Erica selesai berdansa dengan ayahnya dihari ulangtahunnya. Semua bertepuk tangan setelah itu ballroom penuh dengan orang lain yang mulai berdansa, sekali lagi Erica memilih untuk duduk saja. Dia melihat adiknya berdansa dengan Teddy, kekasihnya dari kerajaan seberang. Erica celingukan mencari-cari seseorang yang spesial hari ini. Tapi tidak satupun dari antara kerumunan orang ini ada Liam. Dia menghela nafas lalu bangkit berdiri mengendap endap keluar dari istana. Sudah cukup dia berpura-pura menikmati ulangtahunnya. Dia suka, tapi tidak ada Liam- rasanya berbeda.
Erica memutuskan untuk berjalan kekamar Liam, dan Liam ada disana, duduk sambil membaca buku, terlihat santai melihat Erica yang tercengang dengan gaun cantiknya melihat Liam.
“ Liam! Apa yang kau lakukan?”
“ Membaca?” tanyanya tidak yakin. Erica berdecak kesal, ia duduk disebelah Liam dengan kasar. Liam menaruh bukunya dan duduk tegak.
“ Kau tidak datang kepesta ku?” tanya Erica. Liam menghela nafas. “Kenapa?”
“ Aku tidak layak-“ ujarnya pelan, erica mengerutkan dahinya. “ Semua yang datang disana adalah orang orang terhormat, para pangeran dan putri—“ liam menunduk tidak meneruskan perkataannya.
“ Tapi aku ingin kau datang—“ jawab erica, “tidak masalah kau siapa- kau adalah pangeranku, aku tidak peduli statusmu—itu bukan masalah..”
“Akan menjadi masalah kalau ayahmu tahu—“ potong liam. Erica diam. “menurutmu ayahmu akan setuju dengan hubungan kita? Dia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya—“
“ jangan—“ erica menaruh satu jarinya dibibir liam, membuat lelaki itu diam. “jangan pernah katakan hal seperti itu, jangan pernah berpikir kau hanyalah seorang pesuruh dikerajaan ini, karena kau adalah kekasihku—“ erica mendekat kearah liam.
“apakah tidak membuatmu risih jika ada yang bertanya siapa kekasihmu? Hm? Semua temanmu, atau paling tidak ashley, memiliki kekasih seorang pangeran dan kau…” erica menyentuhkan bibirnya kepada liam, membuatnya berhenti berbicara.
“ sudah kubilang berhenti bicara—“ katanya tertawa kecil, liam tersenyum menghela nafas. “kalau kau tidak mau datang, tidak apa-apa—aku tidak akan memaksa, tapi aku tidak akan kembali kepestaku—“
“ erica—“
“ untuk apa aku menikmati semuanya kalau kau tidak ada disampingku—“ erica naik keatas kasur dan membaringkan kepalanya didada liam. Liam perlahan mengusap-usap rambut sang putri, kesunyian meliputi mereka beberapa saat. Liam sungguh sayang pada erica, tidak ada yang lebih berharga daripada sang putri sendiri- semenjak dia disini, dengan tidak adanya anggota keluarga sama sekali disisinya, liam merasa aman dan nyaman hanya karena erica ada didekatnya. Tapi satu yang dia khawatirkan, hubungan mereka. Liam hanyalah penjaga kandang kuda dan kekasihnya adalah seorang putri dari kerajaan terhormat seperti ini. Dia tahu ayahnya tidak akan sembarangan memilih pasangan hidup untuk erica, liam takut dia terlalu cinta kepada sang putri- dia takut hubungan mereka tidak direstui dan dia harus melihat erica tumbuh dewasa dan tua bersama dengan lelaki lain yang bukan dirinya.
“ erica?”
“hmm?”
“kau mencintaiku?” erica menegakkan kepalanya dan tersenyum
“ tentu saja aku mencintaimu—“ liam tersenyum mendengarnya
“ aku juga—“ balasnya. Erica kembali merebahkan kepalanya. “kau tidak mau kembali kepesta besarmu?” tanya liam dan erica menggeleng. “ayahmu akan mencarimu—“ erica masih diam. “dia akan mencarimu kemana-mana, dan kalau sampai kau ditemukan disini—“ erica menegakkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Happily (N)ever After
CintaCinta sejati itu selalu lahir baru disetiap zaman, begitulah kata orang-orang.
