Sepulang dari menjenguk Tata,David pulang ke rumah dengan malas.Bagaimana tidak,di bangunan yang luas ini hanya ia sendiri yang menempati.Neneknya sudah meninggal dan ia enggan untuk kembali ke rumah orang tuanya lagi.
Malam itu,semuanya terasa sepi.David memutuskan untuk berdiam diri di balkon lantai 2 rumahnya.Sesekali ia menengok ke langit luas yang ditaburi bintang berkilau.
"Dinda..." David bergumam kecil.Hatinya terasa pilu jika mengingat adik kecilnya yang telah lama tiada.David sangat sayang dengan Dinda.Namun,maut malah memisahkan dan menjadikan David sebagai kambing hitamnya.
"Ta,gue pengen cerita banyak ke lo tapi gue sadar kondisi lo gak pantes buat gue bebanin lagi." Kini ia hanya bisa menunduk lemas.
"....Gue sayang sama lo,tapi sampai saat ini pun lo gak bisa lupain Fajar." Kembali ia bergumam,terasa menyerah kepada nasib.
"Apa gue gak berhak buat dapetin cinta?Kenapa semua orang yang gue cinta malah pergi ninggalin gue?!" David emosi.Ia masuk ke dalam kamarnya dan memecahkan apapun yang ada.Setelah itu ia memilih untuk memutari jalan agar pikirannya tenang.
■■■
"Fajar makan ya?Aku suapin." Angela merayu Fajar yang sedang terbaring lemas di kasurnya.
"Gak.Gak laper." Fajar menolak dengan dingin.
"Makan ya?dikitt aja,biar cepet sembuh." Angela tak menyerah,ia terus merayu Fajar agak mau makan.
"Gak Tata,aku gak laper." Fajar hilang konsentrasi.
"Tata?" Angela terlihat merah padam.
"Maaf." Fajar hanya menjawab dengan dingin.
"Aku kira kamu udah lupa sama dia.Tapi ternyata,aku gak nyangka ya.Kamu gak pernah lihat gimana perasaan aku ke kamu." Angela bangkit dari duduknya dan meraih tas nya kemudian keluar dari rumah Fajar.
Bukannya mengejar Angela,Fajar malah sibuk dengan pikirannya yang tak henti menyebut nama Tata.
"Tata,kamu dimana?kenapa gak ada kabar?" Fajar mengecek ponselnya yang tetap nihil,tak ada kabar dari Tata.Ingin rasanya ia menanyakannya,namun ia terlalu takut jika mengganggu Tata dan sadar diri statusnya kini bukanlah pacar Tata lagi.
"Apa kamu udah sama David?" Pikiran Fajar bercabang kemana-mana dan seribu tanya ia sembunyikan bersama dirinya yang memilih untuk bungkam di bawah selimut.
Angela pulang dengan kekecewaan.Secara tidak langsung,dirinya sudah ditolak oleh Fajar.Kenyataan gebetan yang masih sayang dengan mantannya memang sakit.
Tanpa sadar,seorang pengendara motor yang melaju kencang dari arah berlawanan hampir menabrak Angela.
"Gila! Lo gak males hidup ya?!" Pengendara motor itu turun dan memaki Angela.
"Lo! David!" Angela mengenali sosok itu yang ternyata adalah teman seangkatannya.
Seketika itu,David merasa emosi melihat Angela yang sudah membuat hari-hari Tata belakangan menjadi muram.Tanpa pikir panjang David naik kembali ke motornya dan bersiap untuk melaju lagi.Namun,Angela menarik lengannya.
"Anterin gue pulang!" Tanpa malu,Angela memerintahkan David untuk mengantarnya pulang selayaknya majikan dengan sopir.
"Ogah!" David menepis kasar tangan Angela dan segera melaju kencang.
Namun,di tengah perjalanan ia malah berbalik lagi ke tempat Angela.
"Yes! Lo gak mungkin mau ninggalin cecan kayak gue sendiran.Hahaha." Angela tertawa penuh kemenangan.
"Naik." David berkata dingin dan disusul dengan Angela yang berboncengan dengan David.
David berhenti di sebuah taman yang sangat sepi.Hal ini sontak membuat Angela ketakukan dan curiga.
"Lo ngapain bawa gue kesini?!" Angela berontak namun dihadang oleh tubuh David.
"Jangan ganggu Tata dan Fajar lagi." Kata-kata yang keluar dari bibir David membuat Angela sedikit kesal.
"Kenapa?! Mereka kan udah putus.So,gue berhak dong deketin Fajar!" Ia benar-benar menaikkan volume suaranya dengan penuh emosi.
"Tata masih sayang sama Fajar." David berkata datar namun tajam mengenai hati Angela.
"Gue juga sayang sama Fajar!" Angela tak mau kalah.
"Tata sakit.Jadi tolong jangan tambah bebannya Tata." David menekan kuat bahu Angela.
"Sakit?sakit apaan sampai lebay gitu nyuruh gue jauhin Fajar?!" Angela merasa tak terima.
"Tata kanker darah." Kata-kata David yang terakhir membuat Angela bungkam.Dirinya melemas dan benar-benar tak tahu harus berkata apalagi.
"Gue harap lo ngerti.Sekarang gue anter lo pulang." David menarik tangan Angela dan melaju menuju rumah Angela.Disepanjang jalan,mereka berdua hanya terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan.
"Gue harap lo mau ngalah sekali ini aja." David menurunkan Angela di depan rumahnya dan saat itu Angela masih terdiam seribu bahasa.
■■■
"Tata,ada yang mau jenguk kamu sayang." Mama membuka pintu ruanganku dan aku sangat keget ketika mengetahui yang menjengukku adalah Angela.
"Ngel.." aku bergumam kecil.Melihatnya aku sangat kesal dan ingin marah namun semuanya itu aku tahan.
Angela berjalan pelan menuju ranjangku.Aku kira ada Fajar bersamanya.Namun,ia benar-benar sendiri kali ini.
"Ta,maafin gue Ta." Angela langsung banjir air mata ketika melihat keadaanku yang begitu lemas dan plontos.
"Maksud lo?" Aku yang heran mencoba duduk di atas ranjang.
"Gue banyak salah sama lo.Gue gak tahu keadaan lo separah ini.Maafin gue Ta." Angela memelukku hangat.Apa sebenarnya yang terjadi pada gadis ini?
"Iyaiya Ngel.Gue maafin kok." Aku tersenyum dengan sisa tenaga yang masih ada.
"Lo harus sembuh pokoknya.Fajar butuh lo." Angela menggenggam kuat tanganku.Ia berkata begitu yakin.
"Ngel,tolong jangan kasi tahu Fajar tentang keadaan gue ya.Please." Aku memohon kepada Angela yang kini masih menggenggam erat tanganku.
Ia hanya diam dan tersenyum lalu memelukku.
Tanpa Tata ketahui,David berdiri diluar pintu dan ia tersenyum puas melihat kedua gadis itu saling berpelukan.Rencananya berhasil.
"Gue harap lo mau ngalah sekali ini aja." David menurunkan Angela di depan rumahnya dan saat itu Angela masih terdiam seribu bahasa.
Ia pun bersiap untuk melaju lagi namun saat itu juga Angela dengan cepat menahannya.
"Besok anterin gue ketemu Tata.Gue mau minta maaf." Angela berkaca-kaca.
"Pasti." David manatap Angela hangat dan kemudian ia langsung melaju kencang entah kemana.
Beberapa part lagi udah mau ending.Penasaran gimana nasib Tata sama Fajar?So,baca terus ya readers💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Matahari Belum Menyerah
Teen Fictionsepuluh tahun berlalu.Semuanya terasa sangat berbeda.Kalung itu kini berada di leher wanita itu.Dia menggendong anaknya yang masih berumur 2 tahun.Anak perempuan yang sangat cantik.Dan suaminya sedang memperhatikan mereka dari lantai atas kamarnya.K...
