Setelah sebulan ga buka wattpad karna ga tau mau baca apaan, tiba2 yang baca udh 10k
Makasih sekali yeorobun~
Sebagai balasan fya bakal kasih chapter terakhir yang seharusnya dipublish kapan au.
Bintang juseyo:v
°°°°°
Luna membuka matanya. Ia merasakan dinginnya udara diketinggian 26.000 kaki diatas permukaan laut, kemudian merapatkan jacketnya. Ia melirik arloji hitam ditangannya. Pukul 4 dini hari. Masih 3 jam perjalanan lagi sebelum ia harus turun dari pesawat.
Tubuhnya sudah mati rasa karena susah bergerak setelah berjam-jam ia tak bisa bergerak sama sekali. Belum lagi seseorang disebelahnya yang membuatnya lebih tak nyaman dan rasanya ingin lompat saja dari ketinggian beribu-ribu kaki ini. Tapi ia tak ingin mati.
Luna mengganti posisi tidurnya menghadap jendela yang gordennya ia biarkan terbuka. Melihat pemandangan lautan dibawahnya membuatnya sedikit tenang.
Gadis itu berusaha duduk tanpa ingin membangunkan pria berbadan gemuk di sebelahnya, dan mengambil novel yang ia taruh di tas kecilnya. Luna menghidupkan lampu baca agar ia dapat membaca dengan jelas. Kemudian membuka novelnya tepat dibagian yang ia belum baca.
°°°
Taeyong membuka pintu apartemennya. Udara malam New York membuatnya ingin cepat-cepat berjumpa dengan kasurnya. Tangannya ia selipkan kedalam saku celananya dan badannya ambruk tepat diatas sofa.
Ia merasa dirinya sangat lelah seharian ini. Setelah mengurusi beberapa anak buahnya yang tak henti-henti membuat masalah. Ia dipusingkan dengan permintaan ayahnya, tentang seorang wanita asal negaranya yang ingin melamar kerja di Rumah Sakitnya.
Taeyong menarik paksa dasi hitamnya dan melemparnya asal.
Ayolah, memang itu permintaan pribadi ayahnya sendiri, tapi bukan berarti segala permintaannya harus dituruti, 'kan? Ia belum ermah bertemu sekalipun dengannya, dan tidak tau apapun tentang wanita itu?
Entalah, kita lihat saja besok. Ketika mereka pertama bertemu.
°°°
Luna menarik 2 koper besarnya menuju lift. Ia beruntung karena lift dalam keadaan kosong. Pintu lift segera tertutup saat ia menekan nomor lantai 14. Ia menghirup napas dalam-dalam berusaha memikirkan hal baik yang akan terjadi di negara barunya.
Liftnya berhenti, kemudian segera terbuka. Luna menarik kopernya kembali. Beruntung lokasi apartemennya strategis. Karena sangat dekat dengan lift.
Ia menekan beberapa nomor dan terbukalah pintu apartemen barunya.
Luna kembali mendorong 2 kopernya memasuki apartemen, tujuan utamanya adalah sofa. Setidaknya ia bisa tidur sebentar sebelum memulai membereskan barang-barangnya.
Gadis itu langsung menjatuhkan diri diatas sofa seperti sudah lama tinggal disana. Ia menghela napas panjang. Kemudian mengeluarkan ponselnya, ia membuka aplikasi kak*otalk dan mencari kontak adik laki-lakinya. Kemudian mengetik sebuah pesan singkat.
"Aku sudah sampai."
"Doa kan semoga hari-hari ku disini lebih baik, sesuai harapanku."
Luna menjatuhkan ponselnya diatas tubuhnya dan matanya segera terpejam.
°°°
Taeyong keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya berbalut handuk yang berada di pinggangnya dan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos. Ia mengambil setelan jas yang biasa ia pakai untuk bekerja.
Sepuluh menit berlalu. Tepat pukul 7.30, pria itu sudah siap dengan jas hitamnya dan melangkah menuju ponselnya yang berdering diatas meja makan. Tanpa basa-basi ia segera mengangkatnya.
"Ne, abeoji? Ada apa?"
"Ingat. Abeoji mengirim seseorang untuk melamar kerja di Rumah Sakitmu. Perlakukan dia dengan baik. Dia lumayan cantik, mungkin dia tipemu." goda Jiyong, ayah Taeyong.
"Aku bisa memilih calonku sendiri. Dan aku tahu tentang tata krama yang sudah diajarkan abeoji sejak dulu. Aku tutup."
Taeyong segera menutup teleponnya. Ia menaruhnya di saku jasnya. Kemudian segera berangkat menuju Rumah Sakit.
°°°
Mungkin kalian berpikir kalau pekerjaaan Taeyong adalah dokter. Bukan, pria berumur 29 tahun itu bukanlah dokter. Bahkan ia tak menguasai ilmu kedokteran sedikitpun. Ia adalah seorang direktur di Rumah Sakit besar di New York, Shilyan Hospital.
Ayahnya yang awalnya pendiri rumah sakit itu sudah tidak mampu untuk mengurusnya, kemudian memberikannya pada Lee Taeyong. Dan beliau menikmati hari tuanya di Korea Selatan.
Pria yang lumayan tinggi dengan wajah yang hampir sempurna ini melangkah menuju ruangannya di lantai paling atas gedung rumah sakit.
Sesekali ia tersenyum ramah pada pasien, dokter, maupun suster yang melewatinya. Sifatnya dingin, namun bisa saja ramah jika ia sudah merasa nyaman dengan tempatnya. Ia menaiki lift menuju ruangannya.
Ia sedikit memikirkan tentang wanita yang akan melamar kerja nanti. Apakah sama dengan wanita-wanita yang pernah ada dihidupnya. Wajahnya cantik, tapi hatinya tidak.
Taeyong membuang pikiran buruknya. Pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung, ia berjalan menuju ruangannya. Seorang wanita yang sedari tadi berada dipikirannya sudah duduk di sofa tamu, ruangannya.
Sedikit terkejut, namun ia berusaha menahan ekspresinya begitu wanita itu berbalik. Wanita itu lumayan.... cantik.
°°°
"Annyeonghaseyo Luna Jung imnida." sapa Luna kemudian membungkuk sopan pada calon CEO barunya.
"Kau sudah datang?" ucap Taeyong, kemudian menutup pintu ruangannya.
"Ne, apa aku terlalu lancang sudah masuk duluan? Aku bertanya pada salah satu dokter, dan dia membawaku kesini." Luna merasa sangat lancang sudah masuk lebih dahulu.
"Sudah, lupakan." Taeyong berjalan menuju mejanya, ia duduk dikursinya. "Jadi, abeojiku yang membawamu kesini?"
"Ne, katanya aku boleh melamar kerja disini."
"Mengapa kau memilih di New York? Jauh dari tanah kelahiranmu?"
Luna menelan ludah, "Eumm.. itu masalah pribadi. Maaf."
"O-oke, baiklah. Dimana surat lamaran pekerjaanmu?"
Luna menyerahkan amplop yang ia bawa ke Taeyong dengan gugup. Taeyong tampak biasa saja karena ia sudah berkali-kali melewati adegan seperti ini.
Taeyong membacanya dengan seksama.
"Jadi, nama aslimu Jung Chaerim? Mengapa mengubah namamu?"
Luna menelan ludah, "Eumm.. masalah pribadi. Maaf." Gadis itu sedari tadi menunduk saking gugupnya.
"Emm.. baiklah. Begini, setelah aku lihat. Kau dari lulusan yang lumayan hebat, jadi aku tak terlalu meragukan kamampuanmu. Tapi kau harus datang lagi besok untuk beberapa tes. Atau mau sekarang? Aku bisa siapkan sekarang. Karena yang menilai bukan aku."
"Sekarang saja." jawab Luna tegas.
"Baiklah."
"The End."
°°°
Jujur ini bakal jadi preview sequel amnesia, tapi itu masih dalam pikiran. Jadi fya mau hiatus dari dunia wattpad sampe melewati USBN, UNBK, ujian praktek, dan lain-lain. Doain smoga fya berhasil ngelewatin semua itu dengan lancar.
Tahun depan yang bentar lagi tahun depan, fya bakal bener-bener bikin sequel cerita ini. Itu juga kalo ide masih lancar.
-Renleexx [2018.12.15]
KAMU SEDANG MEMBACA
AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED
Fanfiction"Aku yakin, rencana bodoh appa tak akan berjalan sesuai keinginan. Dengarkan ini baik-baik, sampai aku mati pun aku tak akan bisa nyaman dengan Lee Daera." Kecelakaan beberapa bulan lalu benar-benar membuahkan hasil. Seo Changbin dan Lee Daera disat...
![AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED](https://img.wattpad.com/cover/142082912-64-k334601.jpg)