THE SECRET #11

2.2K 304 1
                                        

Restoran itu..

Rasanya tak asing.

Restoran di pinggiran kota Seoul, dengan nama D'haery terpampang jelas didepan restoran dengan warna hiram-putih. Kaca besar menjadi penghalang yang memperlihatkan beberapa pengunjung restoran sedang makan dengan lahap.

Ini memang restoran, namun konsepnya menyerupai cafe yang identik dengan kopi. Bagian dalamnya terdapat sebuah lukisan abstrak dengan warna hitam-putih juga. Dan, cat berwarna krem.

Daera memejamkan matanya. Terjadi lagi, Daera kembali mengingat secuil ingatannya. Changbin sedang berjalan pelan memasuki restoran itu.

"Daehwi, aku tutup, ya?"

Daera menutup teleponnya. Ia menaruh ponselnya hati-hati keatas meja. Kedua tangannya beralih menggenggam erat secangkir green tea. Piring kosong yang tadi ia pakai untuk makan kimbap juga berada diatas mejanya juga. Matanya kembali fokus pada laptop putih dihadapannya. Daera mendengar suara telepon lagi dari ponselnya.

Tangannya sudah malas mengambil ponsel yang hanya berjarak 5 cm darinya. Daera melirik layar ponselnya, terpampang nama seseorang bernama Chasong, kakak perempuan Lucas.

"Chasong eonni? Tumben sekali dia menelpon."

Daera tersenyum sekilas dan mengangkat telepon dari Chasong itu.

"Ne, eonni. Ada apa?"

"Daera, Lucas kecelakaan."

"Benarkah? Bagaimana bisa? Dimana dia?"

"Rumah sakit dekat kampus. Dia ditabrak pengemudi mabuk."

"Apa lukanya parah? Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Dia tak apa-apa. Hanya badannya sedikit terpental, dia hanya luka-luka biasa."

"Ohh.. syukurlah. Aku akan kesana sekarang."

Daera menutup telepon, ia membereskan peralatannya. Daera berharap bahwa yang dikatakan Chasong memang benar. Bahwa Lucas baik-baik saja.

Daera memasukan laptopnya ke tas khusus dan ponselnya kedalam saku jas cokelat yang ia pakai. Tangannya segera mengangkat tas khusus yang berisi laptop itu dan terburu-buru keluar restoran.

Daera mencari zebra cross. Ia menengok kanan-kiri dan akhirnya menemukannya. Daera tersenyum dan menghela napas lelah. Ia berlari ke zebra cross. Sudah pukul 21.56. Daera sesekali menengok kebelakang berharap ada seseorang yang bersamanya saat menyebrang. Daera tak berani menyebrang sendiri.

Daera terlihat seperti seorang maling yang sedang dikejar-kejar orang sekarang.

Daera mengambil ponsel sakunya. Tangannya sibuk mengetik sebuah pesan pada seseorang.

'Daehwi oppa, mungkin aku akan sedikit telat datang ke acaramu. Lucas sunbae kecelakaan dan aku harus menemuinya dahulu. Semoga acaramu berjalan lancar!'

Kirim! Daera tersenyum sekilas, tangannya kembali menaruh ponsrlnya kedalam saku jacket.

Daera sudah menunggu cukup lama. Ia sudah tak peduli lagi. Lampu hijau tanda penyebrang diperbolehkan menyebrang sudah menyala. Daera menghirup napas sekali kemudian mengeluarkannya lagi.

Daera perlahan melangkah menginjak cat berwarna hitam-putih itu. Perlahan namun pasti. Daera belum menengok kanan-kiri. Daera tak berani.

Daera memberanikan diri menengok ke samping kanannya tanpa ekspresi, ia tampak seperti hantu di film horror yang sedang menengok perlahan menakut-nakuti targetnya sekarang. Dan, bodohnya saat itu juga dari samping kanan Daera. Seorang pengendara mobil yang sedang mengobrol lewat telepon berada tepat di sebelahnya.

Demi apapun, Daera takut mengingat kejadian setelah itu. Dan, kalian pasti bisa dengan mudah menebaknya.

Daera merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya.

"Ayo."

Itu Changbin. Pria itu menarik tangan Daera. Daera hanya pasrah ditarik oleh Changbin. Mereka memasuki restoran.

°°°

Daera memutuskan untuk tak memesan apapun, padahal Changbin sedang lahap memakan makanannya dihadapan Daera.

Daera tengah menatap keluar jendela. Tangannya mengepal ketakutan setiap kali teringat dengan ingatannya tadi. Ada banyak pertanyaan yang mengganjal dipikirannya.

Siapa itu Chasong? Mengapa Chasong memberitahu padaku kalau Lucas kecelakaan? Mengapa Changbin membawaku kesini? Apa dia tahu sesuatu? Kapan kejadian itu terjadi?

Daera menatap sekilas kearah Changbin yang sekarang tengah sibuk dengan ponselnya setelah menyelesaikan makan.

"Emm.. Changbin. Ada yang ingin kutanyakan."

Changbin mendongak menatap Daera sambil menaikkan alisnya.

"Mengapa kau membawaku kesini?" tanya Daera hati-hati. Ia menggigit bibir bagian bawahnya, khawatir Changbin merasa tersinggung setelah mengajaknya ke tempat ini.

"Untuk makan."

Mungkin Daera sudah berlebihan untuk khawatir pada manusia seperti ini.

"Ani.. Apa ada alasan lain kau membawaku ke tempat ini? Restoran seperti ini banyak terdapat di tengah kota. Mengapa disini?" Daera mengulangi pertanyaannya menjadi lebih jelas.

"Tak ada alasan lain." Changbin masih sibuk dengan ponselnya. Dari matanya terlihat bahwa ia sama sekali tak tertarik pada pertanyaan Daera.

"Ahh.. sudahlah." Daera menengok keluar jendela dengan harapan yang hampir pupus bahwa Changbin tahu sesuatu tentang masa lalu yang tak sengaja terhapus dari kepalanya.

Mata Changbin memang menatap layar ponselnya, namun pikirannya tak terletak disana.

Changbin berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Pukul 20.12, pekerjaannya sudah selesai setengah jam yang lalu dan entah setan apa yang mengajaknya untuk datang ke tempat ini.

Changbin memperlambat langkahnya. Sebuah percakapan dari tiga orang terdengar dari dalam ruangan dimana Daera yang belum juga siuman, dirawat.

"Sudah kukatakan jangan membawa Lucas kembali kesini! Dia yang telah menyebabkan ini semua!"

"Eomma, dia hanya ingin meminta maaf."

"Dengarkan dulu ahjumma. Maafkan aku, aku tak bermaksud mencelakakan Daera. Aku menyayanginya juga seperti adikku sendiri."

"Ahh.. sudahlah! Aku tak tahu! Bawa dia keluar sebelum aku memanggil security."

Changbin tak melihat siapa yang berbicara, namun sepertinya percakapan itu sangat penting. Seorang 'ahjumma', Lucas, dan anak dari ahjumma itu.

Mengapa mereka berteriak ditempat seperti ini? Apa mereka tak ingat bahwa Daera sedang istirahat disana.

Changbin mendongak menatap Daera. Gadis itu masih menatap keluar jendela restoran yang menampakkan beberapa anak sekolah dan pekerja kantoran yang sedang berlalu lalang.

"Daera~ssi, seberapa dekat kau dengan Lucas, sunbaenim mu itu?" satu pertanyaan terlontar dari mulut es milik Changbin.

Daera menengok menatap Changbin sedikit heran, "emm.. entahlah, Daehwi oppa bilang sudah sangat lama. Dia dulu juga seniorku di SMA, dan sekarang seniorku di kampus. Memangnya kenapa?"

"Tak apa," Changbin menghentikan kalimatnya sementara, "Tapi Daera, apa kau tak penasaran pria seperti apa dia sebenarnya?"

°°°
Masa lalu mulai terungkap yorobun.

Tenang, ini baru awalan. Karena inti cerita bukan disini.

Terus stay sama cerita ini ya? Karena setelah cerita ini selesai, fya bakal bikin sequel nya.

Bukan sequel tentang anak mereka atau semacamnya. Sequel tentang Chaerim-I.N-Lucas. Ada dedek I.N quh. Hayoloh bingung.

Makanya pencet bintang dibawah oke?

Luv u all,
❤

AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang