"Lo kenapa bro?" Rio menepuk pundak David yang sedang meringis di pojok kelas.
"Biasalah." David tersenyum kecil seakan sudah terbiasa.
"Okelah,inget ya ntar malem jadwal lo buat balapan liar." Rio mengisyaratkan David.
"Gue gak mau.Gue berhenti." David bangkit dari duduknya dan menuju luar kelas.
"Tunggu! Lo kenapa jadi gak konsisten gini sih?! Malu sama musuh bro!!" Rio menghentikan langkah David dengan kasar.
David juga tak ingin kalah sebelum perang.Ia pun diam sejenak.
"Oke.Nanti malem jadi balapan terakhir gue." Ia pun melengos ke luar kelas dan menuju rooftop sekolah.
Pikirannya sedang kacau.Ia benar-benar merasa hancur.Semua masalah kini datang padanya,ada bersamanya dan enggan untuk pergi.Ia mulai merogoh saku celananya dan mengambil sebatang rokok yang telah lama ia hilangkan dari hidupnya.Tak tahu harus apa,hanya rokok ini yang bisa ia ajak sedikit berkompromi.
●●●●●●
"Om gimana keadaan Tata?" Titan berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan ICU dan bertemu dengan Ayah Tata yang baru saja keluar dari ruangan.
"Tata baik-baik aja.Kalian mau lihat Tata?Masuk aja,Om mau ngurus obatnya Tata dulu." Ayah Tata mempersilahkan teman-teman Tata untuk masuk.
"Baiklah Om." Titan memimpin memasuki ruangan ICU dengan langkah yang hati-hati.
"Tata..." Titan memanggil namaku pelan.
"Haiiii" Aku sontak bangun tergesa-gesa agar terlihat baik-baik saja.
"Ta,kenapa sih lo harus bohong sama kita?" Marsha berkaca-kaca.
"Bohong?bohong tentang apa?" Aku menyengir seolah tak tahu apa-apa.
"Lo kena kanker darah kan Ta?Lo kenapa gak jujur sama kita dari awal sih?" Kini Melzy yang bicara.
"Maaf ya." Aku menunduk lesu.
"Kita gak mau kehilangan temen Ta.Lo harus sembuh,kita semua disini ada buat lo." Marsha menggenggam erat tanganku.
"Sha..." Aku menatap Marsha dan yang lainnya dengan tatapan sendu.
"...Gue takut." Aku menitihkan air mata.Semua kebohonganku kepada mereka sudah diketahui.
"Jangan takut.Kita semua disini sayang." Marsha dan yang lainnya memelukku erat,sangat erat.
Aku menangis dalam pelukan mereka.Mestinya aku harus malu kepada mereka,entahlah sudah berapa kali aku menangis di depan mereka semua.
"Kalo lo mati,yang gue jahilin siapa dong?" Malini memulai topik agar suasana mencair.
"Ih adek mah! Jangan ngomong gitu!!" Malina,kakaknya merasa kesal dan meninju kecil kepala Malini.
"Aww sakit mbak." Malini meringis kecil.
"Hahahaha,udah Lina,udah." Melihat tingkah laku mereka,aku jadi tertawa,kami semua tertawa.
Terimakasih Tuhan,aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka.Mereka yang bisa menjadi semangatku disaat semua impianku hancur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Matahari Belum Menyerah
Teen Fictionsepuluh tahun berlalu.Semuanya terasa sangat berbeda.Kalung itu kini berada di leher wanita itu.Dia menggendong anaknya yang masih berumur 2 tahun.Anak perempuan yang sangat cantik.Dan suaminya sedang memperhatikan mereka dari lantai atas kamarnya.K...
