Part 27

25 2 4
                                        

"apa aku membuatnya begitu sulit untukmu? Apakah perasaanku padamu membuatmu terbebani?" Suaranya melembut, membuat perasaan bersalah itu semakin menggerogoti hatiku lebih dalam.

Aku menggeleng masih terisak, kali ini berusaha membersihkan air mataku yang tak juga mau berhenti.

Joon Hae melepaskan pengunci sabuk pengamannya, melepaskan milikku juga sebelum mendorong tubuhku menghadap ke arahnya. Tangannya merangkak naik dari bahuku ke masing-masing kedua pipiku yang penuh air mata. Menghapusnya perlahan dan secara langsung mengirimkan debaran aneh lagi dalam tubuhku. Bagaimana dia bisa sesantai ini setelah apa yang baru saja kukatakan? Harusnya dia segera pergi dan mengurus surat cerai sekarang juga.

"Maafkan aku..." Ucapnya, dan itu membuatku semakin membenci diriku sendiri.

"Hentikan." Jawabku pelan, "kau tahu ini bukan kesalahanmu." Ucapku disela-sela tangisku yang mulai mereda.

"apa yang ingin kau lakukan? Mau membicarakannya?"

Aku mengagguk cepat, sudah cukup kesalah pahaman ini menyiksaku, dan entah kenapa pertama kali membayangkan kemarahannya saat namanya muncul di teleponku sore ini membuatku begitu takut kehilangannya, rasa takut saat membayangkan dia akan pergi dariku sungguh membuatku begitu tak nyaman. Aku jadi benar-benar merasa seperti kekasih yang sedang ketahuan mengkhianatinya diam-diam.

Joon hae mengambil sesuatu dari belakang mobilnya, ternyata sebuah jaket tebal panjang yang segera diserahkannya padaku, "Pakailah! Aku yakin disini aman, tapi kurasa kau sedang tak menginginkan publisitas yang sama saat terakhir kali kau kesini."

Kali ini aku setuju dengannya, tanpa banyak protes aku segera mengenakannya. Bahkan memasang tudungnya rapat hingga menutupi separuh wajahku. Perlahan aku turun dari mobil begitu juga dengan Park Joon Hae. Masih dengan debaran yang sama sekali tak berkurang aku mengikuti Park Joon Hae dengan patuh menuju pintu masuk apartemen hingga ke dalam lift yang membawaku ke tempat tinggalnya.

Rasanya seperti kemarin aku baru saja terbangun di tempat asing dan mulai membuat masalah yang lumayan fenomenal. Aku bahkan tak pernah bermimpi bisa mengencani seoarang aktor disini apalagi menikahinya,

Apartemen yang cenderung sepi membawaku cepat ke lantai atas tempat ruanganya berada, aku berjalan pelan mengikutinya yang hanya melangkahkan kakinya tanpa suara.

"masuklah..." Joon Hae sudah membuka kode kunci pintunya, membiarkanku melewatinya terlebih dahulu.

Dengan masih sangat tak nyaman aku masuk juga ke ruangan itu, masih terlihat sama dengan terakhir kali aku meninggalkannya. Sebuah meja makan kecil yang terlihat disisi yang sama dengan dapur mengingatkanku tentang insiden sarapan pagi dimana dia bertanya apakah dia bisa mengencaniku. Dan saat itu bahkan jantungku sudah berdebar hebat.

Rasa panas yang mulai menyelimutiku membuatku perlahan melepas jaket tebal yang sedari tadi membungkus tubuhku. Setelah benar-benar terlepas aku melipatnya kasar dan meletakannya diatas sandaran sofa di ruang tengahnya. Wajahku rasanya masih terasa lengket karena air mata, ah...apa kabar dengan riasanku yang tadi, kurasa sekarang wajahku sudah seperti hantu. Kecuali kalau Hana tadi menggunakan make up tahan air yang tak mudah berantakan.

Perhatianku teralih saat aku merasakan suara langkah mendekat dan berhenti tepat di depanku, aku mendongak, dan menemukan Joon Hae yang memandangku tajam. Tampak enggan mengalihkan pandangannya dari mataku, membuatku merasa jika dia mungkin akan marah lagi. Apakah dia sedang memerankan seorang kekasih yang sedang cemburu? Meskipun aku bisa mengerti tanda-tandanya, aku masih tak mau terlalu percaya diri.

"Maafkan aku..." Ucapku pelan, ini memang salahku. Aku sadar kata-kataku tadi menyakitinya. "Aku sama sekali tak bermaksud mengatakannya."

"Tapi kau benar." Jawabnya singkat membuatku kesal.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang