Aku duduk di kursi penumpang dalam diam, dia juga sepertinya tak ingin memulai pembicaraan. dan entah kenapa aku berterima kasih untuk itu. terlalu banyak yang terjadi di hidupku hanya dalam sehari, membuat otak dan tubuhku tak mampu segera menyesuaikan diri dengan semuanya. kalau dipikir lagi...kemarin aku hanyalah 1 dari puluhan juta wanita normal dengan pekerjaan normal yang lepas dari perhatian banyak orang. Sekarang? Aku bahkan takut membayangkan jika saat aku batuk semua orang mengira aku sedang sekarat.
Aku mendesah menatap jendela di sampingku, tiba-tiba aku mulai menyadari sesuatu.
"Kita...Dimana?" Aku mengalihkan pandanganku mencari petunjuk, tapi yang kutemukan hanya hamparan rerumputan tinggi yang mengelilingi mobil yang sedang kutumpangi. Tubuhku refleks berputar, dan menemukan Joon Hae yang menatapku datar.
"Kita sudah berhenti 5 menit yang lalu." Jelasnya bosan.
Benarkah? Aku sama sekali tak menyadarinya...Hah! Ini pasti karena pikiranku yang terbang kemana-mana. Tapi tunggu, dia tidak sedang menculik ku bukan?
"Dimana ini?" Tanyaku lagi.
"sungai Han." Jawabnya singkat, "banyak yang perlu kita sepakati, sebelum kita memulai pernikahan atau apapun itu."
Aku berjengit mendengar kata pernikahan darinya, memang sih aku yang menginginkannya. Tapi tetap saja rasanya begitu aneh.
"Kau yang mulai...Kau bilang kita merencanakan pernikahan." Kataku, menutupi rasa malu ku. Aku tak lagi berani menatapnya setelah ingat bagaimana aku menawarkan hal itu padanya. Menikah? Kenapa sepertinya aku yang mengemis padanya? Tapi memang begitu kan? Haha...Sekarang aku bahkan bicara dengan diriku sendiri. Aku pasti sudah gila.
"Merencanakan pernikahan dan menikah itu 2 hal yang jauh berbeda." Dia menyadarkan salah satu lengannya di kemudinya, tampak mulai menyebalkan lagi. "Aku tak tahu kalau sebenarnya kau tergila-gila padaku, apa tadi pagi kau sedang berakting saat menolaknya? Atau jangan-jangan kau sedang bermain tarik ulur denganku? Berusaha membuatku penasaran?"
Aku mendengus, menatapnya kesal. Rasanya ingin kurobek saja mulut besarnya itu. Dia benar-benar memuja dirinya sendiri. Aku tak yakin dia akan menikahi siapapun selain bayangannya di cermin.
"Dengar, kalau kau pikir aku ingin menikahimu karena aku menginginkannya...Kau salah. Siapa yang ingin menikah denganmu?"
Joon hae memutar bola matanya, "Kau benar-benar ingin tahu?"
"Jangan repot-repot!" sungutku, baiklah kuakui pertanyaanku salah.
"Lalu?"
Ini akan jadi obrolan yang panjang, ku tarik tuas pintu mobil hingga terbuka. dan mencoba keluar dari benda itu. aku butuh banyak udara segar untuk melanjutkan penjelasanku yang sebenarnya memalukan. aku harusnya menolak rencananya mentah-mentah tapi keadaan tiba-tiba berbalik dan membuat posisiku berubah menyedihkan. bagaimana mungkin aku meminta seorang Park Joon Hae menikahiku? aku bahkan tak berani menunjukkan mukaku untuk bersaing dengan semua pasangan dramanya yang tampak seperti ratu-ratu kecantikan dunia itu. membayangkan
Aku melangkah pelan, sedikit menjauh dari mobilnya dan kurasa aku mendengar langkah lain mengikutiku. baguslah aku hanya dikelilingi ilalang tinggi seperti ini, aku bisa bicara bebas disini atau paling tidak aku akan mudah menemukan tempat persembunyian darinya jika aku merasa aku harus segera menghilang.
"Kakakku sudah melihat beritanya." Aku memulai, setelah mengetahui Joon hae sudah dihadapanku, menatapku penuh pertanyaan.
"Dia pasti terkejut."
Aku memandangnya sinis, dia sama sekali tak tahu bagaimana kakakku, "Terkejut? lebih tepatnya shock. aku bahkan yakin dia sudah siap-siap mengamuk karena nyatanya saat ini dia mungkin sedang di pesawat menuju kesini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Emmergency Encountered (Completed)
RomanceHujan itu sering dikaitkan dengan hal- hal romantis tentang cinta, jatuh cinta, kenangan cinta dan ribuan cerita lainnya. sedih atau bahagia rasa itu seakan bertambah seribu kali lipat saat hujan. kenapa? sebenarnya aku juga tak tahu, hanya begitula...
