Part 19

19 2 2
                                        


Kulepaskan sepatuku menggantinya dengan sandal rumah begitu pintu dibelakangku tertutup perlahan. Dan akhirnya aku kembali kesini. Di tempat yang sama sekali berada di daftar tempat yang mungkin aku kunjungi di korea, bahkan dalam pemikiran yang paling gila sekalipun.

"Ini sama sekali tak bisa dibiarkan, kita selesaikan sekarang semua masalahnya dan bagaimana mengatur semua kegilaan ini." Kataku begitu aku melihat Joon Hae tampak menjauh untuk menuju kamarnya. Dia tak bisa seterusnya membuatku bertanya-tanya apa yang bisa dan tak bisa kulakukan. Paling tidak itu akan mengurangi pertengkaran yang selalu muncul setiap kali kita saling menatap.

Dia berhenti kemudian berbalik, menatapku yang berdiri menatap tajam ke arahnya.

"Ok, kita tetapkan aturannya." Dia melangkah cepat ke arahku, membuat tatapanku melebar. Apa yang akan dilakukannya? Dia sepertinya kesal. Setelah jarak itu berkurang dia berhenti tepat selangkah sebelum dia menabrakku.

"Ya...ya....kau bicara saja dari sana!" ucapku setelah dia berhasil membuatku kaget.

"pertama, tak peduli seberapa malam kecuali jika memang sedang di luar kota, kita berdua harus pulang ke rumah. Kedua, sebelum berangkat tak ada yang akan pergi sebelum sarapan, kecuali ada syuting sebelum matahari terbit kita harus saling memberitahu, meskipun itu harus memaksa salah satunya untuk membuka mata. Ketiga, tidak akan ada yang melarikan diri dari perjanjian ini. Selesai!" pandangannya menusuk begitu dia selesai mengatakan semua isi pikirannya, membuatku hanya bisa terpaku dengan mulut terbuka lebar.

Rasanya bahkan dia tak ingin membiarkanku bernafas. Begitu sadar, aku rasanya hampir terjungkal ke belakang jika tak buru-buru aku menarik jaketnya untuk menahanku. Dan bisa ditebak, tanpa sengaja aku bahkan sudah mengikis jarak yang tersisa.

Jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan, rasanya hampir menyakitkan tapi anehnya itu juga menyenangkan. Bagaimana tidak, mata itu seakan menyedotku dalam pesonanya yang sangat sulit untuk kuabaikan. Benarkah aku menikah dengan orang ini? Aku bahkan merasa masih di alam mimpi selama berhari-hari.

"Ah...maaf." Aku melepaskannya setelah kesadaranku kembali. Bodoh! Bagaimana bisa aku terlihat memujanya begitu. Jangan-jangan air liurku sampai menetes tadi. Spontan kututp mulutku dan rasanya luar biasa lega menemukan disana tak ada cairan apapun.

Matanya mengerjap, entah aku tak tahu kenapa. Kemudian dengan tarikan nafasnya yang dalam dia memejamkan matanya sejenak. Aku menggigit kuku jariku was-was, apakah aku melakukan kesalahan lagi?

"kau benar-benar mengacaukanku karina." Ucapnya membuatku semakin merasa takut, apa dia tak suka disentuh? Ahhh!! Mustahil....dia bahkan pernah menciumku. Ya.....Karina, kenapa aku jadi mengingatnya lagi!!

"aku tahu, aku bukannya melarikan diri. Tadi pagi aku ada janji dan malam ini memang banyak pekerjaan. Lagipula di kantor tak akan ada yang menyerangku, ada petugas jaga dan system yang keamanan yang canggih. Kau tahu kan tidak semua bisa masuk diluar batas lobi. Lalu apa masalahnya? Kenapa kau selalu datang marah-marah seakan aku selalu melakukan hal yang salah, lagipula fans mu itu juga tak tahu kalau wanita itu aku." Selorohku panjang.

"bukan fans ku yang kukhawatirkan." Ucapnya tiba-tiba.

Dahiku berkerut, lalu? Tiba-tiba kejadian malam itu muncul. Aku terkesiap tersadar, "apa...orang-orang itu?"

Dia hanya mendesah mendengar tebakanku, hatiku mencelos...jadi itu benar?

"aku punya musuh karina. Dan kau mungkin sasaran mereka sekarang."

Oh tidak...bulu kudukku mulai berdiri. Ketakutan apa ini? Tapi wajar bukan...mereka bahkan bilang kalau akan membunuhku. "ya...jangan menakutiku." Ujarku berharap dia sedang berbohong. Tubuhku rasanya lemas begitu saja, membayangkan ada orang yang mengikuti dengan maksud yang....tidak, tidak...jangan sampai mereka bisa menyentuhku.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang