"Apa yang kau lakukan disini?"
Aku memutar bola mataku jengkel. Susah payah aku mencarinya, dan ia menyambutku dengan sindiran tak berkelasnya seperti itu. "Ugh, tentu saja menemuimu. Kemana saja kau, huh?"
"Harold, aku lapar. Kau ada makanan?" Louis dengan tampang polosnya tiba-tiba menyela perbincangan kami.
Harry menggeser tubuhnya ke samping, memberi akses masuk untuk Louis seraya berkata, "Entahlah, ambil saja apa yang ada di dapur."
Louis yang sedari tadi merengek meminta makan pun memunculkan wajah sumringahnya kemudian masuk ke dalam, meninggalkan aku dengan pria ganas ini. Harry pun kembali berdiri di ambang pintu, menghalangi sebagian jalan masuk ke dalam.
"Ada urusan apa kau menemuiku?" tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi. Benar-benar datar jika kalian ingin tahu.
Aku mendecakkan lidah seraya melipat kedua tangan di depan dada, "Kau lupa dengan hutangmu?"
Ia menaikkan sebelah alisnya yang kurasa sedang berusaha mengingat sesuatu, "Maksudmu sepedamu? Jika maksudmu itu, lebih baik kau beli sendiri dan biar aku yang memberimu uang."
Oh astaga, bukankah ia semakin membuatku terkesan seperti bocah ingusan yang terus menagih janji pada ayahnya untuk membeli sepeda? Tidakkah ia ingat dengan tugas yang sudah ditelantarkannya seminggu ini? Ah, aku memaklumi pria sepertinya yang tak mementingkan hal semacam ini.
"Lupakan sepeda itu. Kau lupa dengan tugas yang diberi Mr. Ludwig? Ia terus menanyakan kabar perkembangan tugasnya kepada semua murid di kelas. Semua dosen menanyakan kabarmu yang menghilang tiba-tiba. Apa yang harus kujawab, huh?"
Ia terdiam sejenak dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Selagi kami tak bertatapan, aku sedikit mengintip keadaan dalam rumahnya yang tertutupi oleh tubuh besarnya. Rumahnya benar-benar senyap dan rapi, kurasa.
"Jawab saja yang terlintas di otakmu itu," balasnya enteng.
"Oh, kau mau aku menjawab kalau kau sedang sibuk merencanakan perampokan bank? Aku tak mau mengurusi masalahmu di kampus. Lebih baik besok kau datang ke kampus dan mulai mengurusi tugasmu itu."
Rahangnya sedikit mengeras dibarengi dengan tatapan tajam, "Terserah kau saja."
"Aku serius, Harry. Jika kau masih tak mau mengurusinya, lebih baik kau mencari teman kelompok lain." ujarku dan ia hanya memutar bola matanya.
"Katakan pada Louis, aku menunggunya di mobil." Karena tak ada respon lain, akhirnya aku memutar tubuhku dan berjalan ke arah mobil Louis, menunggunya disana.
**
Keesokan harinya, aku bersiap untuk pergi ke kampus dengan terburu-buru. Itu dikarenakan aku terlambat lagi. Setelah kemarin pulang dari rumah Harry, aku memutuskan untuk bekerja di restoran tempat Mom bekerja secara diam-diam. Itu kulakukan agar gaji Mom tidak dipotong karena mengambil cuti meski hanya untuk beberapa hari.
Keadaan ekonomi keluargaku semakin terpuruk semenjak Dad pergi meninggalkan kami. Gaji Mom dan Zayn pun tak mencukupi kebutuhan kami, terlebih lagi saat Zayn dipecat dari pekerjaannya yang lama beberapa minggu lalu. Padahal, pekerjaannya yang dulu cukup untuk menghidupi kami semua. Tapi tak apalah, aku sudah bersyukur Mom dan Zayn mendapatkan pekerjaan.
Dan menggantikan posisi Mom kemarin sangat menguras tenaga. Tubuhku terlalu kelelahan hingga aku hanya tidur untuk beberapa jam saja.
Melihat jam dinding yang semakin membuatku panik, aku pun menguncir rambutku asal dan menggendong ranselku. Segera aku menuruni anak tangga dan mencari keberadaan Mom di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Empty // HARBARA [Completed]
Fanfiction[18+ BEBERAPA PART MATURE CONTENT DI PRIVATE] Berawal dari pertemuannya di sebuah pesta, Queen Malik harus terus berhadapan dengan Harry Styles. Pria dingin, penuh misteri dan tak berhati. Tuntutan tugas membuat Queen harus lebih banyak menghabiskan...
![Empty // HARBARA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/86042881-64-k932827.jpg)