Part 20

22 2 3
                                        

Pukul 6 pagi aku sudah berada di depan dapur, dia kemarin bilang apa? Sarapan bersama bukan? Yah...paling tidak aku sudah tinggal gratis disini. Jadi tak ada salahnya membuat sesuatu untuk sarapan. Hari ini jadwal syuting jam 10.00 pagi, aku masih punya banyak waktu untuk sampai di tempat itu jika aku berangkat pukul 08.00. lagipula karena lembur gila-gilaanku semalam, semua pekerjaan untuk hari ini sudah kuselesaikan semua.

Kubuka lemari pendingin besar yang berada disudut dapur dan takjub dengan isinya. Kapan dia belanja hingga bisa membeli semua ini? Kurasa dia punya banyak waktu luang. Aku mengambil beberapa bahan, karena aku tak bisa membuat makanan korea aku berencana membuat nasi goreng. Kurasa itu yang paling mudah. Setelah mengeluarkan beberapa bahan dasar aku segera memulai pekerjaanku. Ah...nasi...aku baru ingat, apa yang akan kumaska jika nasinya tak ada.

Aku melongok ke dalam penanak nasi dan sudah bisa kutebak isinya kosong. Beras, aku butuh beras. dan leganya aku menemukan penyimpan beras di sudut lain dapur. Hampir setengah jam aku berkutat di dapur tapi tak ada tanda-tanda pemilik rumah ini bangun dari tidurnya. Kurasa dia pasti lelah atau pingsan?

Hmm...kelihatannya enak, bau masakanku akhirnya memenuhi dapur setelah bahan terakhir kumasukkan. Aku memang bukan koki handal tapi hidup sendiri membuatku harus bisa mengurus diriku sendiri. Jadi aku mulai belajar memasak makanan sederhana yang bahannya banyak tersedia disini.

"jadi begini rasanya ada seorang istri dirumah?"

PRANG!! Spatulaku melompat entah kemana sementara aku yang terkejut tanpa sadar memegang sisi panas penggorangan karena takut telurku jatuh. Ah!! Rasanya panas.

"YA!!!! Ahhh...." Aku batal mengomel karena luka bakarku yang mulai menyakitiku.

"Kau baik-baik saja?" Joon Hae berlari kearahku, menarik tangaku yang melepuh. Aku hampir saja menolak memberikannya tapi dia dan kekuatannya yang lebih besar selalu mendapatkan apa yang dia mau.

Aku meringis menahan sakit sementara dia mulai mengamati lukaku, beberapa jariku terlihat memerah dan aku yakin beberapa menit lagi akan mulai melepuh.

"Tunggu!" aku menarik tanganku, mematikan api dan mengangkat telurku dengan tergesa-gesa.

"Ya!!! Biarkan saja!" Joon hae kembali menarik tanganku kali ini ke arah air yang mengalir, mencucinya disana dengan paksa. Aku ingin protes tapi rasa dingin air itu membuatku tutup mulut. Rasanya menyenangkan saat panas itu sementara pergi dari jari-jariku.

"Ceroboh!!" ujarnya tanpa berdosa.

Aku mendengus kesal, "Kau yang tiba-tiba datang seperti hantu. Membuatku kaget setengah mati!"

Dia terdiam. Masih berkonsentrasi membiarkan air mengalir ke atas lukaku.

Setelah beberapa saat dia mematikan airnya dan menarikku ke salah satu kursi di meja makannya yang terletak tepat di depan dapurnya. Aku meniup lukaku berharap itu membantu sementara dia sudah menghilang dan muncul kembali dengan sebuah handuk kecil. Berhati-hati dia mengeringkan tangananku membuatku harus merasakan kembali jantungku yang berlompatan tak terkendali. Aku jadi lupa kalau tanganku baru saja terbakar.

Penampilannya yang baru saja bangun tidur sungguh keren, rambut yang berantakan, mata setengah mengantuk dan bau tubuhnya yang tetap harum sungguh berhasil mengacaukan otakku.

"Sudah... aku bisa sendiri." Aku merebut handuk itu darinya, mencoba menghindarinya. Bagaimana bisa aku berpikir jernih jika dia mempengaruhiku begitu kuatnya,

Dia menolak, yah... itulah Park Joon Hae, bukan lagi kejutan. Kembali merebut handuk itu dan mengeringkan tanganku. Setelah dia yakin tak ada sisa air dikulitku, dia beralih pada sesuatu yang lain di sakunya. Seperti sebuah salep, dia membuak dan mengoleskannya perlahan tepat di bagian yang terbakar. Rasanya dingin, dan membuat kesakitanku berangsur berkurang hingga hampir tak terasa.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang