Ke’esokkan harinya...
"Lancelot!!!" panggil Moonton.
"Tolong, kecilkan suaramu... Berapa kali lagi aku bilang padamu, biar kau mengerti?" kata Lancelot bosan.
"Maaf. Tolong, panggilkan Chou dan Aurora kemari"
"Kenapa?"
"Aku kan akan memberikan skin Imlek sementara(ndak resmi) kepada para Hero pemenang undian"
"Undian apa lagi sekarang?"
"Sudahlah, panggil mereka dulu. Nanti aku jelaskan semuanya"
"Baik"
...
Rumah Lesley
"Woi snow white, bangun!" kata Lesley sambil menarik selimut Gossen.
"Hoam..." menguap. "Hmmm... Siapa kau?" pandangannya masih kurang jelas.
"Cuci mukamu sana. Sekalian mandi juga" kata Lesley lalu duduk ditempat tidur sambil melipat selimut Gossen.
"Lesley..." kata Gossen sambil merangkak ke arah Lesley dan meluknya malas(kayak orang lemas gitu).
*Blush!!!
"Ka-kau..." hendak menonjok muka Gossen yang ada di bahunya.
"Apa kau menyukaiku...?" masih setengah sadar.
"Apa!?" syok. "Kenapa kau ber..." belum selesai ngomong.
"Begitu ya... Aku pikir kau menyukaiku..." memeluk perut Lesley erat.
"Eh?" merasa bersalah. "Ke-kenapa kau menanyakan itu kepadaku?" malu.
"Karena aku menyukaimu..." mencium leher Lesley tapi kepalanya masih dibahu Lesley(buat meletak kepalanya yang berat).
"Hah!" tidak sanggup bergerak karena ciuman Gossen tadi. "Be-benarkah?" memastikan omongan Gossen tadi.
"Tentu saja... Tapi kau tidak membalas cintaku ini... Kau dingin sekali padaku... Aku saja heran, entah dari mana aku bisa menyukaimu..." mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Lesley.
"Ma-maafkan aku..." merasa bersalah bersalah.
"Tidak apa-apa... Seharusnya aku yang minta maaf, karena aku ini terlalu egois... Aku pikir, semua orang akan menyukaiku karena ketampananku. Karena mereka semua sangat menyeganiku karena aku tampan, tapi bagaimana kalau ketampanan ini hilang dari mukaku? Apakah mereka tidak akan peduli lagi denganku? Padahal yang aku butuhkan cuma kasih sayang mereka saja, tidak lebih. Tapi mereka melakukan itu padaku karena ada maunya... Tidak seperti dirimu... Padahal aku waktu itu memarahimu, tapi kau tetap mau membantuku juga... Terimakasih..." meneteskan air mata ke bahunya Lesley, hingga terasa ke kulit bahunya.
‘Dia menangis!?’ syok saat air mata Gossen menyentuh kulit bahunya.
"Gossen, tolong maafkan aku. Sebenarnya aku juga..." melirik ke Gossen.
"Sebenarnya apa?" mengangkat kepalanya dari bahu Lesley dan menatap wajah Lesley yang sangat polos itu(dia belum merias wajahnya kayak preman).
"Se-sebenarnya... A-aku..." gugup.
"Ya?" mendekatkan mukanya ke muka Lesley.
"A-aku... Ju-juga..." gemetar.
"Menjauhlah dari kakakku, hidung belang!" teriak Harley sambil melempar bantal kemuka Gossen.
Brukkk!!
"Harley! Kenapa kau..." melihat Gossen yang jatuh dari tempat tidur karena lemparan Harley tadi.
