Hae Joo kembali ke kehidupan sebelumnya. Semua yang terjadi padanya seolah tidak terjadi apa-apa. Zelo melakukan kerja keras dengan mengatur ulang ingatan semua orang. Termasuk ayah Hae Joo. Tuan Yoon berpikir Hae Joo pergi mengunjungi ibunya di Manhattan.
"Jadi bagaimana ibumu?" tanyanya saat sarapan sebelum Hae Joo pergi sekolah.
"She's great. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya tapi kami masih dapat jalan-jalan ditengah kesibukannya."
"Baguslah kalau begitu."
Meski sudah kembali seperti semula Hae Joo masih memikirkan perkataan Krystal sebelumnya. Belakangan Hae Joo semakin sering memikirkannya. Ingatan itu tidak lagi dikunci oleh Krystal hingga Daehyun merasa sangat terganggu karenanya.
Krystal telah kembali ke Matto. Begitu yang dikatakannya pada BAP sebelum dirinya pergi. Dia mendoakan kebahagiaan Daehyun dengan Hae Joo. Kali ini dia melepas Daehyun untuk kebahagiannya sendiri.
"So, aku sudah menjadi penyelamatmu." Bisik Hae Joo ditengah pelajaran sastra yang cukup membosankan menurutnya. "Kau berhutang padaku."
"Aku akan membayarnya seumur hidupku." Hae Joo mengerang, Daehyun telah sering mengatakan itu karena dia sudah membaca pikiran Hae Joo sebelum yeoja itu mengatakannya. Daehyun hanya mencoba menghindari percakapan yang menjurus ke arah yang diinginkan Hae Joo.
"Cukup kabulkan saja satu keinginanku."
"Aku selalu melakukannya."
"Kali ini benar-benar lakukan dengan serius karena aku benar-benar menginginkannya." Daehyun menutup bukunya dan sepenuhnya mendengarkan Hae Joo.
"Apa keinginanmu?"
"Bersama denganmu selamanya."
"Akan kulakukan." Jawab Daehyun dengan singkat. Jawaban-jawaban Daehyun membuat Hae Joo geram belakangan ini.
Bel akhir pelajaran membuat mereka harus menghentikan pembicaraan itu. Tetapi Hae Joo kembali mengungkitnya dalam perjalanan pulang. "Aku tidak ingin kebersamaan yang kau maksudkan."
"Kau ingin selalu bersamaku, bukankah sudah kulakukan sejak awal? Aku selalu dan akan selalu bersamamu."
"Daehyun, aku ingin bersamamu selamanya." Hae Joo memutar duduknya hingga menatap Daehyun. "Aku tahu kau sudah melihat pikiranku. Aku tidak ingin kau menghilang."
"Apa kau mempercayai perkataan Soojung? Memangnya dia pernah mengalaminya?" Daehyun pun memutar duduknya menghadap Hae Joo saat lampu rambu-rambu merah.
"Lagi-lagi kau mengelaknya. Aku tidak peduli itu benar atau tidak tapi aku mempercayainya. Aku tidak ingin membuktikan kebenaran itu, karena aku tidak ingin kau hilang seperti debu."
"Listen! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya aku jika tanpamu. Tidakah itu cukup bagimu?"
"Tidak. Aku ingin waktu yang tidak terbatas bersamamu."
"Kau masih tidak mengerti."
"Kau yang tidak mengerti juga. Aku mencintaimu Jung Daehyun." Lampu kembali hijau dan mereka kembali melanjutkan perjalanan. "Apakah kenyataan kau dapat bersamaku selamanya begitu buruk untukmu?"
"Aku pun mencintaimu. Tentu aku suka kita dapat bersama selamanya."
"Kalau begitu ubah aku." Hae Joo serius dengan ucapannya. "Change me, Daehyun."
Daehyun menekan pedal rem tiba-tiba. Kemudian bunyi klakson berseruan di jalanan. Daehyun sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Hae Joo bersyukur karena tindakan gila Daehyun tidak mencelakai orang lain. Dia menatap Hae Joo dengan intens. Mencoba mencerna keinginan gila yang diutarakan yeoja itu.
"Kau tidak tahu penderitaan apa yang akan kau terima dengan melakukan itu." Daehyun terlihat menderita. "Jangan lagi membahasnya."
"Ubah aku," Hae Joo menatap Daehyun dengan serius. Permintaannya yang barusan bukan hanya mengejutkan Daehyun tapi semua yang ada di sana. Hae Joo meminta dukungan dari anggota BAP atas keinginannya. Yongguk melihat kesungguhan dalam perkataan Hae Joo tersebut dia pun menatap Daehyun menunggu reaksi dari namja tersebut akan permintaan itu.
Seperti tersiram es Daehyun membeku ditempatnya. Dari sorot matanya Hae Joo merasa ada kepedihan. Apakah permintaannya barusan menyakiti Daehyun? Daehyun berbalik dan mengabaikan permintaan Hae Joo barusan. Hal ini mengejutkan Hae Joo sendiri. Hae Joo kesal karena Daehyun selalu menghindarinya.
"Bukankah kau bilang akan memenuhi permintaanku. Apakah permintaan itu begitu sulit?"
"Itu bukan hanya sekedar permintaan."
Kalimat Daehyun yang dingin itu menusuk dihati Hae Joo. Setelah itu Daehyun melangkah pergi. Hwayeon mendekati Hae Joo dan merangkulnya begitupun dengan Yoorin. Zelo dan Jongup mengikuti Daehyun pergi.
"Hyung," panggil Zelo
Jongup dan Zelo berdiri di samping Daehyun. Mereka cukup mengerti bahwa Daehyun paling tidak bisa membicarakan tentang masalah ini. Sikapnya akan menjadi dingin jika menyangkut merubah seseorang.
"Sebaiknya kau bicara baik-baik dengan nunna. Aku rasa dia akan mengerti."
"Akan lebih baik dia tidak mengenalku. Zelo-ya..."
"Jangan pernah memikirkannya meski hanya satu detik." Zelo cepat-cepat memotong perkataan Daehyun sebelum dia mengatakan tujuannya. Karena Zelo tahu kemana arah pembicaraan Daehyun.
Sepertinya Jongup sependapat dengan Zelo. Sang maknae memiliki kemampuan khusus yang dapat menghilangkan ingatan seseorang baik itu sementara atau secara permanen. Pada kali ini Daehyun ingin Zelo menggunakan kemampuan itu.
"Kau tidak bisa menghilangkan ingatan nunna, hyung. Meski kau bisa melakukannya tapi hatinya tak bisa melupakanmu." Zelo menyetujui nasihat Jongup ini. "Aku pikir nunna akan lebih aman jika dia tetap bersama kita. Jika aku boleh berpendapat maka aku setuju dengan keinginan nunna."
"Moon Jongup!"
"Aku tidak mengerti dimana letak penghalangnya, kau mencintainya dan dia mencintaimu. Dia bersedia kau ubah lalu kenapa?"
"Kau takut akan menyakitinya." Semuanya menoleh pada pemilik suara tersebut. Youngjae berdiri di belakang mereka.
"Kalau begitu biarkan Yongguk hyung yang melakukannya."
"Tentu saja itu tidak boleh. Kau tidak ingin mengambil jiwanya bukan?" Daehyun bungkam. "Kau tidak ingin dia kehilangan jiwanya sendiri. Kau tidak ingin membuatnya kehilangan kesempatan menjadi manusia normal."
Porsche hitam itu berhenti dihadapan rumah Hae Joo. Keduanya tetap diam sejak dari rumah Daehyun. Hae Joo memainkan jari-jarinya sementara Daehyun menatap lurus keluar jendela. Dia bisa mendengar pikiran Hae Joo tapi enggan membahasnya.
"Dengar, aku tidak peduli jika aku menjadi orang yang setia padamu karena kau 'tuanku' atau apapun itu selama aku tetap bersamamu."
"Kau akan kehilangan masa yang harus kau nikmati sebagai manusia."
"Aku tidak peduli."
"Okay, katakan aku setuju melakukannya tapi bagaimana dengan ayahmu dan ibumu? Apa kau tidak berpikir mereka akan sangat kehilanganmu? Kau tidak akan bisa kembali pada mereka."
Daehyun merasa sedikit lega menemukan alasan untuk mendebat dengan keinginan Hae Joo. Gadis itu sekarang mulai ragu tapi senyum Daehyun hilang kala Hae Joo kembali bersikukuh dengan keinginannya.
"Mereka akan baik-baik saja, yah mungkin mereka akan bersedih tapi itu tak akan lama. Pada tahun-tahun berikutnya mereka akan melupakanku."
"Yoon Hae Joo!"
"Aku tidak akan pernah merubah keinginanku. Tidak akan pernah." Hae Joo keluar dari mobil dan pergi ke kamarnya tanpa Daehyun.
Malam ini begitu sepi dan dingin. Sepertinya langit sendiri diselimuti awan, tak ada bintang bahkan bulan. Hae Joo meringkuk di balik selimutnya memandang jendelanya yang dengan sengaja selalu dia buka. Tapi malam ini Daehyun tidak datang.
"Mianhae." Hae Joo meneteskan air mata hingga ia tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Book 1] Everlasthing
Fiksi PenggemarSejujurnya aku tidak tahu apa yang kulakukan pada sebagian besar waktu selama eksistensiku. Tetapi kau memberiku satu alasan yang pasti tentang eksistensiku. Kini kutahu waktu selamanya tak akan cukup bersamamu. Even so, Lets Start With FOREVER
![[Book 1] Everlasthing](https://img.wattpad.com/cover/86363865-64-k591404.jpg)