Epilog

5.1K 390 123
                                        

Life has a beautiful crazy design.

Langit sedikit tertutupi oleh awan mendung, tetapi itu tak menghentikan niatku untuk kembali ke rumah. Bahu kecilku menggendong ransel, tangan kanan menggandeng seseorang dan tangan lainnya membawa satu botol air mineral.

Setelah memastikan bahwa tak ada lagi kendaraan yang lewat, akhirnya kami menyebrang tepat di zebra cross sebagai pengguna jalan yang baik. Lelaki yang sedari kugenggam tangannya tak henti-hentinya mengocehkan hal yang tak penting namun menarik.

"Oke, Edward, sekarang masuk ke dalam mobil. Setelah itu kita akan pergi, oke?" Aku membukakan pintu mobil untuknya. Seperti kataku barusan, ia melangkah masuk—sedikit kesulitan karena tubuh kecilnya.

"Apa aku tidak mendapatkan panekuk buatanmu hari ini?" tanyanya ketika aku sudah berada di kursi pengemudi.

Kepalaku menengok ke arahnya, melempar senyuman seraya membelai kepalanya. "Tidak, sayang. Paman Zayn sudah memasak makan siang untuk kita. Lalu kita akan pergi ke tempat Ayahmu bersama-sama."

Ia bersorak kegirangan mendengar penjelasanku barusan. Aku menginjak pedal gas, mengendarai mobil menuju rumah. Dan anak laki-laki yang berusia 5 tahun di sampingku ini tak habis-habisnya menggerakkan tubuhnya karena bahagia.

"Bagaimana hari pertamamu? Kau suka bersekolah?"

"Yes, Mommy! I love school so much!" Ia kembali memekik kegirangan. Tak kusangka, reaksi akan hal barunya yang dihadapi jauh lebih baik dari yang kukira.

Ia memang cukup kesepian jika menghabiskan waktu bermainnya di rumah sepanjang hari. Tetapi ia selalu terlihat bahagia walau hanya bermain bersamaku. Dan aku tak pernah menyangka bahwa anak bernama Edward Styles ini akan selalu memberiku kebahagiaan yang tak ada bandingannya setelah melewati masa sulit yang akan selalu kukenang.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Meliriknya dari kaca spion. Wajahnya memancarkan rona bahagia. Rambut keriting—yang sama persis seperti milik Harry, lagi-lagi harus kubelai karena gemas. Matanya ikut berwarna hijau, sama seperti Ayahnya. Aku tidak sepenuhnya kehilangan kekasihku, karena aku masih memiliki Harry yang kedua!

 Aku tidak sepenuhnya kehilangan kekasihku, karena aku masih memiliki Harry yang kedua!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa saja yang kau pelajari di sana?"

"Banyak sekali, Mommy! Tapi aku kesal dengan temanku yang bernama Justin." Ia mengerucutkan bibirnya lalu melipat kedua tangan di dada, bertingkah layaknya orang dewasa. Oh, betapa lucunya anakku ini.

"Kenapa begitu?"

"Mrs. Sarah bertanya pada kami semua apa cita-cita kami, tapi Justin menertawai jawabanku."

Kedua alisku saling bertaut, lalu melihatnya lagi yang masih menunjukkan reaksi yang sama. "Memangnya apa yang kau jawab? Apa cita-citamu, sayang?"

"Aku ingin menjadi seperti ayahku! Aku ingin menjaga Mommy seperti yang sering Mommy ceritakan padaku. Karena ayahku adalah ayah paling hebat di dunia ini, jadi aku ingin menjadi sepertinya."

Bagai petir menyambar, napasku harus tertahan karena perkataannya. Ia adalah anak kecil yang masih polos, dan ucapannya benar-benar menyentuh sekaligus menyayat hati. Rohaniku harus kembali dibawa mundur ke masa-masa paling suram.

Menjalani 5 tahun setelah tragedi dan menyadari fakta bahwa ditinggal kekasih untuk selama-lamanya bukanlah hal yang mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya. Dan aku bangga, karena aku bisa melewati itu semua. Karena aku, akhirnya bisa melukiskan senyum di wajahku lagi. Itu semua berkat Harry dan Edward Styles.

Namun aku segera menyadarkan diriku dengan menghela napas pelan. Aku mengambil tangannya dan mencium telapaknya yang kecil. "Kau memang anak pintar. Jadilah orang baik seperti ayahmu."

Edward menunjukkan deretan gigi susunya yang masih rapi seraya menepuk dadanya dan mengatakan, "Tenang saja, Mommy." Berlagak bagaikan pria dewasa yang siap menjaga kekasihnya. Aku dibuat terkekeh.

Beberapa menit perjalanan kami lalui dengan mengobrol. Lagi-lagi, Edward memintaku untuk menceritakan semua kehidupan tentang Harry. Pergi melakukan skydiving di saat aku sedang mengandung Edward adalah cerita kesukaannya. Dan terkadang, aku merasakan kesedihan yang amat mendalam ketika aku melihat wajah riangnya saat ia mendengarkan kisah Harry.

Seharusnya Harry berada di sini, menemani putera tampannya, tertawa bersamanya. Seharusnya. Tetapi, inilah takdir. Tak ada yang bisa merubahnya.

"Kakek Chris!!!" seru Edward bertepatan dengan mobil yang berhenti melaju. Ia langsung melompat dari mobil dan berlari ke arah Mr. Chris, masuk ke dalam gendongannya.

Suara berat dari tawa Mr. Chris terdengar selagi aku menghampirinya. Kerutan di sekitar matanya sudah mulai nampak. Ia mencium Edward lalu memutar tubuhnya dengan cepat hingga menghasilkan gelak tawa dari Edward. Aku ikut tertawa.

"Hei, lihat siapa yang datang? Apa jagoan kecilku merindukanku?" Gwyneth muncul dari balik pintu, membuat kami semua menoleh.

Aku memandangi mereka semua dari jarak dua meter. Membawa ransel merah yang bergambar Iron Man milik Edward sambil bersedekap dada dengan senyum mengembang lebar. Pemandangan ini hanya bisa kulihat dua bulan sekali karena Chris dan Gwyneth memiliki kesibukan yang tak bisa diganggu.

"Kakek Chris, ayo kita ke tempat ayah!!" Edward mengalungkan tangannya di leher Mr. Chris, menggoyangkan kakinya dan menepuk-nepuk pundaknya. Ingin permintaannya dipenuhi.

"Kita harus makan siang dulu, Edward. Mereka berdua datang jauh-jauh dan mereka pasti lelah—"

"Tidak apa, Queen. Aku juga sudah lama tidak bertemu Harry,"

"Yeaayy!!!" Edward bertepuk tangan kegirangan. Mr. Chris pun berjalan ke arah mobil dan masuk lebih dulu bersama cucunya.

Aku hanya bisa tersenyum lalu memanggil Zayn untuk ikut bersama kami. Ini adalah kali kedua Edward mendatangi makam ayahnya—Harry. Aku sengaja tak pernah mengajaknya kesana, karena nyatanya pada kali pertamanya, Edward masih terlalu kecil dan tak mengerti apapun.

Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjaganya seperti Harry menjagaku.  Pesan terakhirnya akan selalu kujalani. And I might feel empty, even after he came to my life... but he gave me a new life. A new life that i never expect, Harry.

•••

-TAMAT-

Again, thank you so much yg selalu setia baca ff ini sampe epilognya! I appreciate every single vote and comment from all of you guys! Aku gak bisa bikin Harry hidup lagi karna itu kinda impossible. Nanti yg ada Harry jadi zombie, ya kan?

Yg sampe galau/nangis, im truly sorry ya, but look, Queen is happy now. Yay! Oh ya, karna aku masih nulis ff Harry, monggo di cek. Sapa tau suka. Diusahakan fast update juga kok. Judulnya "My Mate" *promositerus *plak

Have a great Saturday!❤ ps. jgn minta di next ya karna ini udah tamat

23 September 2017

Empty // HARBARA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang