THE SECRET #16

1.9K 265 0
                                        

"Ahhkk!!!"

Bayangan Daera kecil pergi ke mimpi Daera. Daera sekarang sedang berada dalam sebuah lorong putih tanpa ujung yang memperlihatkan beberapa bingkai foto berukuran lumayan besar yang di pasang disetiap setengah meter dengan foto yang menurut Daera sangat asing.

Mulai dari sepasang anak kecil yang sedang memakan es krim dan duduk di ayunan masing-masing.

Anak laki-laki yang sedang memegangi sepeda ungu yang dinaiki anak perempuan. Sepasang anak kecil yang sama sedang tiduran diatas rerumputan. Ada juga yang menampilkan anak lelaki yang sedang menaiki pohon dan anak perempuan yang menunggu dibawah.

Foto yang sepertinya memanggil Daera untuk selalu melihat kearah itu adalah foto sepasang kedua anak kecil yang sama tengah duduk di rerumputan, dan anak perempuan itu tengah menangis. Anehnya wajah anak lelaki itu nampaknya sengaja ditutupi oleh si pelukis karena wajahnya terdapat coretan berwarna abu-abu.

"Ahhkk!!!"

Suara teriakan itu ada lagi, Daera menengok ke asal suara. Tepat di ujung lorong yang sebelumnya tak ada. Seorang anak perempuan yang tak asing berdiri, dengan dress berwarna putih tulang polos yang sama tak asingnya. Anak itu menatap Daera setengah kaget, kemudian air matanya mulai menetes.

Jangan tanya siapa yang kaget sekarang. Daera sangat kaget, apa yang telah ia lakukan? Kenapa anak ini menangis? Beribu pertanyaan mengelilingnya.

Daera ingin bergerak, kakinya mati rasa namun ia masih sanggup berdiri.

"Ya! Jangan pergi!" teriak Daera sebisanya.

Semua berubah sekarang, Daera berubah menjadi Daera kecil dan tengah berada di rumah ibunya. Disana ia tengah bersama keluarganya, eomma Daera , appa Daera, Juyeon, dan Daehwi juga ada disana. Di ruang keluarga.

"Appa? Seperti itu kah muka appa?" Menurutnya jika benar itu Appanya, dia lumayan tampan, mulut Daera yang berucap membuat semua orang disana menengok pada Daera.

"Apa yang kau katakan? Muka appa memang seperti itu." Daehwi yang heran menaikkan sebelah alisnya.

"Kau pasti mengantuk, mau appa antar ke kamar?" tanya Appa dengan lembut.

Daera kecil hanya menggeleng, "Aku mau bersama kalian saja. Seperti ini."

"Hah? Ada apa denganmu Daera? Kata-katamu terlalu dewasa untuk anak seumuranmu." Eommanya yang heran memeluk Daera dan menepuk punggungnya pelan. "Kau pasti benar-benar mengantuk? Tidur saja."

Daera tersenyum cukup lebar. Pelukan Eommanya terasa sangat nyata. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan pelukan Eommanya. Sejak tinggal bersmaa Changbin tentunya. Daera merindukannya.

Dan, kembali berubah. Sekarang Daera sudah cukup besar dari sebelumnya, namun tetap saja masih kecil. Daera kecil berlari menuju kulkas didapur. Rumahnya sepertinya sedang sepi, namun sangat berisik.

Ia melewati kamar orang tuanya, suara bising yang daritadi memekak an telinga ternyata berasal darisana. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Daera mengintip melihat apa yang ada disana.

Appanya sedang memukul kepala Eommanya lumayan kencang.

BUGGH!!!

"Mengapa kau berani-beraninya mengambil uang tabunganku?!" teriak Appanya.

"I-itu kare-na. Daera--" lirih Eomma Daera dengan posisi menunduk menghadap Appa Daera.

BUGGH!!! pukulan kedua yang Daera lihat.

"Tak ada alasan! Mengapa tidak ijin dulu!"

BUGGH!!! pukulan ketiga.

Mata Daera membulat menyaksikannya, Appa Daera diam-diam mengambil vas bunga yang berada diatas nakas dekat tempat tidur.

"Andwae.. Andwaee.." mohon Daera dalam hati.

Appa Daera hendak melemparnya ke punggung Eomma Daera, berhasil terhenti. Daera kecil mendorong pintu kamar lebar-lebar.

"Ahhkk!!! Appa jahat!!"

Daera menatap tajam Appanya sekilas kemudian berlari kearah pintu depan. Daera membukanya secepat mungkin dan berlari kearah kebun Eommanya. Langkahnya tak terhenti hanya sampai sana. Ia terus belari sampai entah dimana.

°°°

Changbin bangun tepat pukul 7 pagi. Ia sedikit menengok pada Daera yang masih terlelap sangat tenang disampingnya. Gadis ini sangat imut saat tidur.

Ia sama sekali tak bersuara selama hampir 15 menit menatap Daera yang belum juga terusik dari mimpi yang entah bagaimana. Gadisnya sekarang sepertinya sedang bermimpi buruk, Daera terus-terusan menampilkan ekspresi ketakutan sejak 5 menit lalu.

Changbin menyelipkan tangannya kebawah punggung Daera sampai tangannya kembali keluar, ia menarik tubuh Daera perlahan menaruhnya kedalam dekapannya.

Tangan satunya mengelus pelan rambut Daera berharap gadis ini lebih tenang dimimpinya.

"Aku tahu kau bukan noona ku. Tapi, kalau memang aku tak bisa bertemu dengan noona ku. Kumohon jadilah penggantinya, Daera noona."

Changbin memang berharap noonanya kembali, tapi bagaimanapun ia telah meninggalkan noonanya itu selama kurang lebih 13 tahun-an. Mungkin saja noonanya sudah memiliki pria yang lebih baik dari Changbin. Atau kemungkinan terburuk ialah, noonanya telah tiada.

°°°

"Kau serius ingin pergi?" tanya Changbin pada Daera dihadapannya. Gadis itu mengangguk antusias.

Rasanya ada sebagian dari tubuh Changbin yang ingin pergi.

Pagi ini, Daera mengatakan ingin menginap selama seminggu dirumahnya. Alasannya? Dia merindukan Eomma dan oppa-oppanya yang sekarang sedang di rumah Eommanya.

Semuanya sudah siap, Daera dan Changbin tengah menghabiskan sarapan mereka. Tak ada yang berbicara setelah itu. 10 menit Changbin menghabiskan makanannya, ia menatap koper Daera didekat tangga.

Gadis itu serius ingin pergi selama seminggu.

"Cepatlah, aku akan mengantarmu kesana. Lagipula ada tempat yang sangat ingin aku kunjungi." Changbin mulai berdiri tangannya mengambil kunci mobil di saku jas hitam yang ia gantung didekat sofa, kemudian menarik koper untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil.

"Wahh.. dia benar-benar ingin mengantarku." Daera menatap Changbin sambil menggeleng-geleng tak mengerti dengan cara berpikir pria ini.

°°°

"Sebentar lagi belok kanan." Daera mengarahkan. Changbin hanya menurut dan membelokkan stir sesuai perintah Daera.

Tunggu.. ada yang tak asing. Kebun itu.

Changbin tanpa sadar menginjak rem mobil, Daera yang sebelumnya sibuk mengarahkan dan akhirnya menyadari Changbin mengabaikannya segera menengok.

Daera menatap heran Changbin. Mata Daera ikut mengarah pada hal yang Changbin lihat.

"Mengapa kau melihat ke kebun Eommaku dengan seperti itu?"

Changbin terkejut, "Kebun eomma-mu?"

°°°

Hayoo ada yang penasaran ga??

//Ga!!//

Oke makasih banyak readers tercintah

Oh ya, fya ga jadi bikin sequel ataupun ff komedi.

Mungkin kalo sequelnya masih fya pertimbangin, tapi kalo ff komedi fya angkat tangan.

Ga ada ide soalnya. Bikos hidup fya selalu receh, dan fya takut kalian ga bisa ketawa pas baca ff komedi itu.

Oke sekian dan dan terima kasih.

Luv u all❤

AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang