Part 15

22 2 3
                                        

Senyumnya mengembang melihat keterkejutanku, kenapa aku jadi merasa akulah yang terjebak dalam skenarioku sendiri. harusnya dia memainkan peran protagonisnya di sini, akulah antagonisnya, seseorang yang tak tahu malu memintanya pura-pura menikah denganku hanya karena aku tak ingin pulang. dia harusnya merasa terhina bukan? aku...gelandangan pengemis belas kasihannya, berani mengatakan rencanaku yang luar biasa itu. dia bisa memilih siapapun yang lebih baik dariku bahkan hanya sebagai tukang lap sepatunya.

"kau tak akan berani mengatakannya...."kataku ragu, Ya Tuhan!! jangan sampai kakakku mendengarnya. aku benar-benar bisa jadi mayat.

"Benar juga, kurasa itu ide bagus...kakakmu tak akan pernah berusaha menyeretmu pulang lagi. kau bisa selama apapun disini dan dia tak akan mengganggumu lagi." Joon hae menarik wajahnya menjauh, memutar tubuhnya memunggungiku dan berlalu. aku hanya bisa menatapnya mematung masih tak percaya....ha-ha dia bercanda kan?

"Aku setuju dengan rencanamu, tapi semua ikut aturanku." Tandasnya lagi, yang membuatku bungkam. dia membuatku mati kutu. rasanya aku ingin menangis saja.

Ting Tong!!!

Bunyi bel pintu menyentakkanku, berusaha mengalihkan semua pikiran ku yang kacau kakiku melesat berlari ke arah pintu sebelum pemandangan di layar dari kamera kecil di luar membuatku lemas. aku terdiam menatapnya, jika saja bukan karena masalah ini aku pasti sudah menghambur di pelukannya karena begitu merindukannya. tapi, sekarang rasanya aku bahkan tak tahu apa yang akan kulakukan.

"Siapa?" Joon Hae berjalan mendekat, dengan pandangan penasaran. saat aku balas menatapnya dengan pandangan memelas, dia tampak mengerti.

Joon Hae, menghela nafasnya tanpa tersenyum. melewatiku dan memutar gagang pintu untuk membiarkan tamu itu masuk.

"Selamat datang." Sapanya, ringan seakan mereka adalah tamu yang sudah diharapkan sejak lama. aku bergerak mundur berlindung di balik punggungnya.

kakakku terlihat begitu menyeramkan, wajahnya tampak lelah tapi tatapan tajamnya masih bertahan. kedua lengan bajunya sudah tergulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang menebal, menunjukkan semurka apa dia padaku saat ini.

"Silahkan duduk" Joon Hae menunjuk sofa di ruang tengahnya dan tampak menyambutnya dengan tenang, itu membuatku sedikit bisa bernafas, paling tidak dia sepertinya tahu bagaimana mengatasi situasi ini.

Kakakku masih tak bicara tapi menuruti permintaannya, aku juga tak berani mengatakan apapun. rasanya bom waktuku mulai berjalan.

Akhirnya setelah kami berempat sudah mengambil tempat di sofa yang sama, kakakku mulai buka mulut.

"Mulai Bicara! sebelum aku menyeretmu pulang sekarang juga!" Ujarnya tanpa basa-basi

"Kakak..." Aku buru-buru ingin menjelaskan, tapi apa yang harus kukatakan? bagaimana aku harus mulai? bilang kalau aku hampir mati?

"Aku hanya menunggu penjelasan, meskipun itu sebenarnya tak berguna. Aku akan tetap membawamu pulang."

Aku terkesiap, watak kakakku yang otoriter muncul lagi, Ya! di situasi begini dia lebih bertingkah seperti orang tua daripada saudara, yang artinya semua kata-katanya adalah aturan yang tak bisa ditawar.

"Ehm!" Joon Hae berdehem, memotong perang dinginku yang baru saja dimulai. suara itu membuatku akhirnya sadar keberadaannya dan aku merasa bodoh karena baru berpikir kalau sejak tadi dia pasti tak mengerti apa saja yang kubicarakan.

"I'm sorry that we have to meet this way, but if you are going to blame someone, just pointed at me. it was actually my fault." Joon Hae menyambungnya dengan bahasa inggrisnya yang lancar dan jelas, tak ada lagi kebingungan pengucapan seperti yang terjadi pada orang-orang asli Korea. Wah....tidak adakah yang tak bisa dia lakukan? Tanpa sadar aku sudah memandangnya takjub.

Emmergency Encountered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang