tempat dudukku menunggunya yang setengah berlari menghampiriku. Aku pikir dia tampak khawatir....Apakah aku salah?

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya dan aku hanya bisa mengangguk, yah...Setidaknya saat ini. "Kita pergi dari sini." Lanjutnya, menggenggam tanganku tanpa ragu dan menyeretku pergi. aku yang sedang bingung dan ketakutan tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

**********************************

Joon Hae hanya membisu sepanjang perjalanan, mau tak mau membuatku heran. dia biasanya hanya akan melakukan 2 hal padaku menggodaku sampai aku mati kesal atau marah-marah. ah...atau mungkin ini adalah salah satu bentuk kemarahannya yang lain? Cih! bukankah disini aku harusnya yang begitu? hidupku jadi tak tenang begini semua karena dia kan?

Aku melipat tanganku dan memutar badanku ke arah jendela. tingkahnya sungguh membuatku bingung, kalau saja tadi aku tak sedang panik aku tak akan mau diseret-seret begini. harusnya aku tadi menelepon orang lain saja...

Roda mobil terus berputar, tak terasa Joon Hae membelokkan kemudinya memasuki garasi sebuah rumah yang asing bagiku. kutegakkan tubuhku, masih dengan penuh tanda tanya. aku tak tahu kenapa dia membawaku kesini, kupikir apartemen kemarin adalah rumahnya. tapi Joon Hae masih dalam aksi menyebalkannya, dia bahkan tak berniat memberikan penjelasan apapun padaku. Ah sudahlah...aku juga tak akan bertanya, memang kenapa kalau dia punya 10 rumah? dia bisa membeli apapun yang dia mau.

Joon Hae menarik tuas rem mobilnya begitu mobil telah terpakir benar, masih membisu dia membuka pintu mobilnya sendiri dan keluar menuju pintu masuk...sama sekali tak berniat membawaku masuk. aku menyumpah dalam hati, apa dia sedang bermain-main denganku? kalau aku mau bertingkah kekanak-kanakan aku akan diam saja disini seperti anak TK yang sedang marah, apa dia menginginkanku begitu? oh tentu saja aku tak akan membiarkannya senang dengan mudah.

Kubuka pintu mobilku lebih kasar dari seharusnya, membantingnya hingga tertutup dan mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam rumah itu. Rumah itu tak sebesar mansion orang-orang kaya yang bergaya eropa klasik, tapi cukup luas jika dibandingkan dengan apartemennya kemarin dan lebih nyaman, halaman rumput di depan rumahnya dengan ayunan putih di dalamnya membuatku merasa sedang memasuki tempat tinggal sebuah keluarga yang bahagia.

"Kau mau disana sampai kapan?" Joon Hae menyadarkanku, ternyata dia masih menahan pintu untuk menungguku masuk.

Aku beralih menatapnya, kemudia melangkah dengan terpaksa ke arahnya. 

"Kupikir kau ingin aku tidur diluar." Selorohku sambil mengganti sepatuku dengan sandal rumahnya.

"Kalau kau mau...silahkan saja." Jawabnya sama sekali tanpa ekspresi, apa dia sedang serius? karena aku bisa membaca situasi jika dia sedang tak ingin bercanda denganku.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang