“Akh...!!!” teriak Lancelot menahan sakit.
“Kau sangat keras kepala sekali, sama seperti Jack” kata Alice sambil merapikan poni-nya yang sedikit berantakan.
“Lancelot...” sambil berjalan mendekati Lancelot.
“Pemimpin organisasi MLBB... Seorang pangeran... Lumayan juga” memerhatikan Lancelot yang sedang terkapar dengan darah yang terus mengalir keluar dari lukanya.
“Akh...” sedikit sadar.
“Kau! Bagaimana bisa kau menahan serangan dariku?” terkejut.
“A-aku...tidak akan..pernah bisa..mati. ditanganmu. A-aku akan menghentikan... semua...” belum selesai ngomong, Alice langsung menyihirnya lagi karena muak dengan kata-kata Lancelot tadi.
“Akh!!!!” teriak Lancelot menahan sakit.
“Dasar bodoh! Udah mau sekarat masih juga banyak gaya!” mengangkat Lancelot dengan kekuatan sihirnya.
“Simpan saja, gayamu untuk besok, pangeran. Karena kau sangat memerlukannya besok” kata Alice sambil menarik senyumnya agak panjang kesamping.
“Yang perlu kau lakukan adalah, menjadi pelindungku dari si ratu iblis, Vexana! Terima ini!” menyihir Lancelot sekali lagi(tapi sihirnya berbeda).
“Akh!!!!!” teriak Lancelot keras.
...
“Ptas!” bunyi sebuah cangkir terpecah.
“Odette! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Layla terkejut mendengar cangkir minuman Odette terjatuh.
“Ha...” menghela napas panjang.
“Hei, ada apa denganmu?” tanya Eudora heran dengan ekspresi Odette barusan.
“Apa kau sedang sakit Odette? Aku lihat mukamu mulai pucat” tanya Miya sambil memegang kedua tangan Odette.
“Bu-bukan apa-apa kok teman-teman. Tiba-tiba saja kepalaku pusing sekali, ntah kenapa” kata Odette sambil memejamkan matanya sebentar, untuk meredam rasa pusingnya.
“Liat, tanganmu aja udah mulai dingin” ucap Miya sambil menatap Odette.
“Rasanya, ada yang janggal didalam tubuhku ini” lesu. “Ha...”menghela napas panjang lagi.
“Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Nanti kamu tambah pusing lagi. Aku akan carikan obat untukmu” kata Layla sambil memegang bahu kiri Odette.
“Hmm.. Baiklah... Terimakasih teman-teman...” balas Odette dengan ekspresi lemas.
“Ayo Odette” kata Miya sambil mengiringi langkah Odette menuju kamar Layla.
Saat mereka hendak menuntun Odette kekamar Layla, tiba-tiba datanglah...
“Kamarmu dimana Lay?” tanya Eudora.
“Biasa..., dilantai dua paling ujung. Yang pintunya warna putih” balas Layla sambil membereskan cangkir-cangkir bekas mereka tadi.
“Jauh amat Lay. Biasanya kamarmu kan di lantai bawah, kenapa pindah keatas?” tanya Eudora lagi.
“Iya Lay, ada ndak kamar kosong buat Odette dilantai bawah? Kasian nih. Dia lagi sakit, malah kita suruh dia jalan keatas. Nanti malah nambah pusingnya Odette, kan kasian kedia” ucap Miya.
“Gimana lagi... Ruangan yang ada dilantai bawah semuanya udah dipakai semua. Kamar lama aku saja, aku ubah menjadi perpustakaan. Soalnya udah lama aku ingin punya perpustakaan pribadi dirumah, ndak jadi-jadi” jawab Layla selow.
