19 February 2016
16.00 pm
Ini kenapa Karen tiba-tiba nanya-nanya ke gua ada acara atau enggak ya? Kafka? Emang rumah Kafka ada party? Setau gua enggak ada. Ya kali cowok-cowok tipe gua kayak gini enggak tau anak-anak sekolahan yang lagi ada party di rumah nya Sabtu ini siapa aja. Nih ya, biasa nya temen-temen gua yang rajin banget bikin party di rumahnya itu adalah Rafa, Bella, Hanny, Dimas, dan Jepri. Itu yang rajin bikin party di rumah nya. Kalo gua? Yah elah, tipe-tipe emak kayak emak gua mana mungkin sih ngebolehin gua bikin party di rumah. Kalo nyokap gua kerja nya di luar negeri atau luar kita juga gua tiap jam party kali. Jadi gua adalah orang-orang yang paling rajin dateng ke party orang-orang. Mungkin kalo ada list orang-orang ter-rajin ke party saturday night gua ada di paling atas, top three.
"Aldi?" Nyokap gua tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Kenapa ma?"
"Kamu nanti jadi pergi?"
"Jadi."
"Sama siapa aja? Kemana? Ngapain?"
"Lengkap amat sih ma udah kayak wartawan lagi nge-interview artis."
"Mama serius nih,"
"Jangan serius-serius banget nanti baper."
"Apaan sih kamu tuh enggak jelas." Nyokap gua duduk di sebelah gua di atas tempat tidur. Gua masih sibuk memainkan handphone.
"Kamu udah tau belum?"
Gua menengok ke arah nyokap. "Tau tentang apaan, Ma?"
"Mata nya Aldo agak bengkak, agak memar gitu."
"Ha? Iya? Serius?"
"Iya, serius. Mama mau cerita waktu itu sama kamu tapi lupa, baru inget sekarang."
"Kok bisa?"
"Iya, katanya dia waktu itu lagi jalan terus enggak liat ke depan. Dia enggak tau kalo di depan dia ada tembok," kemudian nyokap mengerutkan keningnya. "Tapi mama enggak percaya sih, karena kalau nabrak tembok biasanya kepala yang memar ya, bukan mata."
Gua terdiam. Benar juga ya, enggak mungkin Aldo nabrak tembok doang langsung bengkak memar gitu mata nya. "Mata yang sebelah mana ma?" "Sebelah kanan nya. Mama kaget waktu liat mata nya. Kata nya sih kejadian nya udah lama, tapi efek terlalu kencang nabrak tembok nya jadi masih lumayan keliatan bengkak dan memar nya."
Perasaan gua mengatakan Aldo berantem sama seseorang dan yang jelas pasti dia berantem sama cowok. Lagian, mau se-sangar apa pun cowok, contohnya cowok kayak Aldo, enggak mungkin kan berantem sama cewek?
"Mungkin emang bener Aldo ketabrak tembok, ma. Spongebob aja mata nya bisa bengkak cuma gara-gara mau buka tutup pasta gigi enggak bisa." Iya, Aldo mengingatkan gua pada episode spongebob waktu dia mengarang cerita kalau mata bengkak nya dia dapat dari melawan ikan besar yang gua lupa siapa nama nya.
"Ah kamu ini, becanda terus."
Gua tersenyum ke arah nyokap. "Udah dah, Aldi mau siap-siap dulu. Mau nonton nih," gua segera mengambil handuk biru dan berlari kecil menuju kamar mandi. Nyokap hanya mengangguk kemudian berjalan keluar dari kamar gua.
Selesai mandi gua mengambil jeans hitam dan sabuk cokelat gua. Gua memakai parfum kemudian mengambil t-shirt polos hitam. Biasa nya kalau pergi ke mall gini gua selalu bawa jaket karena jujur aja, gua enggak tau kenapa bener-bener enggak betah di tempat dingin. Bukan berarti gua betah di tempat yang panas juga ya.
Oke, hari ini gua bakal memperjelas semua kesalah-pahaman antara gua dan Diandra iis. Kayaknya gua bakal manggil dia Rara aja kali ya? Gua jadi bingung sendiri soal nya. Diandra, Andra, Ndra, Dra, Ra, Rara. Iya, Rara. Gua mengetik pesan line untuk Rara.
KAMU SEDANG MEMBACA
aldiandra
Teen FictionAldiriyan Ahmad Santoso bertemu Diandra Alfajar. Kedua nya jatuh ke dalam lubang yang biasa kita kenal dengan cinta. Namun, apa jadinya jika salah satu diantara mereka ada yang mengelak akan datangnya perasaan itu?
