What the hell? Katakan padaku jika pria ini masih waras.
"Ikut aku cepat," Ia menarik tanganku kasar hingga menyebabkan sendok yang sedari ku pegang jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang langsung menarik perhatian orang-orang.
Buru-buru ku tepis tangannya, "No. Siapa kau memaksaku untuk ikut denganmu?"
Ku lihat sekitaran wajahnya mengeras dan sorot matanya menunjukkan amarah, "Kita harus bicara sekarang juga."
Sekali lagi ia menarik tanganku. Namun kali ini bukan aku yang menepis, melainkan Calum. Dengan posisi setengah berdiri, ia menahan tangan Harry. "Woah, calm down, Harry. Dia perempuan."
"Ini bukan urusanmu, Calum. Sekarang kau ikut aku, Queen." Dan lagi, ia mencengkram tanganku kuat-kuat. Demi Tuhan, terbuat dari apa tangannya? Aku merasakan tanganku yang mulai perih.
Aku berdiri dan menangkis tangannya namun gagal, "Okay! Baiklah! Sekarang lepaskan tanganmu jika kau mau aku ikut denganmu." Dan detik itu juga ia langsung melepaskan cengkramannya.
Pandanganku beralih ke Bella dan Calum yang masih duduk di tempatnya, "Aku segera kembali."
Kakiku melangkah mengikuti kemana pria ini pergi dari belakang. Di sepanjang jalan keluar dari cafetaria, semua pasang mata yang ada disini memerhatikan kami—lebih tepatnya aku, dengan keheranan.
Aku terus berjalan... dan berjalan. Hentakan kakinya yang keras terkesan tak sabaran. Sampai akhirnya kami berhenti di tempat parkir yang sialnya cukup sepi.
"Cepat katakan apa yang kau—"
"Apa saja yang kau katakan pada pimpinan jurusan, hah?!" Suaranya yang menggelegar membuatku hampir terjungkal ke belakang jika saja aku tak mengendalikan keseimbanganku.
"Apa yang ku katakan? A-aku tidak mengatakan apapun padanya." Jujur saja, aku berusaha menjawabnya dengan santai tapi sepertinya gagal mengingat wajah tampannya berubah menjadi menakutkan. Astaga apa yang barusan ku katakan? Tampan? Tidak, ia tidak—ugh oke, ia memang tampan.
Kakinya mengambil dua langkah mendekat hingga aku dapat melihat jelas wajah di setiap sudutnya, "Katakan yang jujur atau aku akan menghabisimu. Apa saja yang kau katakan padanya?" tanyanya dengan gigi yang mengatup rapat namun nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Aku sudah mengatakan dengan jujur. Kau kira aku berbohong?" Aku menatapnya lurus. Mata hijau yang baru ku sadari terlihat begitu indah berubah gelap.
"Ya, karena dia menginterogasiku pagi ini. Dia akan mengawasi semua kegiatanku. Dan hanya kau yang tahu jika aku sedang memiliki masalah dengan orang lain. Dengar, jangan hanya karena aku tidak menjemputmu, kau bisa mengadu padanya. Berhentilah menjadi pecundang." jelasnya seraya menatap remeh ke arahku.
Woah,woah, apa aku tidak salah dengar? Dimana letak sopan santun pria ini? Dan oh, ternyata ia memang bermasalah dengan pria yang tempo lalu dihajar oleh tangannya sendiri.
"Oh, kau sedang menuduhku, begitu? Sekarang katakan padaku bagaimana caranya menemui pimpinan jurusan itu jika seharian ini aku berada di dalam kelas? Bagaimana caranya menghubungi pimpinan jurusan jika aku tidak memiliki kontaknya? Setelah mengingkari janji, kau malah menuduhku tanpa bukti sama sekali. Kau memang pantas dijuluki pria paling brengsek di kampus ini!" ketusku dengan jari yang menunjuk ke dadanya selagi berbicara.
"Minggir, aku mau lewat!" Aku berjalan melewatinya yang tak lupa menyenggol bahunya keras-keras. Ia pantas mendapatkannya.
Dengan langkah yang lebar serta hentakan kaki yang terdengar jelas, aku pergi menuju cafetaria. Entah bagaimana nasibku jika Bella dan Calum sudah tidak ada disana. Pasalnya, aku meninggalkan tas bahkan ponselku disana. Persetan dengan Harry.
KAMU SEDANG MEMBACA
Empty // HARBARA [Completed]
Fanfic[18+ BEBERAPA PART MATURE CONTENT DI PRIVATE] Berawal dari pertemuannya di sebuah pesta, Queen Malik harus terus berhadapan dengan Harry Styles. Pria dingin, penuh misteri dan tak berhati. Tuntutan tugas membuat Queen harus lebih banyak menghabiskan...
![Empty // HARBARA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/86042881-64-k932827.jpg)