Part 10

16 2 0
                                    

Kita menikah saja....

Kubenturkan kepalaku di atas meja, disebelah kopiku yang panas. aku masih mengutuk diriku sendiri karena mengatakannya dan sekarang aku semakin gelisah menunggu galih dan Direktur Min Dong Sik yang saat ini sedang rapat. apa yang akan kukatakan pada mereka? bagaimana aku memulai penjelasanku? oh...hai! aku punya kejutan....kalian tahu aku dan Joon Hae-shi sudah menikah! kalian terkejut bukan? kubenturkan kepalaku sekali lagi berharap dengan melakukannya aku bisa tiba-tiba hilang ingatan.

Tiba-tiba pintu terbuka, Joon Hae dengan santainya masuk dan merebahkan dirinya di atas kursi tepat disampingku. rasanya aku hampir tak sanggup mengangkat kepalaku tapi akhirnya kutegakkan juga tubuhku, menatapnya antara marah, kesal dan ketakutan.

"aku harap suasana hatiku sepertimu" ucapku sinis, paling tidak di berusaha panik bersamaku, meski aku tahu itu hanya pura-pura. Melihatnya setenang ini membuatku merasa semuanya adalah kesalahanku. Dan kenyataan itu semakin membuat ku kalut.

"semua sudah terjadi, dan kau ingat... Kita sudah sepakat. Apalagi yang perlu ku khawatirkan?" dia masih bisa tersenyum, tapi aku tak yakin dia masih akan sama saat karirnya hancur nanti. Sepopuler apapun dia, siapa sih yang mau bekerja dengan aktor penuh skandal?

Kuacak-acak rambutku frustasi, jantungku berdebar cepat rasanya hampir seperti sedang menunggu algojo yang mengantarkan kematianku.

belum tenang perasaanku, pintu kembali terbuka membuatku spontan berdiri dan menemukan 2 orang yang paling ingin kuhindari saat ini. ah...sudahlah! percuma saja menghindar, toh aku sudah disini. tapi tetap saja aku tak bisa begitu saja melenyapkan perasaan canggung yang sudah menguasaiku.

"Halo, Min Dong Sik-Shi..." Park Joon Hae bisa-bisanya menyapa dengan seceria itu, membuatku menatapnya tak percaya.

"Park Joon Hae....aktor kesayanganku, kau terlihat baik-baik saja..." Balasnya, Min Dong Sik adalah pria separuh baya dengan kepala botak yang berwajah ramah tapi melihatnya sekarang membuatku was-was, sepertinya ada sesuatu di balik senyumnya itu, sesuatu yang berbahaya.

"Terima kasih kalau kau mengkhawatirkanku, kau bisa lega sekarang karena aku baik-baik saja."

Min Dong Sik terdiam, Galih masih berdiri di belakangnya tapi aku sama sekali tak berani menatapnya. aku terlalu takut menghadapinya sekarang...bisa-bisa sekali menatapnya dia sudah meledak marah dan menyeretku ke bandara untuk pulang. aku hanya berani mengamati Park Joon Hae dan melihat bagaimana dia menyelesaikan masalahnya.

"Duduklah..." Min Dong Sik bergerak menuju kursi rapat yang paling ujung, sementara galih mengambil sisi kiri, aku dengan berat hati mengikuti Joon Hae disisi yang lain. untuk sementara ini yang paling aman adalah didekatnya.

"Kau juga kelihatan baik karina..." galih tiba-tiba bersuara, membuatku terlonjak menatapnya. dan aku bisa melihat kilatan matanya yang siap menguburku hidup-hidup. dia tak pernah bersikap formal...pernahpun itu hanya bercanda. saat dia berubah begini, berarti aku harus mulai waspada.

Aku berusaha tersenyum, rasanya lebih menyakitkan daripada lukaku kemarin.

"Jadi...kurasa kau berhutang penjelasan padaku." Dong Sik membuka percakapan.

Joon Hae meletakkan kedua tangannya ke atas meja, tersenyum tenang. "Aku sepertinya tak berhutang apapun."

"Kalau aku tak salah ada klausul dalam kontrak yang menyebutkan kau dilarang melakukan apapun yang membahayakan produksi film ini." Dong Sik mendorong tubuhnya ke depan, "Dan...kupikir ini bisa jadi salah satunya."

"Kecuali...Jika hal ini tak menghancurkan apapun." Joon Hae mengoreksi, perdebatan gaya halus seperti ini sungguh menyeramkan. aku hanya bisa berdoa semoga jantungku sanggup menerimanya.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang