*Author*
17 Tahun kemudian.
"Bundaaaaa." Teriak Pratiwi dengan amat keras hingga memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya
"Iya ada apa, Nak?" Ify muncul dari arah dapur dengan menampakan wajah yang cemas.
"Ini Bunda kakak umpetin hape aku." Pratiwi mengaduh kepada Ify.
"Kakak, kamu ini selalu aja jahilin adik kamu, mana hape Tiwi?" Ify menegur putranya itu.
"Tiwinya aja bunda, yang nakal." Ucap Prasetya sambil melirik adik perempuannya itu, Tiwi sudah berdecak kesal mendengar penuturan kakaknya.
"Emangnya kenapa Kak?" Tanya Ify kepada putranya tersebut.
"Ini Tiwi disekolah genit banget Bun. Dideketin sama cowo, terus pas dipintain nomornya malah dikasih aja. Terus ya Bun tadi tuh Tiwi lagi Chatan sama cowok makanya Kakak ambil hapenya biar gak genit." Rupanya Prasetya mengkhawatirkan adik perempuannya.
"Ih bilang aja kalo kakak itu irikan sama Tiwi, kakakkan gak ada yang deketin." Sahut Tiwi tak kalah sengit. Membuat kepala Ify berdenyut sakit.
"Sudah-sudah, Kakak, kembalikan hapenya Tiwi ya." Ify melerai putra dan putrinya ini.
"Hahah emang enak kalah." Sahut Tiwi dengan nada mengejek. Membuat Prasetya mendengus kesal sambil mengembalikan Handphone milik adiknya tersebut.
"Kamu juga Tiwi, jangan nakal. Kakak kamu itu khawatir sama kamu Nak, kamu yang nurut sama kakakmu jangan membantah terus." Kata Ify, karena jika terus membela putrinya bisa-bisa semakin susah untuk diberitahu.
Ify dan Alvin memiliki anak kembar yang dilahirkan oleh Ify tepat tujuh belas tahun yang lalu, Alyssa memberi nama Pratiwi kepada putrinya dan untuk putra diberi nama oleh Alvin.
Prasetya tumbuh menjadi pemuda yang tampan, cerdas, indah akhlaknya namun ia sangat over protektif kepada Pratiwi adiknya, Prasetya sangat menyayangi adik perempuannya dan Pratiwi tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, wajahnya didominasi oleh Ify hanya saja matanya kecil seperti Alvin, Pratiwi gadis yang kepintarannya biasa saja, serta menjadi gadis yang amat manja. Ia juga sangat tidak suka kepada sifat kakaknya yang terlalu over.
Ify kembali lagi kedapurnya, ingin melanjutkan membuat sarapan untuk keluarga kecilnya, padahal bibi sudah melarang Ify memasak namun seperti biasa jika untuk membuatkan sarapan, Ify ingin membuatnya sendiri, agar peran sebagai Ibu tidak hilang.
"Kakak, kenapa sih kak Setya selalu aja ikut campur urusan aku." Tanya Pratiwi kepada Kakaknya itu.
"Karena Kakak sayang sama kamu Tiwi, kamukan tahu sendiri kalau kamu itu adiknya kakak, sudah sepatutnya kakak melindungi kamu." Ucap Prasetya sambil tersenyum manis.
"Tapi gak gini juga kak, semua cowok yang deket sama aku. Pasti kakak buat gak nyaman." Pratiwi mendengus sebal.
Namun Prasetya hanya mendiamkan adiknya, tidak akan pernah selesai jika berdebat dengan adik kecilnya itu.
Prasetya dan Pratiwi berada di satu sekolah yang sama yaitu Sma Prima Jaya. Dan mereka berada dalam kelas yang berbeda jika Prasetya berada dikelas XI Mia 1 sedangkan Pratiwi berada dikelas XI Mia 3. Meski begitu tidak menghalangi Prasetya untuk selalu memantau keadaan adiknya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti.
Ternyata kedatangan keluarga Gabriel dan juga Sivia. Dan juga anak gadis mereka yang bernama Aqilla dan Asyifa, mereka berdua berada di sekolah yang sama dengan Prasetya-Pratiwi membuat mereka saling mengenal. Walau Aqilla-Asyifa kakak kelas, Aqilla berada dikelas XII Mia 2 sedangkan Asyifa berada dikelas XII Mia 1.
"Eh ada Om Iel, sama Tante Sivia." Prasetya dan Pratiwi mencium tangan keduanya, dan meminta mereka untuk duduk.
"Kangen sama kak Qilla dan kak Syifaaa." Teriak Pratiwi dengan manja, lantas memeluk keduanya.
"Kakak juga kangen sama kamu Wi. Kamu sih tidak ikut sama kita ya, Syif." Kata Aqilla sambil melirik Asyifa yang berada disampingnya.
"Hehe lain kali deh ya kak, kita pergi liburan bareng."
"Oke Wi."
"Eh ada tamu ya." Ify muncul dari dapur , kemudian kedua sahabat itu saling berpelukan. "Kangen kamu Fy." Kata Sivia memeluk Ify dengan erat. Ify pun balik membalasnya. Kemudian diikuti oleh putri kembar Sivia yang langsung mencium lengan Ify dengan sopan.
"Alvin mana, Fy?"
"Lagi di ruang kerja Kak, bentarya dipanggilin."
Beberapa saat kemudian munculah Alvin dengan pakaian santainya.
"Hei bro, Apa kabar nih? Gimana liburannya?" Tanya Alvin.
"Alhamdulillah, lancar deh bro." Sahut Iel.
"Papah sama Om kayak anak muda ya? Bahasanya pake bro-bro segala, kayak temen di sekolah Tiwi." Ucap Pratiwi dengan polosnya, membuat Prasetya yang ada disamping gadis itu mencubit pelan lengan adiknya.
"Aw, sakit tau." Keluh Tiwi.
"Ya kan kita kekinian, ya gak Vin." Kata Iel membuat semuanya tertawa garing.
"Lu aja Yel, Gue enggak."
"Ampun deh ya, dari zaman muda sampe dah berumur tua gini masih aja." Via greget sekali dengan dua lelaki ini.
Alvin meminta Prasetya mengajak Aqilla-Asyifa dan Pratiwi untuk bermain diluar ,di taman atau di mana saja asal masih jangkauan rumah.
"Eh btw, Agni gimana? Udah nikah lagi?" Tanya Ify, sejujurnya Ify sangat prihatin atas kejadian yang menimpa sahabatnya tersebut.
"Udah Fy, Agni nikah sama temen deketnya waktu Smp katanya, namanya Ryan dan mereka tinggalnya jauh, Fy. Bukan di Jakarta lagi melainkan di Bali. Katanya dia udah muak sama kejadian selama di Jakarta."
"Udah punya gadis dong, ya." Tanya Alvin.
"Ya udah Vin. Anaknya ada tiga malah." Sahut Via dengan antusias.
"Waduh hebat amat." Mereka tertawa bersama. Walau Agni jauh namun komunikasi tidak pernah terputus walau terkadang hanya sebulan sekali berkomunikasi itu juga lewat email. Sebab kesibukan Agni yang membuka usaha disana membuat Agni jarang membuka akun sosial medianya.
"Eh itu btw Rio ama Shilla gimana ya sekarang." Tanya Iel dengan nada yang penasaran.
"Kata Mamah sih baik-baik aja, mereka sekarang akur gak kaya dulu cekcok mulu."
"Yaiyalah? Masa udah tuir gini masih aja berantem. Emangnya masa-masa remaja yang penuh kelabilan."
Disisi lain anak-anak mereka sedang mengobrol ditaman, mereka berempat terlihat akrab. Kemanjaan Pratiwi, kedewasaan seorang kakak yang dimiliki oleh Prasetya, kebaikan dan keanggunan Aqilla-Asyifa membuat mereka cocok untuk berteman.
Beginilah hidup tidak akan ada yang mengetahui kedepannya akan bagaimana dan akan seperti apa, yang jelas hidup itu berputar.
Tidak selamanya sikecil akan menderita dan tidak selamanya sibesar akan bahagia.
Semua telah dibagi porsi sama rata, hanya tinggal manusia saja yang mengolahnya. Diolah menjadi manusia yang baik atau diolah menjadi manusia yang jahat dan sok berkuasa.
Semuanya hanya tinggal berdoa, karena Doa adalah kekuatan yang tiada tara. Bersyukur dalam hidup juga salah satu kunci menuju kebahagiaan.
Selesai
***
Akhirnya cerita ini selesai juga, Hai pembaca setia yang mengikuti sampai akhir cerita ini terimakasih ya atas vote dan sarannya selama cerita ini dibuat😁😁😁
Maaf ya jika selama pembuatan cerita atau dalam cerita terdapat kata yang menyinggung pembaca dsb, cerita ini dibuat semata-mata hanya untuk menghibur kalian semua. 😉😉😉
Sekian dari saya Wassalamualaikum.Wr.Wb
(Bekasi, 16 Desember 2017)
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamulah TakdirKu
De Todo[CERITA LENGKAP] [Jangan lupa follow me] Hubungan yang bertahan lama itu bukan menjadi jaminan kebahagiaan. Begitupun dengan hubungan Alyssa dan Rio. Mereka berpacaran cukup lama namun perlahan sikap Rio berubah. Alyssa merindukan Rio yang dul...
