Part 37

4 0 0
                                        

Joon Hae memenuhi janjinya, dia telah mencurahkan semua fokus dan energinya pada setiap pengambilan gambar selama seminggu di Gyeongju. paling tidak, dia bisa melupakan Karina sejenak dengan menyibukkan dirinya. karena saat kepalanya penuh dengan hal lain dia bisa menunda rasa rindunya pada gadis itu. Mungkin dia terlalu terbiasa, tapi menunggu waktu bisa menatapnya itu menyiksa, seandainya dia tahu...dia akan memberikan syarat lebih cepat. seminggu rasanya seperti menghabiskan separuh hidupnya menunggu.

Susah payah dia menutupi semua kegelisahannya, bahkan tak ada seorangpun yang curiga jika suasana hatinya sedang kacau balau. Pengecualian untuk Galih, dia sadar jika selama hari-hari kekosongannya tanpa Karina, laki-laki itu sering menatap ke arahnya jika sedang tak sibuk merekam sesuatu. Joon Hae tak peduli, dia bisa melakukan apapun padanya asal tak mencoba untuk menjauhkan Karina darinya. Jika itu terjadi, dia tak akan setenang ini.

Kalau dipikir lagi, Gadis itu sungguh terlalu. disini, dia sama sekali tak berdaya. Galih menolak memberitahunya apapun, hingga dia hanya mengandalkan rumor yang bergerak diantara kru film tentang keadaannya. Karena itu lah dia tahu jika Karina hanya menghabiskan 3 hari di rumah sakit dan sementara ini tinggal di kamar Jung Hana. Setidaknya dia aman, dan masih dekat dengannya. Saat ini hal itu cukup menghiburnya.

"Park Joon Hae-shi, aku akan meninggalkan mantelmu disini. Kau harus memakainya setelah ini. udaranya dingin." Jung Hana, tempat Karina melarikan diri terakhir kali meletakkan sebuah mantel tebal berwarna coklat di kursi di samping tempat duduknya. Dia sungguh tergelitik untuk menanyakan keadaan Karina, tapi dia sudah berjanji. Dia akan menunggu hingga Galih menutup hari ini dan dia akan bertemu dengannya. Kolam Anapji yang terlihat hijau karena lumut-lumut segar di dalamnya seharusnya menjadi pemandangan indah yang bisa dinikmatinya bersama Karina. setidaknya, saat ini dia punya alasan untuk menganggap kepergiannya kali ini sebagai liburan singkat untuk mereka berdua. tapi, Jin Hyuk mengacauan  semuanya.

"Terima kasih." Jawabnya singkat sambil kembali menekuri telepon genggamnya dengan diam. memandangi temannya berarti dia akan membutuhkan usaha lebih banyak untuk menahan diri, dan mengacaukan di menit terakhir tentu bukan hal yang diimpikannya.

"Oh ya, karena ini pengambilan gambar terakhir aku akan pergi lebih awal. Galih sudah tahu, aku harus membereskan banyak hal. Jadi kalau ada yang kau inginkan kau bisa katakan sekarang." Ujarnya seraya membersihkan beberapa peralatan riasnya dari atas meja. 

"Kurasa tak ada." Jawabnya singkat masih tak berpaling dari layar kecil itu, meskipun dia tak tahu apa yang sebenarnya sedang diperiksanya. satu-satunya hal yang membuatnya tertarik hanya pesan dari Karina, mengatakan dimana dan kapan mereka bisa bertemu. tapi tanda-tanda itu tak juga muncul.

"Baiklah." Gadis itu meneruskan kesibukannya, mengemasi peralatannya dengan berisik. 

Joon Hae mendesah berat, kembali menatap jam di layar ponselnya yang begitu bergerak lambat sesekali memperhatikan Galih yang masih sibuk memeriksa hasil pengambilan gambar hari ini. entah apa dia sengaja atau tidak, tampaknya dia sedang berusaha mengulur waktu. Seminggu yang penuh ketidakpastian ini harus segera diakhiri, jika dia ingin hubungan ini terselamatkan. 

"Apa dia sudah gila?" tanpa sadar Jung Hana setengah memekik, membuat Joon Hae yang sesaat tenggelam dalam lamunannya seperti dihempaskan kembali ke kenyataan. sedikit terusik, tapi tak ada keinginan untuk peduli. Ketertarikannya hanya sebatas lirikan yang membuat Jung Hana bergerak sedikit menjauh karena Joon hae memberikannya ekspresi terganggu.

"Ya!! Karina! apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? kau berjanji padaku kita akan pulang bersama bukan? dan setelah apa yang terjadi...ya aku tahu....tapi aku tetap tak bisa tenang begitu saja....bagaimana jika ada seseorang....Ya!!!! berhentilah bicara seakan semuanya baik-baik saja!" Desis kemarahannya terdengar jelas, Jarak yang diambil perempuan itu masih dalam jarak dengar Park Joon Hae, yang seketika itu juga tubuhnya menegang di kata-kata pertama. Joon Hae sudah menyerah untuk menahan diri, ini sudah diluar kendalinya.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang