Chapter 16

3.2K 368 51
                                        

"Shhh... It's me, Harry," Sedikit merinding ketika ia setengah berbisik di telingaku.

Menghapus air mata, aku mengubah posisi dudukku menjadi menghadap Harry hingga pria itu melepaskan pelukannya. "I'm sorry."

"Ini kamar ibumu?" Mata Harry menjelajahi seluruh sudut ruangan kamar ini lalu berhenti di mataku, menatapku lekat-lekat.

"Yeah. Kau heran kenapa sangat berantakan? Well, ini karena ulah gilaku," Aku tertawa hambar di akhir kalimat sambil menundukkan kepala, memandangi jari kuku.

Dalam sekejap, kejadian dimana aku membuat kekacauan di kamar ini terputar di kepalaku. Pada saat itu, aku kehilangan kontrol sehingga aku mengunci diriku di kamar ini sehari semalam. Mengobrak-abrik isi lemari sembari meneriaki nama Mom. Zayn yang merasa khawatir pun mendobrak pintu. Dan itulah mengapa pintu kamar ini tidak lagi berfungsi dengan baik.

"Berhentilah melamun," Harry menjentikkan tangannya di hadapanku, mengecek apakah aku sadar atau tidak.

Tetapi aku tetap memandangi tanganku dengan tatapan kosong, "Aku masih berduka. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Jadi, jangan heran jika kau lebih sering melihatku melamun seperti ini."

Aku memejamkan mata, melarikan tangan ke pelipis dan memijatnya. Rasa lelah, mual, pusing dan pegal baru terasa sekarang ini. Sepertinya ini semua karena perbuatanku yang terus mengunci diri di kamar tanpa mau makan dan minum. Lihatlah, aku seperti zombie yang hidup. Jika saja Mom masih hidup, aku pasti sedang menyantap pasta lezat buatannya sambil menonton tv.

Ah, satu tetes air mata kembali jatuh. Aku benci jika harus menangis terus seperti ini.

"Queen, dengar," Suara Harry membuat mataku terbuka, menaruh pandanganku tepat di mata hijaunya. "Selama kau masih berduka seperti ini, maka tubuhku adalah milikmu."

Kedua alisku saling tertaut, "Apa maksudmu?"

Wajahnya datar, berbeda dengan tatapannya yang penuh arti. Aku tidak tahu apa arti dari tatapan yang 'penuh arti'nya itu, tetapi ini sungguh berbeda. "Selama kau masih dalam kondisi seperti ini, maka tubuhku adalah milikmu. Kau boleh memelukku kapan saja kau membutuhkannya."

"K—kenapa? Ma—maksudku, kenapa kau mau melakukan ini untukku? Bukankah itu akan sangat mengganggumu?"

Ia menghela napasnya pelan dan menaikkan sebelah kakinya ke atas kasur, mencari posisi yang nyaman untuk mengobrol. "Kau tahu, aku pernah berada di posisimu. Aku tahu betapa menyakitkannya jika berada di posisimu. Dan itu lebih menyakitkan ketika kau harus bertarung seorang diri tanpa ada orang yang berdiri di belakangmu dan meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semuanya tak dapat dikendalikan. Semuanya seolah runtuh menimpa dirimu. Dan sekarang, aku menawarkan bantuan untukmu. Ya, mungkin ini tak seberapa tapi kuharap ini dapat membantumu. So, as long as you're in this situation, my body is yours."

Benarkah pria yang berada di hadapanku ini seorang Harry Styles? Aku sangat amat menghargai pertolongannya itu. Aku hanya tidak percaya kalau Harry memiliki sifat lain seperti ini. Dan aku benar-benar tersentuh dengan penjelasannya. Siapa yang menyangka jika Harry akan peduli padaku?

Jika ia pernah berada dalam posisiku, bukankah artinya ia pernah kehilangan seseorang yang membuatnya gila sepertiku? Tidak, aku tidak akan bertanya tentang siapakah orang itu. Ia sudah sangat baik padaku, tidak mungkin aku akan mengajaknya berdebat lagi. Lagi pula, apa yang ia ucapkan sudah cukup memberiku informasi tentangnya. Aku tak ingin mencampuri urusannya.

"Want a hug?"

Aku menatapnya takut dan ragu, "Can I?"

Tanpa menjawab Harry menarik tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya yang lumayan besar, sementara Harry merangkulku dengan sebelah tangannya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, mataku terpejam. Dan aroma tubuhnya menyeruak masuk ke indera penciumanku. Napasnya teratur, yang secara otomatis membuatku mengikutinya.

Empty // HARBARA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang