#36 Separated

39 6 2
                                        

Setelah mengungkapkan keinginannya yang konyol kemarin sore suasana jadi sedikit canggung. Dia tahu Himchan telah mencoba memperbaikinya dengan kemampuannya. Tapi Hae Joo masih merasa aneh ada diantara mereka. Terlebih dia belum melihat Daehyun sejak pagi ini.

"Dengar," Hae Joo memulai. Rin Na kembali ke samping Himchan dan merangkul namja itu. "Aku tahu mungkin kalian terkejut dengan keinginanku. Tapi aku menyukai kalian karena itu aku," Hae Joo berhenti sejenak dan memandang satu per satu diantara mereka. "Aku senang ada diantara kalian. Aku sudah memikirkannya matang-matang hingga aku sampai pada kesimpulan tersebut. Aku tidak tahu kalian mendukungku atau tidak tapi kumohon mengertilah."

Hening.

Hae Joo bahkan menahan napasnya. Dia menggigit bibir bawahnya sudah sejak dia menyelesaikan kalimatnya. Semuanya memandang Hae Joo tapi tidak mengatakan apapun. Agaknya Hae Joo sedikit kecewa dengan hal ini.

Zelo angkat bicara lebih dulu, "Aku tidak pernah menolakmu menjadi bagian dari kami."

"Akan sangat menyenangkan karena aku tidak lagi harus tergoda darahmu Eonnie."

"Sebenarnya, aku sudah melihatmu dimasa depan kami. Kau bagian dari kami." Kalimat Jongup memperbaiki suasana hati Hae Joo. Setidaknya dia mendapat sedikit kepastian, bahwa kelak Daehyun pun akan mengabulkan keinginannya.

"Oh, thanks."

Himchan dan Rin Na tampak enggan menyampaikan pendapat mereka. Keduanya saling pandang satu sama lain kemudian menatap Youngjae dengan lekat.

"Mianhae aku mengatakan ini. Aku memang senang kau bagian dari kami tapi jika saja ada pilihan akan lebih baik kau hidup sebagai manusia. Kau tidak sepenuhnya tahu kehidupan kami Hae Joo-ya."

"Aku bisa belajar."

"Insting tidak selalu dapat dipelajari. Ada kalanya kau tidak dapat mengendalikan hal itu." Rin Na menambahkan komentar kekasihnya. "Tapi kami menghormati keputusanmu itu saudaraku."

Dia memeluk Hae Joo dengan hati-hati untuk tidak terlalu keras. Dengan pernyataan itu Hae Joo mengerti ketidak setujuan kedua sejoli itu. Meski sebenarnya dia agak kecewa karena penolakan tersebut.

Beberapa hari berlalu dan Daehyun semakin sering mengabaikan Hae Joo. Hae Joo berpindah ke tempat Gayeon saat di kelas tanpa menjelaskan alasannya pada yeoja itu. Melihat keanehan ini Gayeon tidak bisa berdiri diam saja. Pada suatu siang di taman berumput Gayeon menuntut penjelasan dari kawannya itu perihal hubungannya dengan Daehyun. Tetapi masih saja Hae Joo enggan mengutarakan hal itu karena masalah ini terkait dengan identitas asli mereka.

"Lalu mau sampai kapan kalian berdiam diri? Apa kalian bertengkar hebat?"

Hae Joo mengeluh, "Bisakah kita tidak membahasnya? Please." Akhirnya Gayeon menyerah. Meninggalkan masalah itu begitu saja.

"Bisa kita bicara sebentar?" Daehyun menghampirinya setelah sekian hari mereka tidak bertegur sapa. Hae Joo mengikuti Daehyun keluar kelas dan menuju atap sekolah.

"Aku rasa tidak bisa diam saja tanpa memberimu kejelasan," Daehyun memulai. "Mari kita akhiri ini. Kita tidak bisa melanjutkannya."

"Mworagu?" Hae Joo terkejut seolah di aliri dengan voltage listrik.

"Aku dan keluargaku akan pergi meninggalkan Seoul. Mungkin untuk waktu yang lama, kami tidak tahu kapan akan kembali."

"Wae?" Hae Joo nyaris saja pingsan suaranya tercekat. "Kalau ini karena keinginan bodohku, lupakan saja. Kumohon jangan pergi. Kau tahu aku tak akan bisa hidup tanpamu."

"Yongguk hyung sudah telalu lama tinggal disini, orang-orang semakin curiga kenapa dia tidak bertambah tua. Begitupun dengan Himchan hyung." Daehyun merasa sangat bersalah harus menggunakan nama kedua kakak tertuanya. Dia menarik Hae Joo kepelukannya dan membiarkan Hae Joo menangis disana. "Jika ini terlalu berat untukmu, aku akan meminta Zelo membantumu."

Hae Joo tahu apa maksudnya. Dia menggeleng kuat dengan gagasan Daehyun tersebut dan menagis hebat di pelukan Daehyun. Tidak terbayangkan olehnya sedikitpun akan perpisahan. Jika memang benar Daehyun memutuskan pergi karena keinginannya Hae Joo sangat menyesalinya.

Bukan hanya siang itu Hae Joo menangis tapi pada saat dirinya tiba di kamarnya Hae Joo kembali menangis. Terlalu menyakitkan baginya untuk berpisah. Bukan hanya dirinya yang bergantung pada Daehyun tapi jiwanya. Jiwanya telah menjadi milik namja itu.

"Hae Joo-ya," Gayeon mengelus lembut rambut chingu nya tersebut.

"Aku tidak bisa, aku tidak bisa tanpa melihatnya Gayeon-ah." Hae Joo tidak dapat menghentikan air matanya.

"Apa kau yakin Hyung dengan keputusanmu?"

"Tidak bisakan kau memikirkan kembali hal itu?" Zelo dan Yongguk berusaha membujuk Daehyun.

"Jika memang Jongup melihat visinya seperti itu maka yang harus kulakukan hanyalah mengubah visi itu. Aku harus merubah masa depan."

"Kau yakin? Ini hanya akan menyakitimu dan dia." Sejak awal Hwayeon diam saja, kali ini dia ingin menghentikan keinginan Daehyun untuk berpisah dengan Hae Joo.

"Maafkan aku bertindak egois. Kumohon mengertilah."

"Daehyun, kami memang tidak menyetujui keinginan Hae Joo untuk berubah seperti kami tapi jika kau menyiksa diri untuk berpisah dengannya kami lebih tidak menyetujui keputusanmu." Himchan mendekat dan berkata dengan kesungguhan. Daehyun tidak lagi menanggapi bujukan keluarganya. Dia hanya menatap barisan pepohonan dibelakang sana.

a,��X�F�

[Book 1] EverlasthingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang