Ririn udah mutusin pindah sekolah, dan besok Ririn masuk ke sekolah saudara-saudaranya.
Sebenernya Ririn gak mau pindah dan ninggalin dua sahabat ajaibnya. Tapi karena jaraknya yang jauh, Ririn juga lama-lama jadi cape. Belum lagi Ririn bawa mobil sendiri. Kan kalo di sekolah saudara-saudaranya Ririn gak perlu bawa mobil sendiri, cukup naik ke jok motor salah satu saudaranya aja.
"Ma, Ririn bantuin ya?"
"Iya, sini-sini kita masak bareng!"
Mama Sanha udah pulang semalem, jadi rumah bisa diatur kalo ada Mama, kalo si Mama gak ada, ya somplaknya kumat semua. Segala macam barang berantakan, kaya kemaren pas Ririn kepeleset.
"Gimana soal sekolah baru kamu, Rin. Kamu udah persiapin semuanya kan?" tanya Mama yang lagi goreng ikan.
"Udah ko Ma, semua udah beres." Kemudian hening.
Tiga puluh menit kemudian, semua udah beres, semua udah tertata rapi di meja makan.
"Rin, kamu panggilin Ayah sama yang lain ya. Mama mau ke belakang dulu."
"Oke, Ma."
Ririn jalan ke depan, para cowok lagi kumpul di ruang tamu.
Ririn ngeliat Ayahnya lagi ngobrol sama yang lain dan Ririn ngerasa kalau Ayahnya sekarang sering ketawa, gak kaya dulu sebelum Ayah Jun dan Mama Sanha menikah.
"Rin, ngapain disitu? Ayok sini gabung!" kata bang Umin yang menyadari kedatangan Ririn.
"Hah? Oh iya." Ririn berjalan menghampiri semuanya.
"Lo ko nangis?" tanya Dio.
"Eh." Ririn ngusap pipinya dan merasakan ada air mata yang entah sejak kapan mengalir di pipinya.
"Lo kenapa nangis?" Dio kembali bertanya.
"Entah, gue aja gak tau kalo ada air mata di pipi gue."
"Kalo ada masalah cerita aja sama kita," kata Chen.
"Enggak ko, aku gak ada masalah apa-apa."
"Kamu kenapa sayang, duduk sini di sebelah Ayah!"
Ririn duduk. "Enggak kok, Yah. Ririn gak kenapa-napa," kata Ririn sambil mengusap air matanya.
Ririn menengadahkan wajahnya, mencoba menghentikan air mata yang mengalir dengan mengerjapkan matanya. Tapi entah kenapa, bukannya berhenti, air mata Ririn terus keluar. Semua memperhatikan Ririn, sampai Chanyeol dan Kai yang lagi main game sengaja mempause game mereka.
"Uhhh, ko malah makin deres sih, air matanya gak mau berhenti Yah. Hiks," kata Ririn mencoba menghentikan air matanya.
"Yaudah, sini peluk Ayah!" Ririn langsung peluk Ayah Jun yang ada di sampingnya.
"Biarin air mata kamu turun, gak usah ditahan. Oke." Mendengar kata-kata dari sang Ayah. Air mata Ririn malah turun semakin deras.
Ayah Jun mengeratkan pelukannya pada Ririn, tanpa disadari Ayah Jun meneteskan air matanya juga.
Sudah lama semenjak Bunda Ririn gak ada, Ayah Jun jarang di rumah karna sibuk kerja, dan Ayah Jun jadi jarang memeluk anak satu-satunya ini.
"Papa sama Ririn kenapa bang?" tanya Sehun berbisik pada Xiumin.
"Entahlah, abang juga gak tau," kata Xiumin balas berbisik.
"Yahhh, Mama tungguin gak dateng-dateng ternyata malah lagi pada asik main." Semua langsung menoleh pas Mama Sanha dateng.
"Ehhh, itu Ririn kenapa nangis?" Semua menggeleng.
"Pasti kalian jailin yaaa."
"Ihhh, Mama kok nuduh kita sih, kita aja gak tau Ririn nangis kenapa," kata Kai.
"Terus kenapa dong?" Semua langsung menoleh pada Ayah dan anak yang masih berpelukan.
Ayah Jun menggeleng saat melihat istri dan anaknya menatap keduanya penasaran.
"Utuk utuk utuk, Ririn udah ya, jangan nangis, berenti ya nangisnya. Kalo berhenti entar dibeliin es krim sama bang Suho," kata Baekhyun mencoba menghibur tapi malah kena timpukan bantal dari Suho.
"Yeee, urusan begitu lo malah limpahin ke gue,"
"Amal bang, lu kan banyak duitnya." Baekhyun nyengir.
"Rin, hey, kamu kenapa hmmm? Jangan nangis ya, mending sekarang kita makan, kasian tuh abang-abang kamu udah kelaperan."
"Mama ih, siapa juga yang kelaperan," kata Sehun.
Krykkk
"Itu perut siapa yang bunyi, Hun?" tanya Chanyeol dan semua akhirnya tertawa termasuk Ririn.
"Yeee, akhirnya Ririn ketawa lagi. Udah dek gausah nangis-nangis lagi. Kamu gak pantes mellow," kata Lay yang baru angkat bicara.
Ririn ngusap air matanya yang tersisa. "Terus pantesnya gimana bang?" tanya Ririn yang jadi penasaran.
"Kamu pantesnya jadi orang somplak kaya mereka." Lay nunjuk lima orang yang terdiri dari Dio, Baekhyun, Chanyeol, Kai dan Sehun.
"Gue kan gak somplak bang." Dio langsung protes pas dibilang somplak kayak empat sodaranya.
"Kaliankan lima serangkai, jadi sama aja."
"Au ah."
"Udah-udah sekarang kita makan, gak usah ribut."
"Yeeee makan." Baekhyun lari pertama ke ruang makan.
"Baekhyun, tungguin gue." Kai, Chanyeol dan Sehun ikut berlari menyusul Baekhyun.
Sedangkan yang lain hanya berjalan santai.
"Sayang udahan ya nangisnya, yuk kita makan, kamu juga pasti laperkan," ucap Mama Sanha sambil mengelus-ngelus kepala Ririn. Ririn hanya mengangguk lalu bangkit dan ikut berjalan, bergabung dengan yang lainnya.
Dan yang dilakukan Mama Sanha pada Ririn membuat seseorang diantara mereka cemburu.
'Kayanya gue gak pernah sampe dielus-elus gitu kalo lagi sedih.'
***
Hayooo siapa tuh yang cemburu? Bisa nebak gak?
Cemburu antara saudara itu pasti selalu ada.
Oh iya, jangan lupa mampir ke sini 👇
UNEXPECTED - EXO
Vote
Comment
And follow me. Papay
KAMU SEDANG MEMBACA
1#StepBrother⭐EXO ✔
FanfictionComplete (Private sebagian)✔ Apa kalian pernah membayangkan kalau kalian mempunyai ibu tiri dan saudara tiri? Pasti tak pernah. Itu juga yang ada di pikiran Ririn setelah ibunya meninggal 5 tahun lalu karena kecelakaan. *** Yuk cek! Happy reading g...
