"Baiklah, kalau begitu sekarang kau harus mengantarku pulang." ujarku yang membuat Harry memutar bola matanya.
Aku tahu jika Harry sangat kesal sekarang ini. Dan jujur saja, aku juga malas kalau harus berhadapan dengannya. Namun, berhubung tidak ada kendaraan lain untuk sampai ke rumah, jadi mau tak mau aku harus menumpang dengannya.
Setelah memasukan sepedaku ke dalam bagasi, pun aku ikut masuk dan duduk di kursi depan atas perintah dari Harry.
Mesin menyala dan mobil mulai melaju dengan kecepatan standar. Bisa kalian tebak, suasana hening menyelimuti mobil ini. Bahkan radio pun tak dinyalakan. Setelah hampir sepuluh menit lebih suasana senyap, akhirnya aku membuka suara.
"Harry, kenapa kau menerima permintaanku?" Aku menoleh ke samping dan ia sama sekali tak berminat untuk melirik ke arahku.
Aku terus menatap wajahnya dari samping dan ia bahkan tak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Ia tidak tuli 'kan?
"Hei, aku bertanya padamu. Kenapa kau menerima permintaanku?" tanyaku lagi.
"Karena kau memaksa."
"Tidak, tidak. Maksudku, kenapa kau menerima permintaanku saat aku mengatakan kalau aku akan mengadukan perbuatanmu ke pimpinan jurusan?"
"It's none of your business."
"Oh! Apa jangan-jangan kau membunuh pria yang kau hajar itu? Astaga, jangan katakan jika kau melakukannya," Aku langsung bergidik ngeri membayangkan kemungkinan yang ada. Sekarang, pria di sampingku ini kembali membuatku takut.
Ia tak menggerakan tubuhnya tetapi melirikku dari ujung matanya, "Apa kau sudah gila? Aku bukan pembunuh."
"Huft, syukurlah. Kau tahu, saat kau takut jika aku akan melaporkanmu pada pimpinan jurusan, itu langsung membuatku curgia padamu."
"Kau tahu, kau berbicara padaku seolah kau sudah mengenalku sejak lama. Hentikan ocehanmu itu." ucapnya sarkastik.
Oh, menyebalkan sekali pria ini. Ia berkata seperti itu seakan aku adalah wanita paling cerewet.
Pun mulutku mengerucut seraya menyandarkan tubuh di kursi.
"Setelah pertigaan ini, belok kiri." ujarku menunjukkan jalan. Tetapi bukannya mengikuti perkataanku, ia malah belok ke arah yang sebaliknya.
"Hei, ini bukan jalan menuju rumahku. Kau mau membawaku kemana?" protesku dan tidak ditanggapi lagi olehnya.
"Jangan main-main denganku. Kau mau membawaku kemana?" kataku dengan nada serius kali ini. Sial, menumpang dengan pria keriting ini memang bukan ide yang bagus.
"Bisakah kau tutup mulutmu?! Aku ada urusan dan setelah ini aku akan membawamu pulang. Kau mengerti?!" bentaknya disusul oleh tatapan tajam. Sangat tajam, mungkin. Di tambah lagi cengkraman tangan pada setir mobil semakin mengerat, hal itu sukses membuatku mengunci mulut rapat-rapat. Harry yang menakutkan telah kembali.
Entah kenapa, setelah Harry berucap suasana berubah menjadi tegang. Pria ini begitu dingin. Dan juga menakutkan. Oh, pantas saja hampir seluruh nerd boy takut jika Harry lewat di hadapannya.
Ketegangan semakin kentara di tempat sesempit ini. Aku pun tidak berani membuka suara lagi karena aku tahu Harry bukanlah pria yang baik. Bisa-bisa Harry membunuhku dan membuang mayatku ke sungai jika aku terus bicara.
Astaga, khayalanmu tinggi sekali, Queen.
Setelah entah berapa puluh menit berada di perjalanan, akhirnya ia menghentikan laju mobil. Tepat berhenti di sebuah... frat, i guess?
KAMU SEDANG MEMBACA
Empty // HARBARA [Completed]
أدب الهواة[18+ BEBERAPA PART MATURE CONTENT DI PRIVATE] Berawal dari pertemuannya di sebuah pesta, Queen Malik harus terus berhadapan dengan Harry Styles. Pria dingin, penuh misteri dan tak berhati. Tuntutan tugas membuat Queen harus lebih banyak menghabiskan...
![Empty // HARBARA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/86042881-64-k932827.jpg)