Chapter 14

2.9K 351 39
                                        

Zayn is calling...

Dengan cepat aku menggeser layar dan menempelkan benda pipih itu di telinga kanan.

"Queen, kau dimana?" Suara Zayn yang berbeda terdengar dari seberang sana. Suaranya parau dan serak.

"Sedang di luar. Ada apa?"

"Apa kau sendirian?"

Aku melihat Harry yang kini sedang menatapku dengan pancaran tanya di matanya, "No. Tidak. Aku sedang bersama Harry-temanku. Ada apa, Zayn?"

Aku dapat merasakan helaan napas Zayn kemudian ia terdiam sejenak, "Mom baru saja masuk rumah sakit dan-"

"Wait what?! Apa lagi yang terjadi padanya?"

"Dengarkan aku dulu, Queen. Ternyata... selama ini-selama ini Mom memiliki masalah kesehatan dengan jantungnya dan baru saja dokter memberitahu padaku. Mom menyembunyikan penyakitnya pada kita,"

"Kau bercanda,"

"Orang mana yang rela membuat kenyataan pahit ini untuk dijadikan lelucon?"

Dan tiba-tiba saja rasa sesak menyerang dadaku, bahkan aku sulit untuk melanjutkan percakapan. Sebisa mungkin aku menahan air mata agar tak tumpah. Ini menyedihkan. Penyakit jantung bukanlah penyakit biasa dan Mom harus menanggung beban itu seorang diri.

"Lalu katakan padaku, Zayn, kalau dia baik-baik saja."

Selama beberapa detik Zayn tak mengeluarkan suaranya dan selama beberapa detik itu pula dadaku menjadi naik-turun, berusaha mengambil oksigen dengan normal. "Zayn?"

Zayn masih tak menjawab, dan otakku semakin berpikiran yang tidak-tidak.

"Queen, adikku sayang, aku hanya ingin memberi kabar padamu saja, oke? Aku-aku tak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. Mom sudah tiada. Ia baru saja meninggal sepuluh menit yang lalu."

Katakan padaku kalau aku hanya bermimpi. Ini tak nyata bukan?

Secara refleks aku mencengkram lengan Harry ketika merasakan kedua kakiku yang lemas dan bergetar hebat. Rasanya kepalaku baru saja dihantam oleh beban yang selama ini ditanggung oleh bumi. Dadaku semakin menyempit. Apakah Tuhan berhenti memberi oksigen pada manusia atau ini hanya perasaanku saja?

"Apa yang terjadi?" Pertanyaan Harry sama sekali tak kupedulikan. Nyatanya, pria yang kini tengah menahan tubuhku agar tak ambruk itu kembali mengeluarkan pertanyaan yang sama.

"Queen, kau masih disana? Apa kau baik-baik saja?" Sekiranya hanya itu pertanyaan Zayn yang terakhir kudengar karena ponsel sudah lebih dulu jatuh ke aspal jalan.

Jika saja aku tak menguatkan diriku, mungkin aku sudah jatuh pingsan terkapar di jalan tak berdaya.

Dan kini aku baru merasakan air mata yang mulai tumpah melewati kedua pipiku. Ribuan tombak seperti menerjang tubuhku dari langit, hingga semua tubuhku sulit digerakan. Aku sungguh kesulitan bernapas, rasanya seperti sekarat.

Empty // HARBARA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang