Part 25

20 1 9
                                        


Pukul 6.30 aku akhirnya selesai dengan semua misi Jung Hana tentang membuatku menjadi cantik, entahlah apa saja yang dipakaikannya di wajahku tapi aku bahkan terkejut melihat hasilnya. Tak heran jika dia salah satu make up artist yang sering dipakai banyak artis, aku saja sampai tak lagi mengenali bentuk wajahku yang baru.

Kulitku yang tak seputih gadis korea tampak lebih bersinar tanpa harus dipaksa untuk membuatnya berbeda dengan warna bagian tubuhku yang lain, make up yang tipis tapi tegas menonjolkan sisi wajahku yang dianggapnya menarik. Aku menyukainya, tapi fakta jika aku akan menggunakan riasan ini untuk kencan yang tak kuinginkan membuatku sedikit kecewa.

"baiklah kita berangkat?" kataku bangkit dari kursi busa yang mulai panas karena kududuki.

"Tunggu!" Hana berbalik cepat, meninggalkan kesibukannya membereskan peralatan make upnya.

"Kurasa wajahku sudah cukup lumayan, meskipun aku tak yakin dia akan terus menatapku semalaman." Timpalku, membuat bibirnya mengerucut kesal.

"Karina! Tak ada yang bisa kabur dari wajah hasil karya seniku. Kau tahu? Jadi berhenti mengkhawatirkan itu. Lagipula...." Hana menggantung kata-katanya dan mulai melihatku dari atas ke bawah, "Kau yakin kau akan memakai ini?"

Aku lantas menatap penampilanku, tak ada yang aneh. Aku cukup nyaman dengan kemeja peach dan celana jeans ku. Kurasa penampilanku masih aman untuk tampak normal.

"Kurasa begitu..." putusku.

Hana menggeleng, tampak tak setuju dengan apa yang kukatakan, "Kita harus menggantinya, kau akan menemui seseorang Karina. Kau harus terlihat sempurna."

"Apa itu perlu? Bukankah mereka akan berpikir kita berusaha terlalu keras hanya untuk bertemu?"

"Karina..." sekarang tatapannya seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya, "Kau boleh berpenampilan sebaik mungkin tapi...bertingkahlah seakan itulah yang kau lakukan setiap hari."

"itu melelahkan."

"Itulah wanita." Kembali memperbaiki kata-kataku, aku mendesah. Baiklah hari ini aku akan menuruti saja apa maunya. Yang penting semuanya aman terkendali. Mungkin saat gosip aku sedang kencan buta dengan orang lain beredar, semua hal yang mengaitkanku dengan Park Joon Hae akan berakhir sama juga.

Dia berbalik, kali ini menuju persediaan wardrobe nya yang bertumpuk-tumpuk, semuanya adalah gaun dan pakaian sponsor yang digunakan di film ini. Harganya?? Aku tahu aku tak akan sanggup membelinya meskipun aku nekat mogok makan selama 1 bulan.

"Pakai ini!" dia mengangsurkan sebuah gaun brokat putih yang manis. Apa ini tak terlalu berlebihan?

"benar aku bisa memakainya?"

Tak sabar, Hana segera menarik tanganku dan meletakkan gaun itu disana, "Pakailah! Atau aku tak akan mau bicara denganmu lagi."

***

Park Joon Hae termenung di salah satu tempat duduk di kantor manajemennya, kegiatannya hari ini sudah berakhir dan dia bisa pulang tak semalam biasanya. Seharusnya dia senang dia bisa bertemu dengan Karina, atau paling tidak menunggunya di rumah. Tapi beberapa hari ini dia merasa sedang diabaikan, apakah dia membuat kesalahan? Rasanya dia tak melakukan apapun yang membuat gadis itu marah.

Menatap teleponnya yang sepi, ya...sepi karena Karina tak pernah sekalipun berinisiatif untuk sekedar menanyakan keadaannya. Entah apa yang sebenarnya dipikirkannya? Lama-lama gadis itu membuatnya frustasi. Jangan-jangan...apa dia sedang ditolak? Tapi...Park Joon Hae yakin dia merasakan yang sebaliknya, bagian pipinya yang memerah itu sama sekali tak bisa di sembunyikannya.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang